Senin, 12 Agustus 2019 - Redaksi Kesan | Artikel

Mengenal Hari Tasyriq

Hari-hari besar dalam agama Islam tidak hanya terbatas pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha saja. Ada juga beberapa hari besar lainnya yang tak kalah penting. 

Salah satunya adalah hari Tasyriq, yang jatuh satu hari setelah hari raya Idul Adha dan berlangsung selama 3 hari, dari tanggal 11 hingga 13 Dzulhijjah (hari ini, Senin, 12 Agustus hingga Rabu, 14 Agustus 2019).

Rasulullah ﷺ bersabda:

يَوْمُ عَرَفَةَ وَيَوْمُ النَّحْرِ وَأَيَّامُ التَّشْرِيقِ عِيدُنَا أَهْلَ الإِسْلاَمِ وَهِيَ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ

Hari Arafah, hari Idul Adha, dan hari-hari Tasyriq adalah ‘Ied kami, wahai umat Islam. Hari tersebut (Idul Adha dan hari Tasyriq) adalah hari menyantap makan dan minum (HR. Abu Dawud no. 2419).

Imam Nawawi menjelaskan bahwa “disebut tasyriq karena tasyriq itu berarti mendendeng atau menjemur daging kurban di terik matahari.” Oleh karenanya, hari-hari Tasyriq pada esensi dan praktiknya tidak bisa dipisahkan dari perintah berkurban serta bersantap setelahnya.

Dalam sebuah hadis, Rasulullah ﷺ menjelaskan sejatinya apa itu hari Tashriq:

 أَيَّامُ اَلتَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ, وَذِكْرٍ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ 

Hari-hari Tasyriq adalah hari makan, minum, dan mengingat (zikir kepada) Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Agung (Bulughul Maram no. 707).

Oleh sebab hari-hari Tasyiq adalah hari makan dan minum, maka—menurut pendapat mayoritas ulama—kita dilarang berpuasa di hari-hari Tasyriq.

Larangan berpuasa di hari-hari Tasyriq, menurut Ibnu Rajab, adalah karena kasih sayang Allah kepada hamba-Nya.

Ketika orang-orang yang bertamu ke Baitullah kemudian mengalami keletihan karena perjalanan berat yang mereka lalui, di samping kelelahan setelah ihram dan melaksanakan manasik haji dan umrah, Allah mensyariatkan kepada mereka untuk beristirahat dengan tinggal di Mina pada Hari Raya Kurban (Idul Adha) dan 3 hari setelahnya.

Allah memerintahkan mereka untuk makan daging sembelihan mereka. Di saat itulah, mereka mendapatkan jamuan dari Allah—karena kasih sayang Allah kepada mereka. Begitulah kurang lebih penjelasan Ibnu Rajab.

Amalan di Hari Tasyriq

Hadis sebelumnya menjelaskan bahwa selain hari makan dan minum, hari Tasyriq juga adalah hari mengingat Allah.

Hal ini sejalan dengan firman Allah:

وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ

Ingatlah Allah di hari-hari yang terbilang. (QS. Al-Baqarah: 203).

Ibnu Abbas dan beberapa ulama besar, termasuk Imam Malik, berpendapat bahwa yang dimaksud “hari-hari yang terbilang” adalah hari-hari Tasyriq. Mereka pun menganjurkan untuk memperbanyak zikir dan takbir pada hari-hari Tasyriq.

Imam Malik, yang mengambil praktik ahli Madinah sebagai sumber hukum, berkata:

Apa yang kami lakukan di sini (di Madinah) adalah mengucapkan takbir pada hari-hari Tashriq usai setiap shalat […] Bertakbir pada hari-hari Tashriq hendaklah dilakukan oleh laki-laki maupun perempuan, baik secara berjamaah maupun sendiri, di Mina atau di tempat lain [...] (Muwatta Malik no. 214).

Selain berzikir dan bertakbir, sebagian ulama menganjurkan pula untuk memperbanyak doa pada hari-hari Tasyriq.

Murid Ibnu Abbas, Ikrimah, manganjurkan kita pada hari-hari Tasyriq untuk memperbanyak membaca doa sapu jagad:

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka (QS. Al-Baqarah: 201).

Demikianlah uraian singkat tentang hari Tasyriq. Semoga memotivasi kita untuk semakin berzikir, bertakbir, dan berdoa di hari-hari yang baik ini. Semoga amal ibadah kita diterima oleh Allah SWT.

Referensi: Syarh Shahih Muslim ( 8: 18), Lathaiful Ma’arif, Hal. 505

###

Ingin menulis untuk Kesan dan berbagi ilmu yang berguna? Tunggu apa lagi? Sebab berbagi ilmu itu bukan hanya indah, tetapi juga berpahala. Kirim artikelmu ke salam@kesan.id.