Rabu, 07 Agustus 2019 - Redaksi Kesan | Artikel

Mengenal Tawaf

Oleh: Shamsi Ali, Imam Islamic Cultural Center (ICC) di New York, Pembimbing Haji Nusantara USA

Rukun kedua dari haji adalah Tawaf. Tawaf artinya keliling. Yaitu mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali dengan niat ibadah karena Allah SWT. Hal ini diperintahkan dalam Al-Quran: 

وَلْيَطَّوَّفُوْا بِالْبَيْتِ الْعَتِيْقِ

Dan hendaklah mereka melakukan tawaf sekeliling rumah tua (Baitullah) itu (QS. Hajj:29). 

Walaupun cara melakukannya sama semua, sebenarnya ada beberapa macam tawaf. Perbedaannya ditentukan oleh tujuan atau niat melakukannya. 

Ada yang disebut Tawaf Qudum atau Tawaf Selamat Datang bagi yang melakukan Haji Ifrad. Tawaf yang dilakukan pertama kali memasuki Masjidil Haram. Bukan untuk tujuan umrah. Bukan pula untuk haji. Tapi sekadar Tawaf Selamat Datang ke Tanah Haram. 

Ada tawaf-tawaf sunnah biasa. Perlu diketahui bahwa Masjidil Haram itu memiliki beberapa pengecualian. Salah satu di antaranya adalah jika di masjid-masjid lain jika masuk di dalamnya disunnahkan shalat Tahiyatul Masjid (penghormatan kepada masjid), maka di Masjidil Haram bukan shalat. Tapi melakukan Tawaf sebagai pengganti Tahiyatul Masjid. 

Tawaf-tawaf sunnah juga bisa dilakukan kapan saja jika memungkinkan dan ada waktu untuk itu. Setelah shalat-shalat wajib misalnya. Daripada diam dan tidak melakukan ibadah, diganti dengan tawaf sunnah. 

Intinya tawaf sunnah itu dapat dilakukan kapan saja jika berada di Masjidil Haram dan ingin mendapatkan pahala Allah SWT. 

Selanjutnya, tawaf rukun umrah adalah tawaf yang dilakukan dalam rangkaian ibadah umrah.

Sementara itu, tawaf haji yang dikenal dengan sebutan “Tawaf ifadhoh” adalah salah satu dari rukun ibadah haji. Tawaf  Ifadhoh sebagai salah satu rukun haji umumnya dilakukan setelah selesai melempar Jumrah Aqabah. 

Dan yang terakhir adalah Tawaf Wada’. Tawaf yang dilakukan sebagai ungkapan selamat tinggal ini dilakukan di saat akan meninggalkan Tanah Haram kembali ke kampung halaman masing-masing. 

Untuk sahnya tawaf, orang yang tawaf harus dalam keadaan wudhu. Karena sesungguhnya Tawaf itu sama statusnya dengan shalat. Hanya saja ketika tawaf boleh berbicara (yang baik-baik). Sementara ketika shalat tidak diperkenankan berbicara. 

Tujuh Putaran 

Tadi disebutkan bahwa semua macam tawaf dilakukan dengan cara yang sama. Bedanya ada pada niat masing-masing. 

Tawaf dimulai dari sudut Ka’bah di mana Hajar Aswad tertempel. Umumnya sudut ini dikenal sebagai sudut pertama. Tawaf dimulai dengan mencium Hajar Aswad (jika memungkinkan). Atau sekedar mengangkat tangan ke arah Hajar Aswad dan mencium tangan sebagai gantinya. 

Mulailah berjalan sambil membaca doa, zikir, baca Alquran, tasbih, dan lain-lain. Diperbolehkan berbicara tentunya yang baik-baik saja. 

Demikian putaran dilakukan hingga sampai ke sudut keempat, yang dikenal dengan nama “Rukun Yamani”. Antara sudut ini dan sudut pertama (Hajar Aswad) doa yang disunnahkan adalah: 

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Ya Allah, berikanlah kepada Kami kebaikan di dunia, berikan pula kebaikan di akhirat dan lindungilah Kami dari siksa neraka (QS. Al-Baqarah : 201).

Demikian putaran demi putaran dilakukan hingga berakhir pada putaran ketujuh. 

Satu yang ingin saya koreksi dari jamaah haji atau umrah adalah ketika tawaf biasanya berteriak-teriak membaca doa dalam bahasa Arab. Ada dua masalahnya. 

Pertama, khususnya yang non-Arab yang seringkali bacaannya tidak benar. Ketika yang mendengar itu paham bahasa Arab maka pasti akan terasa geli. 

Kedua, tanpa disadari membaca doa atau zikir dengan teriak-tariak itu mengganggu orang lain. 

Karenanya bagi saya, lebih baik membaca doa dengan suara kecil, bahkan dalam hati saja. Jika hafal doa dalam bahasa Arab bagus. Tapi jika tidak, doa itu dalam bahasa apa saja boleh. Toh semua bahasa adalah ciptaan Allah SWT. 

Setelah selesai putaran ketujuh orang yang Tawaf disunnahkan shalat sunnah di belakang Maqam Ibrahim AS. Maqam itu artinya tempat berdiri ketika Ibrahim meninggikan Ka’bah. Bukan kuburannya. 

Pada rakaat pertama dapat membaca Al-Fatihah dan Al-Kafirun. Dan pada rakaat kedua dapat membaca Al-Fatihah dan Al-Ikhlas. 

Setelah shalat dilanjutkan dengan membaca doa, yang disunnahkan di Multazam. Doa di Multazam ini tidak ditolak. Rasulullah ﷺ bersabda, “Multazam adalah tempat dikabulkannya doa. Tak ada satu pun doa seorang hamba di Multazam kecuali akan dikabulkan” (HR. Ahmad).

Multazam itu adalah tempat di antara pintu Ka’bah dan Hajar Aswad. Tapi untuk kembali ke sana berdoa hampir tidak mungkin seking ramainya, khususnya di musim haji. Maka doa cukup dilakukan saja di tempat di mana shalat sunnah tawaf dilakukan. 

Biasanya Tawaf itu diakhiri dengan meminum air Zamzam. Selain memang pasti cukup kehausan karena melakukan Tawaf yang melelahkan, khususnya di musim haji. Juga minum air zamzam merupakan sunnah, syifa (obat), bahkan tujuannya tergantung keinginan yang meminumnya. 

Rasulullah ﷺ bersabda:

‏ مَاءُ زَمْزَمَ لِمَا شُرِبَ لَهُ

Air zamzam itu manfaatnya untuk tujuan apa saja bagi yang meminumnya (HR. Ibnu Majahh no. 3062). 

(Bersambung)....

###

Ingin menulis untuk Kesan dan berbagi ilmu yang berguna? Tunggu apa lagi? Sebab berbagi ilmu itu bukan hanya indah, tetapi juga berpahala. Kirim artikelmu ke salam@kesan.id.