Rabu, 02 Oktober 2019 - Redaksi Kesan | Artikel

Hikmah Puasa Senin-Kamis

Puasa adalah salah satu ibadah yang begitu istimewa di hadapan Allah. Pernah suatu ketika seseorang mendatangi Rasulullah ﷺ dan bertanya tentang ibadah yang paling utama. Rasulullah ﷺ menjawab: 

عَلَيْكَ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لاَ عِدْلَ لَهُ

Berpuasalah, karena tidak ada yang semisal dengannya (HR. Nasa'i no. 2222). 

Menariknya, jika seseorang berpuasa, maka puasanya itu bukanlah untuknya, tetapi untuk Allah. Dalam sebuah hadis disebutkan: 

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ، إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي، وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

Setiap amalan manusia adalah untuknya kecuali puasa, sebab ia hanyalah untuk-Ku dan Akulah yang akan memberikan ganjaran padanya secara langsung (HR. Bukhari no. 5927).

Mengomentari hadis ini, Ibnu Hajar Al-Asqalani dan para ulama lain mengatakan bahwa hanya Allah sajalah yang mengetahui kualitas puasa seseorang. Oleh karenanya, Allah saja lah yang dapat menilai dan mengganjar puasa seseorang secara proporsioanal sesuai kualitas puasanya. 

Apakah dia hanya mampu berpuasa terhadap hal-hal yang membatalkan puasanya. Atau apakah dia—seperti yang dijelaskan oleh Imam Al-Ghazali terkait tingkatan puasa—mampu mempuasakan segenap panca inderanya bahkan hatinya sendiri dari mengingat selain Allah.

Begitu istimewanya ibadah puasa, tak heran jika Rasulullah ﷺ sering melakukan ibadah puasa sunnah di luar puasa Ramadan. Salah satunya adalah puasa Senin-Kamis. 

Istri Rasulullah ﷺ,  Aisyah, mengabarkan bahwa:

رَسُولِ اللَّهِ ـ صلى الله عليه وسلم ـ فَقَالَتْ كَانَ يَتَحَرَّى صِيَامَ الاِثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ

Rasulullah ﷺ biasa berpuasa pada hari Senin dan Kamis (HR. Ibnu Majah no. 1739)

Mengapa hari Senin dan Kamis?  

Karena pada kedua hari itu pintu-pintu surga dibuka dan seorang muslim yang tidak menyekutukan Allah diampuni dosa-dosanya. Selain itu, Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa setiap amalan akan dibawa ke hadapan Allah setiap hari Senin dan Kamis [HR. Muslim no. 2565 dan  Abu Dawud no. 2436]. 

Hari Senin sendiri juga memiliki makna simbolik yang luar biasa bagi Rasulullah ﷺ.  Ketika Rasulullah ﷺ ditanya mengapa beliau rutin berpuasa di hari Senin, beliau menjawab bahwa di hari itulah beliau lahir, diutus, dan menerima wahyu pertama kalinya  [HR. Muslim no. 1162]. 

Setiap ibadah pasti ada manfaat atau hikmahnya. Manfaat itu bisa berupa pahala atau dalam bentuk yang lain. Kadang manfaat tersebut baru tersingkap setelah puluhan, ratusan, bahkan ribuan tahun sejak perintah atau anjuran tersebut diturunkan. Tak terkecuali ibadah puasa. 

Perkembangan sains di zaman modern, misalnya, telah mengkonfirmasi dahsyatnya manfaat puasa terhadap kesehatan manusia. Di antara manfaat puasa adalah mendukung kesehatan jantung dan otak, membantu mencegah kanker, serta diduga dapat memperpanjang usia hidup. 

Plato, filsuf besar Yunani, pun percaya betul akan manfaat puasa. Ia mengaku rutin berpuasa untuk “efisiensi fisik dan mental yang lebih prima.” 

Selain itu, di zaman now, banyak atlet berpuasa agar dapat meningkatkan performa fisik mereka. 

Jika Plato dan para atlet rutin berpuasa untuk hal-hal duniawi, maka alangkah beruntungnya kita sebagai muslim. Mengapa demikian? Karena puasa kita bukan hanya bermanfaat secara medis (itu hanya bonusnya), tetapi juga—yang lebih penting—berpotensi mendapatkan rida-Nya. 

Tak aneh, salah seorang tabiin bernama Yazid Al-Riqashi, misalnya, percaya betul bahwa rutin berpuasa akan “berujung sukacita kala bertemu Allah kelak.” 

Oleh karenanya, para Sahabat KESAN, yuk kita berupaya untuk merutinkan puasa sunnah Senin-Kamis. Untungnya, besok adalah hari Kamis, ini kesempatan bagi kita semua untuk menggapai rida-Nya. 

###

*Jika konten atau artikel KESAN dirasa bermanfaat, jangan lupa share ya. Semoga dapat menjadi amal jariyah bagi kita semua. Aamiin. 

**Ingin menulis untuk Kesan dan berbagi ilmu yang berguna? Tunggu apa lagi? Sebab berbagi ilmu itu bukan hanya indah, tetapi juga berpahala. Kirim artikelmu ke salam@kesan.id