Rabu, 11 September 2019 - Redaksi Kesan | Artikel

Dari Sihir ke Sujud

Bulan Muharram adalah bulan yang menandai pergantian tahun dalam hitungan hijriah. Para ulama mengatakan bahwa ada banyak peristiwa penting yang terjadi di bulan Muharram, khususnya di hari ke-10 yang lazim disebut Asyura. 

Salah satunya adalah kemenangan awal Nabi Musa atas Fir’aun di Mesir. 

Fir’aun sendiri adalah sebutan untuk penguasa atau raja Mesir kuno. Sebagian sejarawan mengatakan bahwa Fir’aun yang dihadapi oleh Nabi Musa adalah Ramses II, ada pula yang mengatakan Ramses III atau lainnya.

Lalu bagaimana kita tahu jika kekalahan awal Fir’aun itu terjadi di bulan Muharram atau tepatnya tanggal 10? 

Mari kita awali dengan membaca ayat berikut ini:

قَالَ مَوْعِدُكُمْ يَوْمُ الزِّيْنَةِ وَاَنْ يُّحْشَرَ النَّاسُ ضُحًى

Dia (Musa) berkata, “Perjanjian waktu (untuk pertemuan kami dengan kamu itu) ialah pada hari raya dan hendaklah orang-orang dikumpulkan pada pagi hari (duha)  (QS. Thaha: 59). 

Ibnu Abbas berpendapat bahwa yang dimaksud ‘pada hari raya’ dalam ayat di atas adalah hari Asyura. Oleh karenanya, perjanjian yang disepakati antara Nabi Musa dan Fir’aun untuk bertemu dan mengadakan adu kehebatan terjadi di waktu duha hari Asyura. Karena adu kehebatan dilakukan di hari raya, maka dapat dipastikan begitu banyak orang yang menyaksikan. 

Lalu apa yang dimaksud dengan adu kehebatan? 

Di zaman itu, yang dianggap luar biasa adalah ilmu sihir, maka kontes kehebatan pun ditentukan dengan siapa yang sihirnya paling unggul. 

Dalam hal sihir-menyihir, Fir’aun sepertinya tidak kekurangan stok tukang sihir. Menurut suatu riwayat ia dikabarkan memiliki setidaknya 72 tukang sihir, bahkan ada yang mengatakan hingga puluhan ribu. Tak aneh bila Fir’aun yakin menang.

Di hari Asyura, Fir’aun tampil percaya diri diikuti oleh ratusan bahkan ribuan penyihir dan pengawalnya, sedangkan Nabi Musa tampil berdua dengan saudaranya, Nabi Harun. 

Para tukang sihir Fir’aun pun mulai berhadap-hadapan dengan Nabi Musa. Mereka kemudian berkata, “Wahai Musa,  siapakah yang akan memulai unjuk kehebatan, engkau atau kami?” 

Nabi Musa pun menjawab, “Silakan kalian mulai terlebih dahulu!”

Serentak para tukang sihir Fir’aun melemparkan tali dan tongkat yang ada di tangan mereka masing-masing. Lalu tampaklah di mata seolah-olah tali dan tongkat mereka adalah ular yang sedang merayap. 

Melihat kejadian tersebut Nabi Musa terpana dan timbul rasa takut dalam hatinya. Kemudian Allah berfirman, “Jangan takut wahai Musa! Sesungguhnya kamulah yang paling unggul. Lemparkanlah tongkat yang ada di tangan kananmu!”

Nabi Musa pun melemparkan tongkatnya. Sekejap tongkat sang Nabi berubah menjadi ular yang jauh lebih besar. Ia pun mulai melahap ular-ular milik tukang sihir Fir’aun hingga tak bersisa. Ajaibnya, ketika Nabi Musa memegang ular besar itu, ia langsung berubah menjadi tongkat seperti sedia kala.

Decak kagum menyelimuti seluruh yang menyaksikan. Jelaslah siapa pemenang di hari itu. 

Fir’aun sendiri tidak bisa mempercayai apa yang baru saja ia saksikan. 

Sementara itu, para tukang sihir mulai melihat kepada satu sama lain. Ada sesuatu yang besar terjadi pada diri mereka. Ada sebuah kesadaran, ada sebuah epiphany. 

Mereka pun tersadarkan bahwa yang mereka hadapi itu bukanlah sihir dan penyihir. Sebagai tukang sihir mereka tahu betul apa itu sihir dan tipu daya. 

Sampailah mereka pada kesimpulan bahwa yang mereka hadapi hari itu adalah mukjizat bukan sihir, nabi bukan penyihir. Mereka pun tersungkur berjamaah dan berkata, “Kami beriman kepada Tuhan Musa dan Harun.”

Ini adalah sebuah tamparan keras bagi Fir’aun. Maksud hati ingin mempermalukan dan mengandaskan dakwah Nabi Musa di depan publik, yang terjadi malah Fir’aun sendiri yang dipermalukan. Di hari Asyura itu, pembangkangan terhadap Fir’aun mulai terjadi di lingkarannya sendiri. 

Kalau dulu anak buahnya dengan sigapnya bersujud di hadapan Fir’aun, kini sebagian dari mereka—di awali oleh para tukang sihir—mulai bersujud kepada Raja Sejati Pemilik Semesta Alam (Allah). 

Dimulai dari suatu pagi di hari Asyura itu, kejatuhan Fir’aun pun semakin dekat. 

Referensi: M. Jarir al-Thabariy, Jami’ al-Bayan fiy Ta’wil al-Qur’an, 2000, Abu Bakr al-Ahsaniy, al-Jauhar al-Munadham fiy Fadlail Syahr Allah al-Muharram, 2019.

Foto: Culture Club / Contributor / Getty Images

###

*Ingin menulis untuk Kesan dan berbagi ilmu yang berguna? Tunggu apa lagi? Sebab berbagi ilmu itu bukan hanya indah, tetapi juga berpahala. Kirim artikelmu ke salam@kesan.id

 **Bagi yang belum sempat mengisi Survei Berhadiah: Bantu KESAN Lebih BerKESAN, mohon kesediannya mengisi surveinya ya di: https://www.surveymonkey.com/r/Kesan1. Ada hadiahnya lho! Yuk bersama kita majukan aplikasi KESAN

***Jika konten atau artikel KESAN dirasa bermanfaat, jangan lupa share ya. Semoga dapat menjadi amal jariyah bagi kita semua. Aamiin.