Berita KESAN

  • Redaksi Kesan
  • Artikel
  • Selasa, 28 September 2021

3 Cara Menjadi Ahli Al-Qur’an ala Sahabat

Ahli Al-Qur’an adalah orang yang senantiasa menyibukkan diri dengan Al-Qur’an. Ahli Al-Qur’an mendapatkan kemuliaan yang luar biasa di hari Kiamat. Rasulullah ﷺ bersabda:

يَجِيءُ الْقُرْآنُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيَقُولُ يَا رَبِّ حَلِّهِ فَيُلْبَسَ تَاجَ الْكَرَامَةِ ثُمَّ يَقُولُ يَا رَبِّ زِدْهُ فَيُلْبَسَ حُلَّةَ الْكَرَامَةِ ثُمَّ يَقُولُ يَا رَبِّ ارْضَ عَنْهُ فَيَرْضَى عَنْهُ فَيُقَالُ لَهُ اقْرَأْ وَارْقَ وَيُزَادُ بِكُلِّ آيَةٍ حَسَنَةً 

Pada hari kiamat, Al-Qur’an akan datang kemudian berkata, “Wahai Rabb berilah dia pakaian.” Maka dipakaikanlah kepadanya mahkota kemuliaan. Kemudian ia berkata lagi, “Wahai Rabb, tambahkanlah kepadanya.” Maka dipakaikan kepadanya pakaian kemuliaan. Kemudian ia berkata lagi, “Wahai Rabb ridhailah dia.” Akhirnya dia pun diridhai. Kemudian dikatakan kepada ahli Al-Qur’an, “Bacalah dan naiklah, niscaya akan ditambahkan kepadamu satu pahala kebaikan pada setiap ayat.” (HR. Tirmidzi no. 2915).

Berdasarkan hadis di atas, ada setidaknya empat kemuliaan yang Allah berikan kepada ahli Al-Qur’an:

1. Mendapat mahkota kemuliaan.

2. Mendapat jubah kemuliaan.

3. Mendapat ridha Allah.

4. Mendapat kebaikan pada setiap ayat yang dibaca.

Para sahabat Rasulullah mempunyai cara masing-masing dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an. Berikut adalah bentuk-bentuk interaksi sahabat dengan Al-Qur’an yang menjadikan mereka ahli-ahli Al-Qur’an yang memperoleh keberuntungan di akhirat:

1. Senang membaca Al-Qur’an

Sayyidah Aisyah ra. pernah bercerita kepada seorang tabiin perempuan bernama ‘Amrah binti Abdurrahman tentang seorang pemimpin pasukan di masa Rasulullah . Sebagai pemimpin pasukan, ia selalu memimpin shalat berjamaah. Sahabat itu selalu mengakhiri shalatnya dengan membaca surat Al-Ikhlas.

Para sahabat heran dengan rutinitas pemimpin mereka yang tak pernah meninggalkan surat Al-Ikhlas. Mereka mengadukan hal tersebut kepada Rasulullah . Mendengar cerita mereka, Rasulullah berkata, “Tanyakanlah padanya mengapa ia selalu membaca surat itu.”

Para sahabat akhirnya bertanya kepadanya, lalu pemimpin pasukan itu menjawab, “Surat Al-Ikhlas ini mengandung sifat-sifat Allah yang Maha Pengasih, oleh karena itu saya senang membacanya.”

Mendengar jawaban itu, Rasulullah ﷺ lalu berkata, “Kabarkanlah padanya bahwa Allah mencintainya.” (HR. Muslim no. 813).

Perilaku sahabat ini menunjukkan bahwa ia mencintai Al-Qur’an, terutama surat Al-Ikhlas. Kecintaan ini muncul dari kecintaannya kepada Allah. Karena ia mencintai Allah dan membuktikannya dengan selalu membaca Al-Ikhlas, Allah pun mencintainya.

Perbuatan sahabat ini banyak dicontoh oleh ulama-ulama setelahnya. Sebut saja Imam Syafii yang berusaha menamatkan Al-Qur’an satu kali sehari dan dua kali selama bulan Ramadhan.

Sahabat Abu Usaid Al-Anshari ra. juga terbiasa membaca surat Al-Baqarah sebelum tidur. Suatu hari ia tertidur sebelum membaca surat itu. Tiba-tiba ia terbangun karena bermimpi seekor sapi menyeruduknya, seolah-olah surat Al-Baqarah mengingatkan Abu Usaid bahwa dia belum membacanya hari ini.

2. Senang mengkaji Al-Qur’an

Cara lainnya untuk menjadi ahli Al-Qur’an adalah senang mengkaji kandungan Al-Qur’an dan mengamalkannya dalam kehidupan. Jika pada cara pertama para sahabat fokus membaca banyak ayat Al-Qur’an, maka pada metode ini sahabat tidak membaca banyak ayat, tetapi mengkaji setiap ayat yang dibaca dan mendalaminya. Lalu mereka mengamalkan kandungannya dalam kehidupan.

Seorang tabiin, Abu Abdirrahman As-Sulami bercerita tentang para sahabat Rasulullah yang tidak terburu-buru dalam belajar Al-Qur’an. Para sahabat terbiasa belajar sepuluh ayat dari Al-Qur’an pada setiap majelis. 

Mereka tidak akan pindah ke ayat berikutnya hingga mereka selesai mempelajari ayat tersebut baik kandungannya dan cara mengamalkannya. Jika mereka telah berhasil mengamalkannya, barulah mereka pindah ke ayat berikutnya (HR. Ahmad no. 22384).

Cara Rasulullah mengajarkan Al-Qur’an ini dipraktekkan kembali oleh para sahabat kepada murid-murid mereka. Sehingga para tabiin juga mempelajari Al-Qur’an hingga paham isinya dan dapat mempraktekkannya.

3. Berusaha menghafal dan mengamalkannya sepanjang hidup

Orang yang berusaha menghafal, lalu berusaha mengamalkannya seumur hidupnya disebut dengan hamil Al-Qur’an. Seperti seorang ibu, hamil Al-Qur’an berusaha mengandung Al-Qur’an dalam dirinya dan mencintai Al-Qur’an dengan sepenuh hatinya.

Hamil Al-Qur’an juga berusaha menjaga agar hafalannya tidak hilang, baik karena maksiat atau pun kurangnya muraja’ah (mengulang-ulang hafalan). Tidak hanya itu, seorang hamil Al-Qur’an juga berusaha mengamalkan kandungan Al-Qur’an yang telah dihafal. 

Dengan demikian, hamil Al-Qur’an adalah gabungan dari dua metode sebelumnya. Karena menghafal tidak mungkin dilakukan tanpa membaca. Dan mengamalkannya tidak mungkin dilakukan tanpa mengkaji Al-Qur’an.

Al-Qur’an bisa terjaga sampai sekarang salah satunya karena para sahabat yang menghafal Al-Qur’an dari generasi pertama, dan diteruskan kepada generasi-generasi berikutnya.

Sahabat KESAN yang budiman, menjadi ahli Al-Qur’an tidak akan membuat kita rugi. Rasulullah bersabda:

الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ

Setiap manusia akan dikumpulkan bersama orang yang dicintainya (HR. Bukhari no. 6168).

Jika kita mencintai Al-Qur’an, maka kita akan bertemu dengan Al-Qur’an, dan dengannya Allah akan menolong kita di akhirat. Sebagaimana sabda Rasulullah :

اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لأَصْحَابِهِ

Bacalah Al-Qur`an, karena ia akan datang memberi syafaat kepada para pembacanya pada hari kiamat nanti (HR. Muslim no. 804).

Menjadi ahli Al-Qur’an juga menjadikan kita bagian dari Ahlullah wa Khassatuhu (keluarga Allah dan manusia keistimewaan-Nya) (HR. Ahmad no. 6168).

Mari kita ikuti jalur Rasulullah dan sahabat dalam interaksi mereka dengan Al-Qur’an. Kita dapat memilih cara yang mana saja sesuai kemampuan kita, sehingga kita dapat meraih cinta Allah, menjadi umat terbaik, dan dapat berjumpa dengan-Nya di akhirat kelak. Karena Allah telah memilih kita di antara hamba-hamba-Nya sebagai pengamal ajaran yang agung ini (QS. Fathir [35]: 32).

###

*Jika artikel di aplikasi KESAN dirasa bermanfaat, jangan lupa share ya. Semoga dapat menjadi amal jariyah bagi kita semua. Aamiin. Download atau update aplikasi KESAN di Android dan di iOS. Gratis, lengkap, dan bebas iklan.

**Ingin menulis untuk KESAN dan berbagi ilmu yang berguna? Tunggu apa lagi? Sebab berbagi ilmu itu bukan hanya indah, tetapi juga berpahala. Kirim artikelmu ke salam@kesan.id.

Bagikan artikel ini

Berita terkait