Selasa, 13 Agustus 2019 - Redaksi Kesan | Islam

Sayangilah yang di Bumi

الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا مَنْ فِي الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ

Orang-orang yang memiliki rasa kasih sayang akan dikasih-sayangi oleh Ar-Rahman (Allah), maka sayangilah yang di bumi, niscaya yang di langit akan menyayangimu (HR. Tirmidzi no. 1924).  

Khalifah Umar bin Khattab adalah sosok yang dekat dengan rakyatnya. Dalam berbagai riwayat, Umar kerap terlihat blusukan, memantau langsung kondisi masyarakat Madinah kala itu. 

Ia sisir lorong-lorong kampung dan perkotaan, mengamati rakyat dari dekat, kalau-kalau ada dari mereka yang membutuhkan uluran tangan langsung dari sang Khalifah.

Namun perhatiaan sang Khalifah tidak hanya terbatas pada manusia saja, tetapi juga terhadap makhluk ciptaan Allah lainnya. 

Pernah suatu hari, ketika beliau berjalan di lorong-lorong kota, pandangannya tertuju kepada seorang bocah kecil yang sedang asyik mempermainkan seekor burung gelatik. 

Kaki burung malang itu diikat dengan seutas benang, kemudian setiap kali burung itu hendak terbang, si bocah kecil menarik benang itu hingga burung tersebut tersungkur ke tanah. Si bocah kecil itu melakukannya berulang kali hingga burung malang itu terluka dan tak berdaya. 

Tak tega, Khalifah Umar menghampiri bocah tersebut. Burung gelatik itu pun dibeli dengan harga tak wajar. Tentu saja, bocah tersebut senang bukan kepalang. Dengan raut muka sumringah, ia berlalu, meninggalkan Khalifah Umar dan burung gelatik itu. 

Tak lama berselang, sang Khalifah memberi makan dan minum kepada burung yang malang itu, kemudian melepaskannya. Mendapatkan kebebasannnya kembali, burung gelatik itu melesat terbang ke angkasa dengan suitan panjang terdengar dari paruh mungilnya. 

Tatkala Umar bin Khattab dikabarkan meninggal dunia. Rakyat pun berbondong-bondong bertakziyah, berbela sungkawa atas kepergian sang pemimpin idola yang adil bijaksana. 

Malam harinya, keanehan terjadi. Beberapa orang bermimpi bertemu Umar bin Khattab dalam waktu yang bersamaan. Dan uniknya lagi, mereka memimpikan hal yang sama. 

Dalam mimpinya mereka bertanya kepada Umar tentang kondisinya setelah ia dikuburkan. 

“Apa yang engkau dapatkan dari Allah?” tanya mereka kepada Umar. 

“Allah mengampuni dosa-dosaku dan memaafkan semua kesalahanku,” jawab Umar dengan ringan.

“Apakah engkau dapatkan semua itu karena keadilan peradilanmu, atau karena kedermawananmu ataukah karena kezuhudanmu?” tanya mereka dengan agak menyelidik.

“Saat kalian letakkan jasadku di liang lahat, dan kalian tutupi, kemudian kalian tinggalkan aku sendirian dalam kuburku. Datanglah dua malaikat menghampiriku. Pikiranku melayang-layang. Sendi tulang belulangku gemetar sangat hebat dari saking takutnya kepada dua malaikat itu. 

Lalu kedua malaikat itu memegangku dan mendudukkanku dan bersiap-siap melontarkan pertanyaan kepadaku. Sekonyong-konyong terdengarlah suara tanpa sosok, suara itu sangat berwibawa. Dia memerintahkan kedua malaikat agar membiarkanku sendirian. 

‘Hai.. Malaikat, tinggalkan orang itu. Dia hamba shalihku. Jangan kau takut-takuti dia. Karena Aku sudah mengampuni segala dosa-dosanya dan memaafkan segala kekhilafannya.’ 

‘Kenapa…?!’ Dua malaikat itu bertanya penasaran. ‘Karena dia menyayangi seekor burung yang teraniaya, maka sekarang Aku menyayanginya.’ Suara itu mengakhiri perintahnya.” 

Dari kisah yang singkat ini, kita diingatkan bahwasanya ada ganjaran dari setiap perbuatan baik dan kasih sayang yang kita tunjukkan—baik itu terhadap manusia maupun terhadap makhluk Allah lainnya yang ada di bumi. 

Boleh jadi perbuatan yang mengantarkan kita kepada kasih sayang Allah adalah perbuatan yang kita anggap kecil dan remeh seperti menyelamatkan semut yang akan terinjak atau memberi minum hewan yang kehausan. Tetapi di mata Ar-Rahman (Sang Maha Penyayang) boleh jadi itu adalah perbuatan yang begitu besar lagi terpuji. 

Maka benarlah apa yang dikatakan oleh baginda Rasulullah ﷺ di awal tulisan ini, "sayangilah yang di bumi, niscaya yang di langit akan menyayangimu." 

Referensi:  Al-Mawaid Al-Ushfuriyyah, hal 2 karya Muhammad Ibn Abu Bakar.

###

*Ingin menulis untuk Kesan dan berbagi ilmu yang berguna? Tunggu apa lagi? Sebab berbagi ilmu itu bukan hanya indah, tetapi juga berpahala. Kirim artikelmu ke salam@kesan.id.