Berita KESAN

  • Redaksi Kesan
  • Artikel
  • Senin, 24 Januari 2022

3 Renungan yang Membuatmu Menangis

Rasulullah ﷺ pernah berkata, “Jika kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan lebih banyak menangis daripada tertawa.” (HR. Bukhari no. 74).

Para sahabat sebagai generasi terbaik umat Nabi Muhammad mengisahkan hal-hal yang membuat mereka bersedih hingga menangis. Salah satunya adalah ungkapan Sahabat Salman Al-Farisi ra.:

وَأَبْكَانِي ثَلَاثٌ: فِرَاقُ الْأَحِبَّةِ مُحَمَّدٍ وَحِزْبِهِ، وَهَوْلُ الْمَطْلَعِ عِنْدَ غَمَرَاتِ الْمَوْتِ، وَالْوُقُوفُ بَيْنَ يَدَيْ رَبِّ الْعَالَمِينَ حِينَ لَا أَدْرِي إِلَى النَّارِ انْصِرَافِي أَمْ إِلَى الْجَنَّةِ

Ada tiga hal yang membuatku menangis: berpisah dengan orang-orang yang aku cintai, yaitu Nabi Muhammad dan sahabat-sahabatnya, dahsyatnya sakaratul maut, dan berdiri di hadapan Rabb seluruh alam saat aku tidak tahu akan masuk neraka atau surga.

1. Berpisah dengan orang yang dicintai

Rasulullah membangun persaudaraan di antara para sahabat atas dasar iman kepada Allah. Berkat persaudaraan yang dibangun dalam iman, Allah mempersatukan hati para sahabat. Allah berfirman:

لَوْاَنْفَقْتَ مَا فِى الْاَرْضِ جَمِيْعًا مَّآ اَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ اَلَّفَ بَيْنَهُمْۗ اِنَّهٗ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ

Seandainya engkau (Nabi Muhammad) menginfakkan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya engkau tidak dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Mahaperkasa lagi Mahabijaksana (QS. Al-Anfal [8]: 63).

Semua orang akan sedih saat orang yang mereka cintai pergi. Saat Rasulullah wafat, seluruh sahabat berduka. Semua itu karena cinta yang dibangun di atas keimanan yang Allah tautkan di hati mereka.

Sebagai umat Rasulullah , kita tentu merindukannya walaupun belum pernah melihat Rasulullah secara langsung. Ini terjadi karena cinta Rasulullah kepada umatnya, sehingga Allah menitipkan rindu kepada beliau di hati kita.

Apa yang dapat kita usahakan untuk membalas cinta Rasulullah kepada kita? Salah satunya dengan shalawat, karena Rasulullah berjanji menjawab semua shalawat dan salam yang kita kirimkan kepadanya.

Selain itu, cinta kepada Rasulullah dapat kita wujudkan dengan mengikuti ajaran beliau yang terdapat dalam Al-Qur’an dan sunnah-sunnahnya. Dengan mengamalkan ajaran Rasulullah , mudah-mudahan Allah memperkenankan kita untuk berjumpa dengan beliau .

2. Kedahsyatan sakaratul maut

Sakaratul maut adalah peristiwa yang akan dialami setiap hamba sebelum wafat. Rasulullah telah mewanti-wanti umatnya akan sukar dan pedihnya sakaratul maut. Oleh karena itu, beliau melarang umatnya untuk berharap mati. Rasulullah bersabda:

لَا تَمَنَّوُا الْمَوْتَ فَإِنَّ هَوْلَ الْمُطَّلَعِ شَدِيدٌ 

Janganlah kalian berangan-angan untuk mati, karena sungguh sakaratul maut itu sangat sulit (HR. Ahmad no. 26363, Imam Al-Mundziri menilai hadis ini hasan).

Sahabat Umar bin Khattab ra. di akhir hayatnya berkata kepada orang-orang di sekeliling beliau, “Jika aku memiliki apapun dari harta dunia, akan aku gunakan untuk menebus rasa sakit sakaratul maut ini.”

Semua manusia pasti wafat. Selama masih berkesempatan hidup, tugas kita adalah bersiap-siap sebaik mungkin untuk menghadapi hari itu. Rasulullah mengajarkan doa agar Allah membantu kita menghadapi sakaratul maut:

اللَّـهُمَّ أَعِنِّي عَلَى غَمَرَاتِ الْمَوْتِ

Ya Allah, tolonglah aku menghadapi sakaratul maut (HR. Tirmidzi no. 978).

Masa hidup yang masih Allah berikan untuk kita adalah untuk mengumpulkan bekal akhirat, mudah-mudahan Allah menetapkan kita sebagai salah satu hambanya yang husnul khatimah.

3. Menjadi penghuni surga atau penghuni neraka?

Keseimbangan iman seorang hamba dapat terus terjaga selama ia memiliki rasa takut (khauf) dan harap (raja’) kepada Allah, yaitu takut akan azab-Nya, dan harapan untuk mendapat ridha-Nya.

Rasulullah menegaskan bahwa jika umat beliau mengetahui pedihnya azab neraka dan hukuman Allah bagi pendosa, tentu mereka akan lebih banyak menangis.

Para sahabat banyak menangis saat mengingat dosa-dosa yang pernah mereka lakukan semasa Jahiliyah dahulu. Umar bin Khattab di penghujung shalatnya mengucapkan salam ke kanan sambil tersenyum, lalu menoleh ke kiri sambil menangis karena teringat dosa-dosanya.

Begitulah para sahabat memelihara rasa takut yang positif di dalam hati mereka. Rasa takut yang tidak menjauhkan, justru mendekatkan diri kepada Allah.

Banyak menangis untuk hal ini menjaga hati tetap hidup, dan senantiasa menyadarkan kita untuk terus berusaha mendapatkan ridha Allah.

Jalan yang dapat kita tempuh untuk meraih ridha-Nya adalah dengan mengikuti petunjuk Allah dan banyak berdoa untuk kebaikan akhirat, misalnya dengan doa berikut:

اللَّـهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ

Ya Allah, aku memohon kepada-Mu surga dan berlindung kepada-Mu dari api neraka (HR. Abu Dawud no. 792).

Sahabat KESAN, jika kita merasa sedih saat merenungkan tiga perkara di atas, maka kita patut bersyukur karena Allah masih menitipkan cahaya iman di dalam hati kita. Iman itulah yang telah membuat kita merindukan Rasulullah , mengingatkan kita akan sakaratul maut, dan menyadarkan kita bahwa ada kehidupan setelah mati yang harus kita siapkan bekalnya.

Dengan merenungkan tiga hal di atas, semoga Allah mencatatnya sebagai amal kebaikan dan membangkitkan tekad dalam diri kita untuk menjadi hamba Allah yang lebih baik. Aamiin.

Referensi: Abu Nu’aim Al-Asfahani; Hilyat Al-Auliya’ wa Thabaqat Al-Ashfiya’.

Copyright © KESAN

Penulis: Rif’atul Mahmudah

Editor: Agus Ghulam Ahmad

###

*Suka dengan artikel ini? Ayo bagikan ke lebih banyak orang untuk menyebarkan manfaatnya. Semoga menjadi amal jariyah bagi kita semua.

**Jangan lupa download atau update aplikasi KESAN di Android dan di iOS. Gratis, lengkap, dan bebas iklan.

***Jika punya tulisan menarik, silakan kirim tulisanmu ke salam@kesan.id. Akan kami kabari jika bagus untuk dimuat!

Bagikan artikel ini