Berita KESAN

  • Redaksi Kesan
  • Artikel
  • Rabu, 27 Oktober 2021

4 Pemuda/i Muslim Inspiratif Abad Pertengahan

Sahabat Ali bin Abi Thalib ra. adalah sepupu Rasulullah ﷺ sekaligus menjadi pemuda pertama yang beriman kepada beliau ﷺ. Ada pesan yang disampaikan Ali bin Abi Thalib untuk para pemuda muslim setelahnya. Pesan itu beliau ungkapkan melalui bait-bait syair indah:

كُنْ اِبْنَ مَنْ شِئْتَ وَاكتَسِبْ أَدَباً # يُغْنِيْكَ مَحْمُوْدُهُ عَنِ النَسَبِ

فَلَيْسَ يُغْنِيْ الْحَسِيْبُ نِسْبَتَهُ # بِلَا لِسَانٍ لَهُ وَلَا أَدَبِ

إِنَّ الْفَتَى مَنْ يُقُوْلُ هَا أَنَا ذَا # لَيْسَ الْفَتَى مَنْ يَقُوْلُ كَانَ أَبِيْ

Kamu boleh jadi anak siapa saja dan jadilah beradab, kelakuan baikmu lebih memperkayamu dibandingkan nasab.

Bangsawan tidak jadi kaya sebab nasabnya tanpa disertai tutur kata yang bagus dan adab.

Sungguh pemuda itu ialah yang berkata, “Inilah aku!” Dan bukanlah yang berkata, “Ini ayahku!”

Dalam sejarah, banyak pemuda/i berpengaruh yang meninggalkan warisan untuk generasi-generasi sesudahnya. Berikut ini empat pemuda muslim di abad pertengahan yang bisa menjadi inspirasi untuk pemuda/i muslim masa kini:

1. Umar bin Abdul Aziz

Umar bin Abdul Aziz adalah khalifah keempat dari Dinasti Bani Umayyah yang disebut-sebut sebagai Khulafa’ Ar-Rasyidin kelima (setelah Sahabat Abu Bakar ra., Umar bin Khattab ra., Utsman bin Affan ra., dan Ali bin Abi Thalib ra.).

Umar lahir pada tahun 682 M dan diangkat sebagai gubernur Madinah ketika usianya 24 tahun pada masa pemerintahan Walid bin Abdul Malik. Umar kemudian membentuk Dewan Penasehat beranggotakan 10 ulama untuk mendiskusikan berbagai persoalan umat.

Karena keberaniannya melawan kezaliman saat menjadi gubernur, Umar dicopot dari jabatannya atas hasutan Al-Hajjaj bin Yusuf dan orang-orangnya. Namun, ketika Sulaiman bin Abdul Malik berkuasa, Umar diangkat menjadi Katib (sekretaris).

Umar lalu diangkat menjadi khalifah pada tahun 717 H menggantikan Sulaiman, karena putranya yang menjadi calon penerus sudah meninggal dunia, dan saudaranya sedang berperang di Konstantinopel.

Saat pengumuman khalifah diumumkan di masjid, umat Islam sangat senang mendengar Umar bin Abdul Aziz yang akan meneruskan kepemimpinan. Semua orang senang, kecuali Umar sendiri. 

Ia naik ke mimbar lalu berkata, "Demi Allah, sungguh saya tidak pernah memohon perkara ini kepada Allah sekali pun. Sungguh jabatan ini diberikan tanpa bermusyawarah lebih dulu dan saya tidak pernah memintanya."

Umar lalu meminta orang-orang memilih khalifah terbaik versi mereka. Namun, umat Islam yang berada di masjid menolak mencabut baiat karena kecakapan dan keadilannya. Umar kemudian duduk dan menangis. “Alangkah besarnya ujian Allah kepadaku.”

Masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz tidak sampai tiga tahun, tapi ia meninggalkan banyak warisan penting untuk umat Islam. Salah satunya adalah upaya Umar menyudahi konflik antara Bani Hasyim dan Bani Umayyah.

Sejak zaman Umar pula, caci maki kepada Ali bin Abi Thalib dihentikan. Sebelum masa pemerintahannya, perseteruan antara Bani Hasyim dan Bani Umayyah sangat mengakar, dan setiap kali khutbah Jumat para khatib selalu mencaci maki Ali.

2. Fatimah Al-Fihri

Fatimah Al-Fihri ialah perempuan yang mendirikan Masjid Al-Qarawiyyin dan mempelopori model pendidikan tinggi, yang dibarengi dengan penerbitan derajat berbagai jenjang ilmu di dunia.

Fatima lahir pada tahun 800 di keluarga yang berada dan berpendidikan. Awalnya, Fatima bermigrasi dengan keluarganya pada awal abad kesembilan dari Qairawan (sekarang Tunisia) ke kota Fez di Maroko, selama pemerintahan Idris II.

Fatimah punya adik bernama Mariam yang membangun Masjid Al-Andalus. Tidak mau kalah dalam melaksanakan kebaikan dengan adiknya, maka Fatimah menginisiasi dan memimpin sendiri proyek pembangunan masjid terbesar di Afrika Utara yang diberi nama Masjid Al-Qarawiyyin.

Dari mulai pencarian lokasi, penggalian sumur, pemilihan material, rancangan arsitektur, hingga pengerjaanya, Fatimah memimpin langsung pembangunan masjid yang memakan waktu hingga tiga tahun. Konon, selama memimpin pembangunan masjid, Fatimah senantiasa berpuasa.

Setelah menyelesaikan pembangunan pada tahun 859 H, Fatimah tidak lantas berpuas diri. Memanfaatkan lingkungan masjid yang luas, ia lalu mendirikan madrasah yang kemudian berkembang menjadi universitas.

3. Fatimah As-Samarqandi

Dunia fikih mengenal imam besar mazhab Hanafi, Imam Al-Kasani, sebagai penulis Bada’i Ash-Shana’i. Karya tersebut ditulis sebagai mahar untuk menikahi putri gurunya, Fatimah As-Samarqandi. 

Fatimah As-Samarqandi sendiri ialah perempuan ulama abad ke-12. Sejak masih muda, beberapa kali jika sang ayah, Muhammad bin Ahmad As-Samarqandi, dimintai fatwa oleh masyarakat, beliau akan meminta putrinya itu untuk menjawab, sementara sang ayah ikut mendengarkan.

Fatimah juga membuka pengajian umum yang dihadiri banyak orang. Menurut beberapa riwayat, sang suami terkadang juga meminta pertimbangan Fatimah saat memberikan fatwa kepada masyarakat. 

Selain itu, Fatimah juga menulis fatwanya sendiri dengan hati-hati, dan meminta tanda tangan suami dan ayahnya selaku mufti. 

Bukan hanya sebagai ulama, Fatimah juga seorang perempuan yang dermawan. Selama bulan Ramadhan di Aleppo, ia menjual gelangnya untuk memberikan makanan kepada para pelajar di Aleppo. Hal ini kemudian menjadi tradisi yang berlanjut selama berabad-abad. 

4. Muhammad Al-Fatih

Mehmed II ialah pemimpin Utsmani ketujuh yang lebih dikenal dengan nama Muhammad Al-Fatih. Al-Fatih dalam bahasa Arab dapat berarti “Sang Penakluk”. Ia terkenal dengan panggilan itu sejak berhasil menaklukan Konstantinopel dan merebutnya dari kekuasaan Byzantium.

Muhammad Al-Fatih lahir pada 1432 M dan naik tahta di usianya yang masih 12 tahun setelah sang ayah, Sultan Murad II menyerahkan kekuasaannya. Namun, karena merasa masih sangat belia, Al-Fatih meminta ayahnya kembali naik tahta, khususnya saat Kerajaan Hungaria menyerang mereka.

“Jika Ayah adalah sultan, maka datanglah dan pimpin pasukan Ayah. Jika aku adalah sultan, maka aku memerintahkan Ayah untuk datang dan memimpin pasukanku,” tulis Al-Fatih dalam suratnya.

Perdana Menteri Halil Pasya juga meminta Murad II memimpin lagi, yang akhirnya membuat ia kembali naik tahta hingga wafatnya pada tahun 1451.

Pada usianya yang ke-19, Al-Fatih resmi berkuasa. Dan hanya butuh tiga tahun kekuasaannya untuk ia berhasil merebut Konstantinopel pada tahun 1453, sebuah kota yang belum berhasil ditaklukan pasukan muslim sejak zaman Muawiyah bin Abi Sufyan ra.

Berkat strategi cerdas Al-Fatih yang menarik kapal perangnya lewat jalur darat alih-alih menyerang langsung dari depan, Al-Fatih dan pasukannya berhasil menjatuhkan Konstantinopel dalam kurun waktu kurang dari tiga minggu.

Sahabat KESAN, itu tadi beberapa pemuda muslim di abad pertengahan yang cocok menjadi inspirasi pemuda masa kini. Baik dari segi sosial, keilmuan, politik, maupun kepemimpinan. 

Masa muda adalah masa peralihan dari kanak-kanak menuju dewasa, sehingga itu menjadi momen penting dalam pembangunan karakter dan sikap hidup. Jangan sia-siakan masa muda kita agar tidak menyesalinya saat tua nanti. Seperti pepatah Arab pernah mengatakan:

أَلَا لَيْتَ الشَّبَابَ يَعُوْدُ يَوْمًا فَأُخْبِرُهُ بِمَا فَعَلَ الْمُشِيْبُ

Seandainya saja masa muda itu kembali barang sehari, maka akan aku beritahukan penyesalan orang yang sudah tua.

###

*Jika artikel di aplikasi KESAN dirasa bermanfaat, jangan lupa share ya. Semoga dapat menjadi amal jariyah bagi kita semua. Aamiin. Download atau update aplikasi KESAN di Android dan di iOS. Gratis, lengkap, dan bebas iklan.

**Ingin menulis untuk KESAN dan berbagi ilmu yang berguna? Tunggu apa lagi? Sebab berbagi ilmu itu bukan hanya indah, tetapi juga berpahala. Kirim artikelmu ke salam@kesan.id.

Bagikan artikel ini

Berita terkait