Jumat, 06 September 2019 - Redaksi Kesan | Artikel

Kisah Bilal dan Kekasihnya

Salah satu sahabat Rasulullah ﷺ yang begitu istimewa dan patut dicatat dengan tinta emas sejarah adalah Bilal bin Rabah.

Bilal adalah budak pertama yang masuk Islam hingga ia disiksa habis-habisan oleh tuannya, Umayyah bin Khalaf, salah satu pembesar Mekkah yang amat membenci Rasulullah ﷺ. 

Pernah suatu ketika ia dipaksa terlentang diterik matahari kemudian ditindih dadanya dengan batu yang sangat besar hingga ia tak bisa bernafas. Dalam keadaan setengah mati seperti itu, ia dipaksa mendustai Allah dan Rasul-Nya. Namun, yang keluar dari lidahnya hanyalah, “Ahad, Ahad, Ahad” (Allah itu Esa). 

Bersuara lantang dan merdu, Bilal diamanahkan oleh Rasulullah ﷺ sebagai muazin pertama dalam sejarah Islam. Ketika Pembebasan Mekkah, Bilal-lah yang dimuliakan dan diminta oleh Rasulullah ﷺ untuk mengumandangkan azan dari atas Kakbah. 

Bilal begitu dipercayai oleh Rasulullah ﷺ hingga sang Rasul menunjuknya sebagai bendahara Bait Al-Mal.

Kedekatannya dengan Rasulullah ﷺ tak bisa dinafikan baik secara lahir maupun batin. Ia pun termasuk sahabat yang tinggal di serambi (shuffah) masjid Nabawi -- hanya beberapa langkah saja dari rumah Rasulullah ﷺ.

Pernah di suatu subuh, Rasulullah ﷺ bertanya kepada Bilal tentang amalan apa yang sering ia lakukan hingga sang Rasul mendengar suara sepatunya di surga. Bilal pun menjawab: 

قَالَ مَا عَمِلْتُ عَمَلاً أَرْجَى عِنْدِي أَنِّي لَمْ أَتَطَهَّرْ طُهُورًا فِي سَاعَةِ لَيْلٍ أَوْ نَهَارٍ إِلاَّ صَلَّيْتُ بِذَلِكَ الطُّهُورِ مَا كُتِبَ لِي أَنْ أُصَلِّيَ‏.‏ قَالَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ دَفَّ نَعْلَيْكَ يَعْنِي تَحْرِيكَ‏.

Aku tidak melakukan sesuatu yang layak untuk disebut kecuali bahwa setiap kali aku berwudhu baik di pagi atau malam hari, maka aku mendrikan salat dengan wudhu tersebut sebagaimana yang telah ditetapkan untukku (HR. Bukhari no. 1149). 

Di lain kesempatan, Rasulullah ﷺ pernah bersabda: 

أُرِيتُ الْجَنَّةَ فَرَأَيْتُ امْرَأَةَ أَبِي طَلْحَةَ ثُمَّ سَمِعْتُ خَشْخَشَةً أَمَامِي فَإِذَا بِلاَلٌ

Aku diperlihatkan surga. Di dalamnya kulihat istri Abu Thalhah (Ummu Sulaim). Kemudian aku mendengar suara langkah kaki di depanku. Ternyata itu Bilal (HR. Muslim no. 2457). 

Wafatnya Rasulullah ﷺ

Ketika kekasihnya (yaitu Rasulullah ﷺ) wafat, Bilal yang tegap dan gagah itu tiba-tiba merasakan kelemahan dan kesedihan yang teramat sangat. Suaranya pun hilang.

Khalifah Abu Bakar dan beberapa sahabat pernah meminta kepadanya untuk mengumandangkan azan setelah wafatnya Rasulullah ﷺ tetapi Bilal bersikeras menolak. “Aku tak kuat untuk melantunkan azan lagi,” jawab Bilal. 

Namun, Khalifah Abu Bakar tak patah semangat. Ia terus membujuk Bilal agar berkenan melantunkan azan seperti di zaman Rasulullah ﷺ. 

“Kita telah kehilangan Rasulullah ﷺ, apakah kita harus kehilangan muazinnya Rasulullah ﷺ juga?” tanya Khalifah Abu Bakar kepada Bilal. 

Bilal pun akhirnya mengiakan permintaan sang Khalifah. Di suatu subuh, Ia naik ke bagian atas masjid dan mulai melantunkan azan. Ketika sampai di kalimat azan, “Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah,” Bilal tak kuasa membendung tangisnya. Ia tak sanggup menyebut nama kekasihnya tanpa menumpahkan air mata. 

Ummu Salamah ingat betul kejadian itu. Salah satu istri Rasulullah ﷺ itu bercerita, “Di hari ketiga (wafatnya Rasulullah ﷺ), kami mendengar suara (azan). Itu suaranya Bilal. Mendengar azannya, kami pun semakin sedih (karena mengenang masa-masa hidupnya Rasulullah ﷺ). Satu kota Madinah pun menangis serentak.”  

Semakin hari Bilal merasa semakin berat tinggal di Madinah tanpa kehadiran Rasulullah ﷺ. Ia pun berangkat ke Damaskus. Bilal ikut dalam beberapa pertempuran dengan harapan ia meraih syahid. Namun demikian, Allah berkehendak lain. 

Suatu ketika, Bilal bermimpi akan kekasihnya. Dalam mimpinya itu, Rasulullah ﷺ berkata kepada Bilal, “Mengapa berpisah, wahai Bilal? Bukankah sudah waktunya kamu menemuiku?”

Bilal pun bangun dan langsung bergegas menuju Madinah. Setibanya di sana, ia berlari ke makam Rasulullah ﷺ dan menangis sesenggukan. “Aku datang, ya Rasulullah. Aku datang menemuimu ya Rasulullah,” lirih Bilal di pusara kekasihnya itu. 

Cucu Rasulullah ﷺ, Hasan dan Husein, kebetulan melihat Bilal dan mendekatinya. Bilal pun langsung memeluk keduanya dengan erat dan berucap, “Wahai (dua orang) yang dicintai oleh Rasulullah.” 

Begitu senangnya Hasan dan Husein melihat Bilal di Madinah, mereka pun memohon agar Bilal berkenan mengumandangkan azan. Mendengar permintaan kedua orang yang begitu dicintai oleh Rasulullah ﷺ, Bilal pun mengiakan. 

Baru saja Bilal mengucapkan takbir pertama, segenap penduduk Madinah keluar dari rumahnya dan menangis menuju masjid. Mereka langsung tahu siapa muazinnya dan mereka pun teringat akan masa-masa ketika Rasulullah ﷺ masih hidup. 

Akhir hayat 

Ketika maut datang menjemput, Bilal ditemani oleh istrinya yang begitu sedih melihat kondisi suaminya. Sang istri berucap padanya, “Betapa nestapanya.” 

Bilal justru membalas, “Betapa bahagianya. Karena besok aku akan bertemu dengan Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya.”  

Referensi: Bilal ibn Rabah: The symbol of human equality, Bilal al-Habashi: An Exemplar of Patience and Devotion

Foto: https://www.brilio.net 

###

*Ingin menulis untuk Kesan dan berbagi ilmu yang berguna? Tunggu apa lagi? Sebab berbagi ilmu itu bukan hanya indah, tetapi juga berpahala. Kirim artikelmu ke salam@kesan.id.

 **Bagi yang belum sempat mengisi Survei Berhadiah: Bantu KESAN Lebih BerKESAN, mohon kesediannya mengisi surveinya ya di: https://www.surveymonkey.com/r/Kesan1. Ada hadiahnya lho! Yuk bersama kita majukan aplikasi KESAN

***Jika konten atau artikel KESAN dirasa bermanfaat, jangan lupa share ya. Semoga dapat menjadi amal jariyah bagi kita semua. Aamiin.