Minggu, 11 Agustus 2019 - Redaksi Kesan | Islam

Tanya Kiai: Wajibkah Melihat Penyembelihan Kurban?

Oleh: Ustaz Abdul Walid, alumnus Ma’had Aly, PP Syalafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo

Pertanyaan: 

Saya [hari ini] mau kurban, cuma diserahkan ke masjid. Apa yang harus saya lakukan? Apakah saya harus menyaksikan proses penyembelihannya?

Jawaban: 

Dalam literatur kitab fikih klasik menyembelih sendiri kurbannya adalah dianjurkan (hukumnya sunnah). Namun, tidak disembelih sendiri pun juga tidak masalah. Dalam artian berkurbannya sah dan mendapat pahala berkurban. 

Ketika yang berkurban tidak bisa menyembelih sendiri kurbannya, maka ia bisa menyuruh orang lain atau mewakilkan kepada seseorang (semisal panitia) untuk menyembelihnya. 

Mungkin yang dimaksud dalam pertanyaan di atas adalah menyerahkan atau mewakilkan kepada panitia kurban masjid untuk menyembelihnya. Namun ketika orang yang berkurban mewakilkan penyembelihan kurbannya kepada orang lain atau kepada panitia kurban di sebuah masjid, maka dianjurkan (disunnahkan) hadir untuk menyaksikan proses penyembelihan tersebut. 

Satu tambahan lagi, untuk menambah kesunnahan ibadah kurbannya, disarankan mulai sekarang saat ada kehendak untuk berkurban agar tidak mencukur rambut sampai tanggal 13 Dzulhijjah atau sampai proses penyembelihan dan pembagian kurban selesai dilaksanakan. 

قوله: ويسن أن يذبح الرجل بنفسه) أي للاتباع، وهو أنه (ص): ضحى بمائة بدنة، نحر منها بيده الشريفة ثلاثا وستين، وأمر عليا رضي الله عنه فنحر تمام المائة. وخرج بالرجل المرأة، فالسنة لها أن تنيب، رجلا يذبح عنها. ومثلها الخنثى ومن ضعف من الرجال عن الذبح، والاعمى إذ تكره ذبيحته أفاده بجيرمي.(قوله: وأن يشهدها) أي الاضحية، أي ويسن أن يشهد ذبحها من وكل به أي الذبح وذلك لما صح من أمر السيدة فاطمة رضي الله عنها بذلك

Kata-kata yang dicetak tebal “disunnahkan seorang laki-laki yang berkurban menyembelih sendiri hewan kurbannya” alasannya karena mengikuti apa yang telah dipraktekkan oleh Rasulullah ﷺ. Beliau ﷺ pernah berkurban 100 unta gemuk. 63 ekor disembelih dengan tangan beliau yang mulia, sisanya Beliau menyuruh Ali Ibn Abi Thalib untuk menyembelihnya. 

Terkecuali yang berkurban adalah perempuan, banci, atau seorang laki-laki yang memang tidak bisa menyembelih sama sekali, maka sunnah mewakilkan penyembelihannya kepada seorang laki-laki. Sementara itu, bila orang yang berkurban itu adalah lelaki buta, maka juga sunnah hukumnya mewakilkan proses penyembelihannaya kepada seorang laki-laki yang tidak buta. Mengapa demikian? Karena memang orang buta hukumnya makruh melakukan penyembelihan. Demikian yang telah dijelaskan oleh Imam Bujairami. 

Kata-kata “menyaksikan proses penyembelihan” artinya disunnahkan dia menyaksikan proses penyembelihan ketika penyembelihan hewan kurban itu diwakilkan kepada orang lain. 

Hal ini berdasarkan hadis sahih yang isinya perintah Rasulullah ﷺ kepada Sayyidah Fatimah untuk melihat sendiri penyembelihan hewan kurbannya. 

Wallahu a’lam bish-shawabi. Semoga bermanfaat. 

Referensi: Fath al-Muin bi Syarh Qurrah ‘Ain, karya Zainuddin al-Malibariy, hal 63, Lanath al-Thalibin, juz II hal 379, HR. Al-Hakim di al-Mustadrak no. 7525

###

* Punya pertanyaan terkait Islam? Jangan ragu mengirimkannya kepada kami. InsyaAllah akan kami teruskan kepada para ustaz dan kiai untuk dicarikan jawabannya.