Jumat, 09 Agustus 2019 - Redaksi Kesan | Artikel

Setan pun Tertekan di Hari Itu

Besok hari Sabtu, 10 Agustus 2019, bertepatan dengan hari Arafah (9 Dzulhijjah). Hari Arafah merupakan hari yang istimewa dalam Islam. 

Betapa tidak? Pada hari itu Allah SWT mendekat. Bayangkan Allah, Tuhan Pemilik Semesta Alam, mendekat. Coba kita renungkan sejenak. 

Namun bukan hanya itu saja rupanya. Di hari Arafah, Allah juga mengampuni serta membanggakan hamba-Nya yang berkumpul di Padang Arafah kepada segenap malaikat. 

مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ وَإِنَّهُ لَيَدْنُو ثُمَّ يُبَاهِي بِهِمُ الْمَلاَئِكَةَ فَيَقُولُ مَا أَرَادَ هَؤُلاَءِ

Tidak ada satu hari yang lebih banyak Allah menyelamatkan hamba-Nya dari neraka selain pada hari Arafah. Dan sesungguhnya Allah mendekat, kemudian Dia membanggakan mereka (para hamba-Nya yang sedang berkumpul di Arafah) kepada para malaikat. Dia berfirman, ‘Apa yang diinginkan oleh mereka ini?’ (HR. Muslim no. 1348).  

Ternyata bukan hanya para malaikat saja yang menyaksikan pengampunan Allah di hari itu. Setan pun rupanya menyaksikannya pula, tetapi berbeda dengan para malaikat yang berbahagia. Di hari yang baik itu, Setan merasa begitu rendah dan tertekan. 

مَا رُئِيَ الشَّيْطَانُ يَوْمًا هُوَ فِيهِ أَصْغَرُ وَلاَ أَدْحَرُ وَلاَ أَحْقَرُ وَلاَ أَغْيَظُ مِنْهُ فِي يَوْمِ عَرَفَةَ وَمَا ذَاكَ إِلاَّ لِمَا 

رَأَى مِنْ تَنَزُّلِ الرَّحْمَةِ وَتَجَاوُزِ اللَّهِ عَنِ الذُّنُوبِ الْعِظَامِ إِلاَّ مَا أُرِيَ يَوْمَ بَدْرٍ

Tidak ada hari di mana Setan tampak lebih kerdil, terusir, benci atau marah melebihi di hari Arafah. Tidaklah hal itu terjadi melainkan karena mereka melihat limpahan rahmat dan pengampunan Allah dari dosa-dosa besar. Ini selain yang pernah ditunjukkan kepadanya di Hari Badar (Muwatta Malik no. 254). 

Berdasarkan hadis di atas, kita jadi tahu bahwa ada (setidaknya) dua hari di mana Setan betul-betul merasa tertekan, gagal, dan kesal, yaitu pada hari Perang Badar (yang mana Malaikat Jibril turun membantu umat Islam meraih kemenangan atas kaum kafir Quraish) dan pada hari Arafah. 

Oleh sebab itu, tidaklah aneh bila pada hari Arafah, segenap umat Islam dianjurkan untuk meningkatkan amal ibadahnya. Bagi yang sedang mengerjakan haji, maka hari Arafah merupakan puncak ibadah mereka, dan mereka pun berwukuf di padang Arafah. 

Amalan di Hari Arafah

Lalu bagaimana bagi mereka yang sedang tidak mengerjakan haji? Amalan apa saja yang dapat mereka lakukan? 

Pertama, mereka dapat berpuasa di hari Arafah yang merupakan amalan pelebur dosa. 

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ

Puasa Arafah dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang (HR. Muslim no. 1162).  

Ketika menjelaskan hadis ini,  Imam Nawawi menjelaskan bahwa orang yang berpuasa Arafah berpotensi dosanya diampuni selama dua tahun. Namun yang dimaksud adalah dosa kecil.

Jika seseorang tidak memiliki dosa kecil, diharapkan puasa Arafah menjadi penyebab diringankannya dosa besar yang pernah dia lakukan. Jika tidak memiliki dosa besar, maka semoga puasa Arafah dapat menjadi penyebab naiknya derajat dia. Kurang lebih begitulah pendapat Imam Nawawi. 

Kedua, mereka dapat memperbanyak zikir. Lantas zikir apa yang afdhol dibaca pada hari Arafah? Rasulullah ﷺ bersabda, “Sebaik-baik doa adalah doa di hari Arafah, dan sebaik-baik yang aku ucapkan dan para nabi sebelumku ucapkan adalah”: 

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَ لَهُ الْحَمْدُ وَ هَو عَلَى كُلِّ شَيءٍ قَدِيرٍ

Tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Milik Allah kerajaan dan bagi-Nya pujian. Dia-lah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu (HR. Tirmidzi no. 3585). 

Dalam kitabnya Al-Adzkar, Imam Nawawi juga merekomendasikan sebuah doa yang bersumber dari Ali bin Abi Thalib. Menurut sahabat dan menantu Rasulullah ﷺ itu, doa inilah yang yang paling banyak diucapkan oleh sang Rasul pada hari Arafah: 

اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ كَالَّذِي تَقُولُ وَخَيْرًا مِمَّا نَقُولُ اللَّهُمَّ لَكَ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَاىَ وَمَمَاتِي وَإِلَيْكَ مَآبِي وَلَكَ رَبِّ تُرَاثِي اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَوَسْوَسَةِ الصَّدْرِ وَشَتَاتِ الأَمْرِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا تَجِيءُ بِهِ الرِّيحُ

Ya Allah, hanya bagi-Mu lah segala puji, seperti apa yang kami katakan dan yang lebih baik daripada apa yang kami katakan. Ya Allah, bagi-Mu lah salatku, manasikku, hidup dan matiku, hanya kepada-Mu lah kembaliku, dan hanya milik Engkaulah, wahai Rabbku semua peninggalanku. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, rasa waswas dalam hati dan perkara yang berantakan. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang didatangkan oleh angin (HR. Tirmidzi no. 3520). 

Kesimpulannya, yuk kita manfaatkan kesempatan yang datang hanya sekali dalam setahun ini dengan berpuasa Arafah besok. Selain ganjarannya yang begitu luar biasa (pengampunan dosa selama dua tahun), kapan lagi kita bisa bikin setan depresi? 

Referensi: Al-Minhaj Syarah Shahih Muslim, 8/51, Al-Adzkar hal. 440

###

Ingin menulis untuk Kesan dan berbagi ilmu yang berguna? Tunggu apa lagi? Sebab berbagi ilmu itu bukan hanya indah, tetapi juga berpahala. Kirim artikelmu ke salam@kesan.id.