Sabtu, 07 September 2019 - Redaksi Kesan | Islam

Dahsyatnya Doa Nabi Ayyub

اَنِّيْ مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَاَنْتَ اَرْحَمُ الرَّاحِمِيْنَ

(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah disentuh kesulitan dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang (QS. Al-Anbiya’:83). 

Setiap hamba Allah pasti diuji dengan berbagai macam cobaan. Sebagian diuji dengan ujian yang amat berat—jauh melampaui kesanggupan manusia biasa pada umumnya. Dalam sebuah hadis disebutkan:

أَشَدُّ النَّاسِ بَلَاءً الْأَنْبِيَاءُ، ثُمَّ الصَّالِحُونَ، ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَل

Manusia yang paling berat ujiannya adalah para Nabi, kemudian orang-orang saleh, kemudian yang semisal mereka dan yang semisalnya (HR. Ahmad, 3/78).

Nabi Ayyub—sebagai seorang Nabi—tentunya mendapat ujian yang begitu berat. Dahulu beliau hidup dengan kekayaan yang melimpah, hewan ternaknya tak terhitung jumlahnya, dan rumahnya pun begitu megah. Beliau orang terpandang di daerah Hauran yang terletak di sebelah selatan Damaskus. Beliau juga memliki banyak anak yang berbakti serta dikaruniai badan yang sehat.

Kemudian Allah mengujinya. Dalam tafsir Al-Jalalain disebutkan bahwa seluruh harta bendanya lenyap dan anak-anaknya pun meninggal. Tak hanya itu, tubuh sang Nabi juga dipenuhi penyakit hingga beliau dikucilkan oleh masyarakat Hauran. 

Beliau pun tinggal di pinggir kota layaknya pariah—berdua saja dengan istrinya yang setia menemani dan merawat sang Nabi. Bayangkan sejenak ujian yang dihadapi oleh Nabi Ayyub: dari hidup yang sempurna dan terpandang di satu hari ke hidup yang penuh derita keesokan harinya. Ujian seperti ini dapat membuat banyak orang lain depresi berat, bahkan bisa saja ada yang sampai bunuh diri.

Namun, tidak bagi Nabi Ayyub dan istrinya. Mereka berdua sabar menghadapi ujian ini bertahun-tahun lamanya. Ada yang mengatakan mereka diuji selama 13 tahun, ada juga yang mengatakan 18 tahun.

Pernah suatu ketika sang istri yang mulai tidak kuat menahan ujian ini mengeluh kepada Nabi Ayyub. “Mengapa engkau tidak berdoa saja kepada Allah untuk mencabut seluruh ujian ini? Tentunya Allah akan mengabulkan doamu,” pinta sang istri. 

Namun, Nabi Ayyub menjawab bahwa beliau malu meminta kepada Allah akan hal ini. Sebab Allah telah memberikan mereka kehidupan yang sangat baik selama puluhan tahun, sementara ujian yang mereka hadapi baru berlangsung selama beberapa tahun. 

“Aku malu meminta pada Tuhanku untuk mencabut kesulitan ini. Bukankah Dia telah menganugerahi kita lebih banyak tahun-tahun kebaikan ketimbang tahun-tahun kesukaran?” jawab Nabi Ayyub. 

Akhirnya sampai suatu ketika Nabi Ayyub memerlukan bantuan dari istrinya, tetapi ia tidak mendapati istrinya. Rupanya sang istri sedang mencari nafkah di luar rumah untuk menghidupi keduanya. 

Begitu lama sang Nabi memanggil dan menunggu terbaring tak berdaya, tapi istrinya tak kunjung datang. Di titik inilah sang Nabi merasa betul-betul lemah dan tak berdaya. Ia pun mengadu pada Tuhannya. 

رَبَّهٗٓ اَنِّيْ مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَاَنْتَ اَرْحَمُ الرَّاحِمِيْنَ

(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah disentuh kesulitan dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang (QS. Al-Anbiya’:83). 

Ada hal-hal yang menarik dan dapat menjadi teladan dari redaksi doa Nabi Ayyub. Pertama, sang Nabi begitu halus dalam berdoa. Ia mengucapkan “disentuh kesulitan” dalam menggambarkan ujian yang beliau hadapi. Padahal ujian yang beliau hadapi amatlah berat. Bisa saja, misalnya, sang Nabi berucap, “sesungguhnya aku telah ditimpa kesulitan,” tetapi hal itu tidak beliau lakukan. 

Kedua, seperti yang dijelaskan dalam Tafsir Al-Misbah, Nabi Ayyub menyampaikan keadaannya kepada Allah tanpa menggerutu, bahkan tanpa memohon. Rasa malu kepada Allah tetap dimilikinya sekalipun beliau berada dalam keadaan yang amat membutuhkan pertolongan-Nya. “Beliau hanya menyebut sifat Allah yang paling menonjol yaitu Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang sambil berserah diri sepenuhnya kepada Allah.” 

Sang Maha Penyayang lagi Maha Pemurah pun mengabulkan doa sang Nabi. Beliau sembuh seketika dan tak lama kemudian mendapatkan kembali harta bendanya bahkan lebih. Beliau pun dikaruniai anak kembali. 

Semua ini berkat kesabaran dan kerendah hatian beliau dalam menghadapi ujian. 

Allah pun memuji sang Nabi dengan pujian yang luar biasa: 

اِنَّا وَجَدْنٰهُ صَابِرًا ۗنِعْمَ الْعَبْدُ ۗاِنَّهٗٓ اَوَّابٌ

Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sungguh, dia sangat taat (QS. Sad: 44).

Begitulah Allah mengangkat derajat seseorang dengan ujian-Nya. Dan begitulah Allah mencabut ujian dari seseorang lewat doa, kesabaran, dan ketaatan hamba Allah itu sendiri. 

Selamat mengamalkan doa Nabi Ayyub. Semoga bermanfaat. 

Referensi: Tafsir Al-Misbah karya M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Qisas Al-Anbiya

###

*Insya Allah KESAN akan terus menambah doa-doa yang ada di aplikasi. Di update selanjutnya (akhir bulan ini atau awal bulan depan), insya Allah akan ada puluhan doa dan wirid tambahan. Jika dirasa ada doa yang perlu segera ditambah, mohon jangan segan-segan mengirim request ke salam@kesan.id.

 **Bagi yang belum sempat mengisi Survei Berhadiah: Bantu KESAN Lebih BerKESAN, mohon kesediannya mengisi surveinya ya di: https://www.surveymonkey.com/r/Kesan1. Ada hadiahnya lho! Yuk bersama kita majukan aplikasi KESAN

***Jika konten atau artikel KESAN dirasa bermanfaat, jangan lupa share ya. Semoga dapat menjadi amal jariyah bagi kita semua. Aamiin.