Selasa, 01 Oktober 2019 - Redaksi Kesan | Artikel

Merawat Buku

Oleh Ahmad Bahtiar, M.Hum, Praktisi Pendidikan 

Walaupun penemu kertas dan mesin cetak bukanlah seorang muslim, tetapi adab terhadap buku banyak dibahas oleh sarjana muslim. Syekh Abdul Azis bin Fathi dalam kitabnya Mausuu’atul Aadaab al-Islamiyyah menjelaskan bahwa dalam membeli buku seseorang harus memiliki sikap ikhlas sembari berharap bahwa buku tersebut akan memberi manfaat untuk dirinya dan orang lain. Sehingga dari buku tersebut ia bisa saja mendapatkan pahala.  

Selanjutnya, dalam membeli buku hendaknya seseorang mendahulukan buku-buku yang penting dan tentunya tidak membeli buku-buku yang haram. Di sisi lain, buku yang dimiliki tidaklah untuk dipamerkan melainkan dirawat sebaik mungkin, terlebih jika buku tersebut adalah buku pinjaman.

Orang yang membutuhkan buku sejatinya berhak mendapatkan akses pinjaman dari mereka yang memiliki buku. Sebuah riwayat dari Abu Wafa bin Uqail Al-Hambali yang bersumber dari Imam Ahmad mengatakan bahwa mengeluarkan mushaf (kitab/buku) kepada orang yang benar-benar membutuhkan hukumnya wajib. 

Hal ini juga ditegaskan oleh Ibnu Al-Jauzi yang mengatakan bahwa siapa saja yang memiliki buku  maka ia hendaknya tidak kikir untuk meminjamkannya. Sementara itu, mereka yang meminjam buku berkewajiban untuk mengembalikan buku tersebut kepada pemiliknya. 

Imam Fudhail menyebut orang yang tidak mengembalikan buku yang dipinjam sebagai orang yang tidak bijak dan dianggap menzalimi dirinya sendiri. Disebut tidak bijak dan zalim, menurut Al-Khatib, karena orang tersebut menghalangi hak orang lain untuk meminjam buku tersebut.

Selanjutnya menurut Syekh Abdul Azis bin Fathi apabila seseorang meninggal dan tidak memiliki ahli waris hendaknya buku-buku tersebut diwakafkan. 

Di sisi lain, Musa Al-Almawi memberikan tuntunan terkait cara mengatur dan menyusun buku. Beliau menulis satu bab tentang adab terhadap buku dalam Muid fi Adal Al-Mufid wa Al-Mustafid di mana beliau menganjurkan agar buku-buku harus diatur berdasarkan subjeknya.

Kemudian, buku yang penting harus diletakkan di tempat paling atas dengan urutan sebagai berikut: pertama Alquran, kemudian kitab hadis, lalu kitab-kitab fikih, disusul kitab ushul al-din dan ushul al-fiqh, buku-buku tata bahasa, dan buku yang terkait ilmu lainnya. 

Ibnu Jama’ah penulis Takdzirah Al-Sami wa Al-Mutakallim fi Adab Al-Alim wa Al-Muta’allim memperjelas terkait hal ini. Menurut beliau, jika ada dua buku tentang subjek yang sama, maka buku yang lebih banyak mengandung kajian Alquran atau hadis hendaknya diletakkan di tempat yang paling atas. 

Seandainya buku-buku tersebut memiliki muatan Alquran dan hadis yang sama banyaknya, maka buku yang lebih benar penulisannya harus ditempatkan di atas. Selain itu, Ibnu Jama’ah melarang untuk melipat bagian pinggir buku untuk menandai bacaan. Ibnu Jama’ah menjelaskan, jika seseorang ingin menandai sebuah bacaan hendaknya ia menggunakan selembar kertas atau yang serupa itu, tetapi tidak boleh dari potongan kayu.

Anjuran-anjuran untuk merawat buku dari para ulama datang karena mereka  menganggap buku laksana barang tambangsesuatu yang begitu berharga. Para ulama dan pencinta ilmu terkadang rela mengeluarkan banyak harta dan bahkan mungkin membelanjakan seluruh hartanya untuk membeli buku. 

Fairuz Abadi (seorang leksikografer) pernah membeli buku dengan harga lima puluh ribu berat emas dan beliau tidak pernah berpergian kecuali membawa buku-buku itu. 

Jadi para Sahabat KESAN, marilah kita rawat buku-buku kita sembari tidak menghalangi orang lain yang sedang membutuhkan untuk dapat meminjamnya. Tindakan tersebut merupakan bagian dari menyebarkan ilmu sehingga kita akan mendapatkan keberkahan dari buku-buku tersebut. 

Bukti keberkahan itu ialah meskipun buku kita yang dipinjam kadang tidak kembali tetapi koleksi buku-buku kita selalu bertambah sehingga membutuhkan lemari-lemari baru untuk menampungnya.

Bagi Imam Al-Jurjani, sungguh kenikmatan hidup ada pada buku. Beliau pernah bersenandung, “Aku tak pernah merasakan manisnya hidup sampai aku menjadi sahabatnya rumah dan buku.” 

###

*Jika konten atau artikel KESAN dirasa bermanfaat, jangan lupa share ya. Semoga dapat menjadi amal jariyah bagi kita semua. Aamiin. 

**Ingin menulis untuk Kesan dan berbagi ilmu yang berguna? Tunggu apa lagi? Sebab berbagi ilmu itu bukan hanya indah, tetapi juga berpahala. Kirim artikelmu ke salam@kesan.id