Minggu, 23 Juni 2019 - Redaksi Kesan | Artikel

Tahukah Kamu Penerjemah Pernah Digaji 330 Juta per Bulan?

Betul sekali, kamu tidak salah baca. Ini pernah terjadi di era Dinasti Abbasiyah, terutama di era pemerintahan Khalifah Al-Ma’mun yang berkuasa mulai 813-833 M di Baghdad. Menggiatkan Gerakan Terjemahan (Translation Movement) yang dimulai oleh para pendahulunya, Khalifah Al-Ma’mun semakin aktif mencari buku-buku dari seluruh penjuru mata angin untuk kemudian dikumpulkan, diterjemahkan, dan ditempatkan di Baitul Hikmah (semacam perpustakaan negara).

Memiliki banyak buku tentu akan mendatangkan keuntungan praktis. Buku tentang kedokteran, misalnya, dapat menyelamatkan pasien, buku tentang matematika dapat membantu mempermudah administrasi negara, dan buku tentang perang dapat membantu jenderal menyiapkan taktik yang lebih efektik di medan perang. Namun demikian, Khalifah Al-Ma’mun tidak hanya tertarik dengan ilmu-ilmu yang bersifat praktis, ia juga begitu penasaran dengan ilmu-ilmu esoterik dan abstrak lainnya.

Konon saking semangatnya Khalifah Al-Ma’mun dalam mengumpulkan berbagai macam buku, ia tak ragu memberikan emas seberat buku yang belum ia miliki kepada siapa pun yang dapat membawa (atau menerjemahkan) buku baru tersebut. Dikatakan pula ia pernah mengirim rombongan 100 unta untuk mengangkut ribuan buku dari Khurasan ke Baghdad. Lambat laun, ribuan—bahkan puluhan ribu—buku yang berasal dari bahasa Persia, Ibrani, Aram, Suryani, Yunani, Latin hingga Sansekerta semakin memadati Baitul Hikmah.

Buku astronomi berjudul Almageste karya Ptolemaeus adalah salah satu buku penting yang ditermahkan dari bahasa Yunani ke bahasa Arab sekitar tahun 820-an. Khalifah Al-Ma’mun sendiri dikenal gemar membaca buku terkait perbintangan. Nashkah di atas disalin ke dalam tulisan Afrika Utara. 

Ahli bibliografi Ibnu Al-Nadim menceritakan bahwa Khalifah Al-Ma’mun mempunyai ratusan penerjemah yang bertugas menerjemahkan buku-buku dari berbagai bahasa ke bahasa Arab. Ibnu Al-Nadim mencatat 70 penerjemah utama yang terdiri dari berbagai macam latar belakang bangsa dan agama, dan setiap penerjemah bisa mendapat gaji hingga 500 Dinar emas atau senilai Rp. 330 juta per bulan. Itu “baru” gaji penerjemah, kalau cendikiawan atau ilmuwan lain lagi.

Sebagai pembanding, gaji penerjemah di Indonesia menurut Indeed.com dan gajimu.com berkisar Rp. 5-10 juta per bulan. Menjadi penerjemah atau ahli bahasa di luar negeri, misalnya, untuk Federal Bureau of Investigation (FBI) dengan Top Secret Clearance (Sertifkat Keterangan Keamanan), yang dapat mendongkrak gaji pun tidak sampai 330 juta per bulan. Menurut USA Jobs, gaji penerjemah di FBI (lihat gambar bawah) paling tinggi 90 juta per bulan, itu pun belum dipotong pajak. Gaji ilmuwan beken seperti Stephen Hawking kala mengajar di Universitas Cambridge, Inggris, juga ditaksir tidak sampai mencapai Rp. 300 juta per bulan--menurut sebuah artikel di majalahnya para mahasiswa Universitas Cambridge, Varsity. Tapi tentu Stephen Hawking kaya bukan karena gajinya sebagai profesor tapi lebih karena buku-bukunya yang bestseller dan honor dia di berbagai film sains dokumenter. 

Gaji penerjemah dan ahli bahasa di FBI mencapai 90 juta per bulan. 

Terlepas dari beberapa kontroversi menyangkut Khalifah Al-Ma’mun, Baghdad pada eranya betul-betul menjadi kota 1001 buku. Dan karenanya, para ilmuwan dan penerjemah mendapat posisi yang tinggi sehingga mereka diberikan gaji yang fantastis—bahkan jauh melampaui kolega mereka yang hidup di zaman now

Referensi: Al-Khalili, Jim. The House of Wisdom: How Arabic Science Saved Ancient Knowledge and Gave Us the Renaissance. Penguin Books, 2012; Al-Khalili, Jim, director. Science And Islam. Science And Islam, 2009.

Sumber foto: muslimheritage.com, usajobs.com,

###

* "Tahukah Kamu” adalah artikel-artikel singkat dan ringan yang menceritakan fakta, trivia, dan cerita dalam dunia Islam baik klasik maupun kontemporer. “Tahukah Kamu” terbit setidaknya 1 kali setiap minggu hanya di KESAN.

*Tahu fakta, trivia, dan cerita menarik dalam dunia Islam klasik maupun kontemporer? Silakan kirim ke KESAN? Tunggu apa lagi? Sebab berbagi ilmu itu bukan hanya indah, tetapi juga berpahala. Kirim artikelmu ke salam@kesan.id.