Berita KESAN

  • Redaksi Kesan
  • Artikel
  • Senin, 24 Januari 2022

3 Renungan yang Membuatmu Tertawa

Dalam hidup ini banyak hal yang membuat kita tertawa, tetapi Rasulullah mengingatkan kita agar tidak berlebihan, beliau bersabda:

وَلاَ تُكْثِرِ الضَّحِكَ فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ

Jangan banyak tertawa, karena itu akan mematikan hati (HR. Tirmidzi no. 2305).

Kita harus merenungi pesan di atas agar tidak tertawa melebihi batas atau bercanda keterlaluan. Ada baiknya juga kita memilih alasan yang tepat untuk tertawa. Sahabat Salman Al-Farisi ra. pernah menyebutkan tiga hal yang membuatnya tertawa dalam hidup:

ضَحِكْتُ مِنْ مُؤَمَّلِ الدُّنْيَا وَالْمَوْتُ يَطْلُبُهُ، وَغَافِلٍ لَا يُغْفَلُ عَنْهُ، وَضَاحِكٍ مِلْءَ فِيهِ لَا يَدْرِي أَمُسْخِطٌ رَبَّهُ أَمْ مُرْضِيه

Aku tertawa sebab: orang yang mengejar dunia, sedangkan kematian mengintainya. Orang yang lalai, sedangkan ia takkan dilalaikan dari hisab. Dan orang yang terus tertawa, sedangkan ia tidak tahu Tuhannya murka atau ridha kepadanya.

1. Orang yang mengejar dunia padahal kematian mengintainya

Banyak orang terlalu terikat dengan kehidupannya, dan melupakan bahwa semua yang ada di dunia hanya sementara. Di hari-hari terakhir menjelang wafatnya, Rasulullah sempat berwasiat kepada para sahabat:

وَإِنِّي لَسْتُ أَخْشَى عَلَيْكُمْ أَنْ تُشْرِكُوا، وَلَكِنِّي أَخْشَى عَلَيْكُمُ الدُّنْيَا أَنْ تَنَافَسُوهَا

Sesungguhnya aku bukannya takut kalian akan syirik, tetapi aku takut kalian akan berlomba-lomba mengejar dunia (HR. Bukhari no. 4042).

Di antara banyak hal yang tidak pasti di dunia, hanya satu kepastian yang akan mendatangi kita, yaitu kematian

Salman Al-Farisi menganggap itu hal yang lucu, jika seseorang tahu dia akan mati, dan bukannya menyiapkan bekal untuk kehidupannya di akhirat, tetapi sibuk mengumpulkan materi duniawi yang tak akan dibawa mati.

2. Orang yang lalai padahal akan dihisab

Kita selalu dalam pengawasan Allah, tetapi sering kali kita lupa sedang diawasi oleh-Nya. Ketika sendirian atau di tengah kerumunan orang asing, kita mungkin menganggap diri kita bebas dari pengawasan, sehingga bebas melanggar aturan-aturan.

Padahal, salah satu Asmaul Husna yang disandang Allah adalah Ar-Raqib, Yang Maha Mengawasi. Allah berfirman:

وَكَانَ اللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ رَّقِيْبًا

Allah Maha Mengawasi segala sesuatu (QS. Al-Ahzab [33]: 52).

Segala sesuatu yang kita perbuat di dunia, bahkan misalnya kita anggap seremeh biji jagung pun, akan diminta pertanggungjawabannya kelak. Bukankah Allah berfirman:

فَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَّرَهٗۚ وَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَّرَهٗ ࣖ

Siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah, dia akan melihat (balasan)-nya. Dan siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah, dia akan melihat (balasan)-nya (QS. Az-Zalzalah [99]: 7-8).

Kita seharusnya menertawakan diri sendiri saat berbuat maksiat, ketika kita merasa aman melakukannya, padahal Allah sedang mengawasi tanpa sepengetahuan kita. 

3. Orang yang terus tertawa padahal tidak tahu akan ridha Tuhannya

Hal terakhir yang membuat Salman Al-Farisi tertawa adalah melihat orang lain terus tertawa, tanpa mengetahui perbuatannya akan mendapat ridha dari Allah atau malah dimurkai-Nya.

Sebagaimana juga disampaikan oleh Imam Al-Mawardi dalam kitab Adab Ad-Dunya wa Ad-Din:

وَأَمَّا الضَّحِكُ فَإِنَّ اعْتِيَادَهُ شَاغِلٌ عَنْ النَّظَرِ فِي الْأُمُورِ الْمُهِمَّةِ، مُذْهِلٌ عَنْ الْفِكْرِ فِي النَّوَائِبِ الْمُلِمَّةِ. وَلَيْسَ لِمَنْ أَكْثَرَ مِنْهُ هَيْبَةٌ وَلَا وَقَارٌ، وَلَا لِمَنْ وُصِمَ بِهِ خَطَرٌ وَلَا مِقْدَارٌ

Apabila seseorang membiasakan dan terlalu banyak tertawa, maka hal itu akan melalaikannya dari melihat hal-hal penting, dan membuatnya lupa untuk memikirkan penderitaan. Orang yang banyak melakukannya tidak akan memiliki wibawa dan kehormatan. Dan orang yang terkenal dengan hal itu tidak akan memiliki kedudukan dan martabat.

Semoga tiga hal tadi bisa menjadi renungan bagi kita agar hidup lebih seimbang, selain hanya bersenda gurau dan tidak menghiraukan apa yang terjadi di sekitar kita. Hidup hanya sekali, semoga menjadi hidup yang berarti. Aamiin.

Referensi: Abu Nu’aim Al-Asfahani; Hilyat Al-Auliya’ wa Thabaqat Al-Ashfiya’.

Copyright © KESAN

Penulis: Agus Ghulam Ahmad

Editor: Rif’atul Mahmudah

###

*Suka dengan artikel ini? Ayo bagikan ke lebih banyak orang untuk menyebarkan manfaatnya. Semoga menjadi amal jariyah bagi kita semua.

**Jangan lupa download atau update aplikasi KESAN di Android dan di iOS. Gratis, lengkap, dan bebas iklan.

***Jika punya tulisan menarik, silakan kirim tulisanmu ke salam@kesan.id. Akan kami kabari jika bagus untuk dimuat!

Bagikan artikel ini