Senin, 09 September 2019 - Redaksi Kesan | Artikel

Mengenal Puasa Asyura

Dari sekian hari yang ada di bulan Muharram, hari kesepuluh atau yang lazim disebut Asyura ternyata memiliki kekhususan tersendiri. Kekhususannya tersebut terkait dengan aspek historis dan tradisi yang tidak dapat dipisahkan dari periode sebelum Islam hadir (zaman jahiliyah). Hal ini dapat ditemukan dalam beberapa kitab hadis, salah satu penjelasan lengkapnya dapat ditemukan di kitab Al-Muwatta: 

كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ يَوْمًا تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِي الْجَاهِلِيَّةِ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَصُومُهُ فِي الْجَاهِلِيَّةِ فَلَمَّا قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم الْمَدِينَةَ صَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانُ كَانَ هُوَ الْفَرِيضَةَ وَتُرِكَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ

Hari Asyura adalah hari di mana suku Quraisy biasa berpuasa di zaman jahiliyah, dan Rasulullah ﷺ pun berpuasa Asyura di zaman jahiliyah. Ketika tiba di Madinah, beliau tetap berpuasa (Asyura) dan memerintahkan yang lain untuk berpuasa. Namun, ketika  puasa Ramadan diwajibkan, dan itu membuat puasa Ramadan menjadi puasa yang wajib ketimbang Asyura, (lalu beliau mengatakan) barang siapa yang mau, silakan berpuasa (Asyura). Barang siapa yang tidak mau, silakan tidak berpuasa (Al-Muwatta Imam Malik no. 667). 

Dari hadis di atas kita dapat memahami beberapa hal. Pertama, Rasulullah ﷺ berpuasa Asyura di zaman jahiliyah ketika beliau tinggal di Mekkah. 

Kedua, Rasulullah ﷺ memerintahkan umat Islam  untuk berpuasa Asyura setelah beliau hijrah ke Madinah. 

Ketiga, berpuasa Asyura dulunya merupakan kewajiban sampai perintah berpuasa di bulan Ramadan turun. Sehingga puasa Asyura kini hukumnya adalah sunnah. 

Dalam Kitab Kitab Syahrullah Al-Muharram, Syaikh Sulaiman Al-Jasir menjelaskan bahwa masyarakat jahiliyah bukan hanya mengenal Asyura tetapi juga begitu mengagungkannya. Bahkan mereka biasa menutup Kakbah dengan kain (kiswah) di hari itu. 

قَالَتْ كَانُوا يَصُومُونَ عَاشُورَاءَ قَبْلَ أَنْ يُفْرَضَ رَمَضَانُ، وَكَانَ يَوْمًا تُسْتَرُ فِيهِ الْكَعْبَةُ

Orang-orang biasa berpuasa Asyura sebelum diwajibkan puasa Ramadan. Dan di hari itu (Asyura) Kakbah ditutup dengan kain (kiswah) (HR. Bukhari no. 1592). 

Imam Qurthubi mengatakan hadis di atas menunjukkan bahwa puasa Asyura dalam keyakinan masyarakat sebelum Islam memiliki hubungan yang sangat erat dengan syariat Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. 

Penghormatan terhadap Asyura, oleh karenanya, berdasarkan ajaran nenek moyang mereka yang bersumber dari kedua nabi tersebut. Ini tak berbeda dengan kebiasaan masyarakat Arab yang melaksanakan haji berdasarkan ajaran turun-temurun dari Nabi Ibrahim dan Ismail. 

Ibnu Qayyim mengatakan, “Tidak diragukan lagi, kaum Quraisy dulu memuliakan hari ini (Asyura), dan mereka biasa menutup Kakbah dengan kain pada hari ini, dan berpuasa pada hari ini adalah bagian dari memuliakannya.” 

Menariknya, tradisi mengganti kiswah Kakbah pada hari Asyura berlangsung hingga dinasti Ummayah.  

Hukum Puasa Asyura 

Seperti disampaikan di atas, berpuasa Asyura pernah menjadi ibadah wajib. Ketika di Mekkah, Rasulullah ﷺ biasa berpuasa Asyura. Setelah hijrah ke Madinah, Rasulullah ﷺ mendapat informasi bahwa ternyata bukan hanya orang-orang Arab saja yang menghormati hari Asyura tetapi juga orang-orang Yahudi.

Rasulullah ﷺ kemudian memerintahkan segenap umat Islam untuk berpuasa. 

قَالَ قَدِمَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم الْمَدِينَةَ، فَرَأَى الْيَهُودَ تَصُومُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ، فَقَالَ ‏"‏ مَا هَذَا ‏"‏‏.‏ قَالُوا هَذَا يَوْمٌ صَالِحٌ، هَذَا يَوْمٌ نَجَّى اللَّهُ بَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ عَدُوِّهِمْ، فَصَامَهُ مُوسَى‏.‏ قَالَ ‏"‏ فَأَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ ‏"‏‏.‏ فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ

Ketika tiba di Madinah, Rasulullah ﷺ mendapati orang-orang Yahudi berpuasa Asyura. Beliau bertanya kepada mereka tentang hal itu. Mereka menjawab, “Hari ini adalah hari yang baik di mana Allah menyelamatkan bani Israil dari musuhnya. Nabi Musa pun berpuasa di hari ini.” Rasulullah ﷺ menjawab, “Kami (umat Islam) lebih berhak mengikuti Musa daripada kalian.” Lalu Rasulullah ﷺ pun berpuasa dan memerintahkan umat Islam untuk berpuasa (HR.  Bukhari no. 2004). 

Mungkin ada yang bertanya setelah membaca hadis di atas, “Apakah ini berarti Rasulullah ﷺmeniru umat Yahudi?”

Tentu saja, tidak. Sebab ketika di Mekkah pun Rasulullah ﷺ sudah biasa merutinkan berpuasa Asyura. Barulah setelah hijrah, berpuasa Asyura menjadi wajib bagi umat Islam.

Begitu utamanya puasa Asyura di awal hijrah hingga Rasulullah ﷺ mengirim utusan-utusan untuk mengabarkan akan wajibnya berpuasa di hari itu.

Rubayyi’ binti Muawwidz meriwayatkan bahwa di pagi hari Asyura Rasulullah ﷺ mengirim utusan ke desa-desa kaum Anshar untuk menyuruh mereka berpuasa: 

مَنْ أَصْبَحَ مُفْطِرًا فَلْيُتِمَّ بَقِيَّةَ يَوْمِهِ، وَمَنْ أَصْبَحَ صَائِمًا فَلْيَصُمْ

Barang siapa yang sejak pagi tidak berpuasa, maka hendaklah ia berpuasa di waktu yang tersisa. Barang siapa yang telah berpuasa dari pagi hari, hendaklah ia meneruskan puasanya (HR. Bukhari no. 1960).  

Rubayyi’ juga menambahkan bahwa setelah mendapat perintah tersebut, mereka pun rutin berpuasa dan menyuruh anak-anak mereka untuk berpuasa. “Kami buatkan mereka boneka dari bulu domba. Jika ada yang menangis karena lapar, kami berikan boneka itu. Begitu terus hingga tiba waktu berbuka.” 

Di tahun kedua Hijriah, turunlah perintah untuk menjalankan ibadah puasa Ramadan, dan setelah itu berpuasa Asyura tidak lagi wajib, melainkan sunnah. 

Keutamaan Puasa Asyura

Sekalipun dihukumi sunnah, ada beberapa keutamaan puasa Asyura. 

Pertama, menghapus dosa satu tahun yang lalu

وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ ‏

Puasa di hari Asyura, aku memohon kepada Allah agar dapat menghapus dosa setahun yang lalu (HR. Muslim no. 1162). 

Imam Nawawi mengatakan bahwa dosa yang dapat dihapus dengan berpuasa Asyura adalah dosa-dosa kecil. Jika seseorang hanya memiliki dosa besar, maka dosa besar tersebut diringankan. Jika seseorang tidak memiliki dosa kecil maupun besar, maka dituliskan baginya kebaikan serta diangkat derajatnya. 

Kedua, Rasulullah ﷺ bersemangat dalam berpuasa Asyura. Ibnu Abbas menceritakan: 

مَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم يَتَحَرَّى صِيَامَ يَوْمٍ فَضَّلَهُ عَلَى غَيْرِهِ، إِلاَّ هَذَا الْيَوْمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَهَذَا الشَّهْرَ‏.‏ يَعْنِي شَهْرَ رَمَضَانَ‏

Aku tidak pernah melihat Rasulullah ﷺ berkeinginan untuk berpuasa di hari-hari yang utama melebihi keinginannya berpuasa di hari Asyura dan di bulan Ramadan (HR. Bukhari no. 2006).  

Ketiga, puasa Asyura adalah puasa yang utama di bulan yang mulia dan afdhol untuk berpuasa. Rasulullah ﷺ pernah bersabda: 

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ 

Puasa yang paling afdhol (utama) setelah Ramadan adalah puasa (yang dilakukan) di bulan Allah Muharram (HR. Muslim no. 1163). 

Dari penjelasan dan dalil-dalil di atas, jelaslah berpuasa Asyura adalah suatu amal yang sangat utama dan sayang sekali bila terlewat. 

Pernah suatu ketika seseorang bertanya kepada ulama besar hadis Imam Az-Zuhri mengapa ia berpuasa Asyura sekalipun ia sedang dalam perjalanan. 

“Mengapa kamu berpuasa di hari Asyura saat bepergian tetapi tidak demikian selama Ramadan?”

Sang Imam menjawab, “Untuk Ramadan, orang yang uzur (berhalangan) dapat mengganti puasanya, tetapi kalau Asyura jika terlewat tidak bisa diganti.” 

Semoga dapat menambah motivasi kita bersama untuk berpuasa Asyura besok. 

(Artikel ini akan dilanjutkan dengan artikel “Tanya Kia: Doa Asyura” yang insya Allah terbit besok) 

Referensi: Al-Mufahhim Syarah Shahih Muslim, 3/190, Syahrullah al-Muharram, Sulaiman al-Jasir, hal. 8

###

*Ingin menulis untuk Kesan dan berbagi ilmu yang berguna? Tunggu apa lagi? Sebab berbagi ilmu itu bukan hanya indah, tetapi juga berpahala. Kirim artikelmu ke salam@kesan.id.

 **Bagi yang belum sempat mengisi Survei Berhadiah: Bantu KESAN Lebih BerKESAN, mohon kesediannya mengisi surveinya ya di: https://www.surveymonkey.com/r/Kesan1. Ada hadiahnya lho! Yuk bersama kita majukan aplikasi KESAN

***Jika konten atau artikel KESAN dirasa bermanfaat, jangan lupa share ya. Semoga dapat menjadi amal jariyah bagi kita semua. Aamiin.