Selasa, 06 Agustus 2019 - Redaksi Kesan | Artikel

Memahami Kurban

Idul Adha disebut juga Hari Raya Kurban dikarenakan pada hari inilah syariat kurban dilaksanakan. Kurban dalam bahasa Arab disebut dengan udlhiyah. Secara bahasa udlhiyah adalah nama bagi hewan ternak yang dipersembahkan untuk ritual kurban. 

Sedangkan dalam terminologi fiqh udlhiyah adalah hewan ternak yang disembelih pada waktu Hari Raya Idul Adha (tanggal 10 Dzulhijjah) dan hari-hari tasyriq (tangal 11, 12, 13 Dzulhijjah) sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah Swt. 

Konon penamaan hari tasyriq juga terkait dengan ihwal kurban. Disebut tasyriq karena pada hari-hari tersebut daging hewan kurban dibuat dendeng dengan tujuan agar awet.

Dasar syariat kurban dapat dirujuk dalam ayat Alquran: 

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ.

Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah” (QS. Al-Kautsar: 2). 

Menurut Tafsir Al-Jalalain, ayat di atas mengacu pada shalat Idul Adha dan sembelihan kurban pada hari itu. 

Sejarah mencatat, disyariatkannya kurban terjadi pada tahun kedua Hijriah sebagaimana zakat dan shalat dua hari raya (‘idain). 

Selain ayat di atas terdapat beberapa hadis yang dapat dijadikan rujukan dalam ibadah kurban. 

مَنْ ذَبَحَ قَبْلَ الصَّلاَةِ فَإِنَّمَا ذَبَحَ لِنَفْسِهِ، وَمَنْ ذَبَحَ بَعْدَ الصَّلاَةِ فَقَدْ تَمَّ نُسُكُهُ، وَأَصَابَ سُنَّةَ الْمُسْلِمِينَ

Barang siapa yang menyembelih sebelum shalat Ied maka sesungguhnya dia telah menyembelih untuk dirinya sendiri.  Dan barang siapa yang menyembelih sesudah shalat Ied maka kurbannya sempurna dan dia telah mengikuti sunnahnya kaum muslim (HR. Bukhari no. 5546). 

مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحِّ فَلاَ يَقْرَبَنَّ مُصَلاَّنَا

Barang siapa mendapatkan kelapangan (rezeki) tetapi tidak berkurban, maka janganlah dia mendekati tempat shalat kami (HR. Ibnu Majah no. 3123).  

Ada juga hadis riwayat At-Tirmidzi dan Ibnu Majah berikut ini: 

مَا عَمِلَ آدَمِىٌّ مِنْ عَمَلٍ يَوْمَ النَّحْرِ أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ مِنْ إِهْرَاقِ الدَّمِ إِنَّهَا لَتَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَشْعَارِهَا وَأَظْلاَفِهَا وَإِنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنَ اللَّهِ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ مِنَ الأَرْضِ فَطِيبُوا بِهَا نَفْسًا. 

Tidak ada perbuatan anak Adam pada hari Nahr yang lebih dicintai oleh Allah dari pada mengalirkan darah (menyembelih hewan kurban), sesungguhnya hal tersebut akan datang nanti pada hari kiamat (lengkap) dengan tanduknya, bulu-bulunya, dan kuku-kukunya, dan sesungguhnya darah itu mempunyai tempat tertentu di sisi Allah sebelum jatuh ke tanah, maka lapangkanlah jiwa kalian untuk berkurban (HR. Tirmidzi No. 1493).

Walaupun ada perbedaan pendapat terkait kesahihan hadis terakhir, pesan dari hadis tersebut tidak dapat dinafikan. Bahwa berkurban adalah perbuataan yang sangat baik. Dan tentunya hewan kurban juga harus dipilih dari hewan yang terbaik, bukan yang cacat atau sakit. 

Menurut Mahzab Syafi’i berkurban hukumnya adalah sunnah muakkadah (sangat dianjurkan), dan menjadi wajib ketika disertai dengan nazar. 

Lebih lanjut kalangan Syafi’iyah mengatakan sunnah ‘ain seumur hidup satu kali bagi seseorang yang tinggal sendiri, dan sunnah kifayah bagi mereka yang tinggal serumah atau beberapa rumah dalam satu keluarga, dengan catatan orang yang berkurban adalah penanggungjawab nafkah dalam rumah tesebut. 

Namun, menurut pendapat Abu Hanifah berkurban hukumnya wajib satu kali setiap tahun bagi penduduk setempat (muqimin). 

Setiap syariat yang diundangkan dalam Islam selalu mengandung hikmah dan pelajaran yang menyertai syariat tersebut. Selain sebagai bentuk napak tilas Nabi Ibrahim, kurban disyariatkan dalam bingkai mensyukuri nikmat Allah yang tak terhingga, mensyukuri eksistensi dan keberlangsungan hidup manusia dari tahun ke tahun, bahwa sampai detik ini kita masih diberi anugerah umur panjang dalam keadaan sehat jasmani dan rohani. 

Ibadah kurban juga berfungsi sebagai bentuk tebusan atas perbuatan-perbuatan jelek yang telah diperbuat oleh seorang hamba terhadap penciptanya. Dalam perjalanan hidup tentu seorang hamba pernah melakukan apa yang dilarang oleh Allah dan tentunya juga pernah melanggar perintah-Nya. Melalui ibadah, termasuk ibadah kurban, diharapkan menjadi tebusan-tebusan atas kealpaan dan kekhilafan selama menghamba kepada Sang Khalik. (Hud

Wallahu a’lam.

Referensi: Ibrahim al-Baijuri, Hasyiyah al-Bajuri, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1999. Wahbah al-Zuhailiy, Al-Fiqh al-Islamiy wa Adillatuh, Beirut: Dar al-Fikr, tt. 

###

Ingin menulis untuk Kesan dan berbagi ilmu yang berguna? Tunggu apa lagi? Sebab berbagi ilmu itu bukan hanya indah, tetapi juga berpahala. Kirim artikelmu ke salam@kesan.id.