Kamis, 08 Agustus 2019 - Redaksi Kesan | Artikel

Tanya Kiai: Muhrim, Mahram, Mertua

Oleh: Ustaz Abdul Walid, alumnus Ma’had Aly, PP Syalafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo

Pertanyaan:

Ada teman yang bertanya pada saya: Apakah menantu laki-laki sudah dianggap muhrim sebab tinggal serumah dan ini masalahnya dengan menjaga aurat dan cara berpakaian di rumah. Terima kasih. Mohon pencerahannya.

Jawaban: 

Sebelum menjawab pertanyaan ini, marilah kita memahami istilah ‘muhrim’ dan ‘mahram’ terlebih dahulu yang terkadang salah dipahami oleh sebagaian orang. 

Muhrim adalah orang yang sedang melakukan ihram dari miqatnya dalam ibadah haji atau umrah.  Sedangkan mahram adalah istilah untuk menyebut orang-orang yang haram dinikahi dalam konsep pernikahan Islam. 

Oleh karenanya, yang dimaksud dalam pertanyaan di atas sebenarnya adalah mahram bukan muhrim. 

Lalu bagaimana konsep mahram dalam Islam?

Mahram atau orang yang haram dinikahi itu dibagi 3 macam:

  1. Mahram nasab, yaitu  mahram yang disebabkan hubungan tali persaudaraan (nasab keturunan). Mereka adalah [1] ibu (nenek, buyut, eyang dan seterusnya); [2] anak perempuan (cucu perempuan, cicit perempuan, dan seterusnya); [3] saudari kandung (saudari seayah, saudari seibu); [4] bibi (saudarinya  ibu); [5] Bibi (saudarinya bapak); [6] anak perempuan dari saudara (keponakan); [7] anak perempuan dari saudari (keponakan)
  2. Mahram radla’, yaitu mahram yang disebabkan susuan. Mereka adalah [1] perempuan yang menyusui;  [2] saudari susuan (perempuan yang menyusu kepada perempuan yang menyusui kita)
  3. Mahram Mushaharah, yaitu mahram yang disebakan oleh ikatan pernikahan. Mereka adalah [1] ibunya istri (mertua perempuan) dan neneknya istri dan seterusnya; [2] anak perempuannya istri (anak tiri) perempuan ini menjadi mahram dengan catatan bila sudah melakukan hubungan suami-istri dengan ibunya; [3] istrinya anak atau istrinya cucu (menantu); [4] saudarinya istri, tapi sebatas dalam konteks poligini. Artinya, tidak boleh menikahi seorang perempuan dan juga saudarinya. Namun jika sudah bercerai dengan istri,  maka boleh menikahi saudarinya.

Berkaitan dengan pertanyaan di atas, maka kita bisa melihat mahram mushaharah nomor [3] bahwa menantu laki-laki itu mahram dengan ibu mertuanya. 

Di dalam Alquran disebutkan: 

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ اُمَّهٰتُكُمْ وَبَنٰتُكُمْ وَاَخَوٰتُكُمْ وَعَمّٰتُكُمْ وَخٰلٰتُكُمْ وَبَنٰتُ الْاَخِ وَبَنٰتُ الْاُخْتِ وَاُمَّهٰتُكُمُ الّٰتِيْٓ اَرْضَعْنَكُمْ وَاَخَوٰتُكُمْ مِّنَ الرَّضَاعَةِ وَاُمَّهٰتُ نِسَاۤىِٕكُمْ وَرَبَاۤىِٕبُكُمُ الّٰتِيْ فِيْ حُجُوْرِكُمْ مِّنْ نِّسَاۤىِٕكُمُ الّٰتِيْ دَخَلْتُمْ بِهِنَّۖ فَاِنْ لَّمْ تَكُوْنُوْا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ ۖ وَحَلَاۤىِٕلُ اَبْنَاۤىِٕكُمُ الَّذِيْنَ مِنْ اَصْلَابِكُمْۙ وَاَنْ تَجْمَعُوْا بَيْنَ الْاُخْتَيْنِ اِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا

Diharamkan atas kamu (menikahi) ibu-ibumu, anak-anakmu yang perempuan, saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara ayahmu yang perempuan, saudara-saudara ibumu yang perempuan, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan, ibu-ibumu yang menyusui kamu, saudara-saudara perempuanmu sesusuan, ibu-ibu istrimu (mertua), anak-anak perempuan dari istrimu (anak tiri) yang dalam pemeliharaanmu dari istri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan istrimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu (menikahinya), (dan diharamkan bagimu) istri-istri anak kandungmu (menantu), dan (diharamkan) mengumpulkan (dalam pernikahan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang (QS. An-Nisa’: 23) 

Semoga konsep mahram sudah cukup jelas. Lantas bagaimana konsep melihat aurat dalam Islam?

Jika seorang laki-laki:

  1. Melihat tubuh perempuan yang bukan mahramnya tanpa dilandasi kebutuhan saat melihatnya, maka hukumnya haram
  2. Melihat istrinya, hukumnya boleh melihat keseluruh anggota tubuhnya selain kemaluannya. Suami melihat kemaluan istri hukumnya makruh tanpa ada kepentingan. Bila ada kepentingan hukumnya boleh melihat kemaluan istri
  3. Melihat perempuan yang memiliki ikatan mahram, baik mahram nasab, radla’ ataupun mushaharah, hukumnya boleh melihat secara santun, tidak bernafsu pada anggota tubuh selain tubuh antara pusar dan lutut. Melihat anggota tubuh perempuan mahram antara pusar dan lutut hukumnya haram
  4. Melihat calon istrinya, hukumnya boleh melihat wajah dan telapak tangannya saja
  5. Melihat perempuan bukan mahramnya dengan tujuan medis. Hukumnya boleh melihat anggota tubuh yang dibutuhkan.
  6. Melihat perempuan dengan tujuan melakukan transaksi, hukumnya boleh melihat wajahnya saja

Nah, terkait pertanyaan di atas, maka sudah sepantasnya baik mertua dan menantu berpakaian sepantasnya dan merujuk pada poin nomor 3. Menantu laki-laki mempunyai kewajiban untuk menjaga pandangan, sementara mertua perempuan juga hendaknya menjaga aurat. 

Wallahu a’lam bish-shawabi

Referensi: KH. Afifuddin Muhajir, Fathul Mujib Al-Qarib, hal 101-104

###

* Punya pertanyaan terkait Islam? Jangan ragu mengirimkannya kepada kami. InsyaAllah akan kami teruskan kepada para ustaz dan kiai untuk dicarikan jawabannya.