Kamis, 03 Oktober 2019 - Redaksi Kesan | Artikel

Tanya Kiai: Hukum Bekerja Di Hotel Bintang Lima

Pertanyaan (dari Munawar --bukan nama sebenarnya):

Saat ini saya bekerja di sebuah hotel bintang lima di Jakarta, di bagian accounting. Di hotel itu menawarkan berbagai jasa, pelayanan dan produk baik makanan atau minuman. Tapi di sini yang saya ingin tanyakan adalah terkait minuman, karena di situ ada bar beserta minuman keras. Apakah pekerjaan ini barokah dan halal untuk saya dan keluarga saya, sedangkan pada saat yang sama, jika saya keluar, saya khawatir dengan keluarga saya? Mohon pencerahannya. Kurang lebihnya mohon maaf. Terima kasih.

Jawaban (Ustadz Zainol Huda, Ustadz  Abdul Walid, Redaksi KESAN): 

Terkait dengan pertanyaan saudara di atas, ada perbedaan pendapat di antara para ulama. Imam Abu Hanifah, misalnya, membolehkan karena upah saudara tidak didapat dari transaksi jual-beli barang haram, melainkan dari fungsi saudara sebagai akuntan. 

Namun demikian, ada syubhat yang terkandung di dalam perkara tersebut. Sehingga murid dari Imam Abu Hanifah sendiri, yaitu Imam Abu Yusuf, berbeda pendapat dengan gurunya. 

Terkait hal ini, pendapat Imam Abu Yusuf lebih kepada menyarankan saudara untuk menghindari pekerjaan tersebut karena faktor syubhat. 

Selanjutnya, Islam menganjurkan agar apa yang kita makan hendaknya sesuatu yang halal dan baik (halalan thayyiban). Dalam Alquran disebutkan: 

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ كُلُوْا مِمَّا فِى الْاَرْضِ حَلٰلًا طَيِّبًا ۖوَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ

Wahai manusia, makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu (QS. Al-Baqarah: 168).  

Zamakhsyari dalam tafsirnya menjelaskan bahwa kata thayyiban berarti terhindar dari hal-hal yang syubhat. Hasil usaha yang nantinya akan dikonsumsi tentunya harus diperoleh dengan cara-cara yang halal, yang diperbolehkan secara syar’i dan terhindar dari hal-hal yang remang-remang (syubhat). Syubhat adalah perkara yang statusnya masih belum jelas, dikategorikan halal juga tidak, disebut haram juga tidak.

Nabi Muhammad ﷺ pernah bersabda:

 الْحَلاَلُ بَيِّنٌ وَالْحَرَامُ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا مُشْتَبِهَاتٌ لاَ يَعْلَمُهَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الْحَرَامِ

Perkara halal itu jelas, dan sesungguhnya perkara haram itu juga jelas, di antara keduanya itu syubhat yang banyak tidak diketahui oleh manusia. Barang siapa menghindar dari syubhat maka ia mencari perlindungan agama dan kehormatannya, barang siapa terjerumus dalam syubhat maka ia terjatuh dalam perkara haram (HR. Ibnu Majah no. 3984). 

Hadis di atas menganjurkan agar kita sebisa mungkin menghindari perkara syubhat karena ditakutkan kita  terjatuh dalam perkara yang haram.

Sebuah kaidah fikih mengatakan:

اِذَاجْتَمَعَ اْلحَلاَلُ وَالْحَرَامُ غُلِّبَ اْلحَرَامُ.

Ketika bercampur antara perkara halal dan haram maka perkara haram yang menang. 

Nah, di sini ditakutkan perkara haram yang ada di hotel meskipun sangat kecil (jika dibandingkan dengan perkara mubah atau halal yang ada di sana) dapat mereduksi perkara halal tersebut.

Terakhir, jika terjadi keragu-raguan dalam bertindak, dan hal tersebut akan mengganggu pikiran kita, sebaiknya dipertimbangkan untuk segera ditinggalkan sebagaimana bunyi hadis:

دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لاَ يَرِيبُكَ

Tinggalkanlah apa yang membuatmu ragu menuju kepada apa yang tidak membuatmu ragu  (HR. Nasa'i no. 5711) 

Demikian jawaban kami dari sudut pandang hukum fikih yang memang dalam beberapa pembahasannya terkadang hitam-putih dengan tujuan memperjelas hukum. Namun, dalam konteks berdakwah menuju kebaikan, ada tahapan yang para ulama mentoleransi hal-hal yang kurang baik, bahkan dosa, agar setahap demi setahap kita bisa memperbaiki diri. 

Dalam kaitannya dengan pekerjaan, saudara dapat tetap bekerja sambil mencoba mencari pekerjaan yang lebih baik. Atau saudara sebagai akuntan dapat meneliti lebih lanjut terkait sumber penghasilan hotel dan berapa persentase dari penjualan yang haram masuk ke gaji saudara. 

Jika diketahui nilainya maka saudara dapat mengeluarkan uang tersebut untuk diserahkan pada fasilitas umum (misalnya, pembangunan sumur, jalan, wc umum, dsb.). Ini merupakan bagian dari takhallush minal haram (membebaskan diri dari yang haram). 

Tapi, jika saudara masih ragu dalam mengambil keputusan, karena khawatir berpotensi mengganggu ekonomi keluarga, ada baiknya salat Istikhoroh—meminta petunjuk kepada Allah agar mendapatkan jalan keluar terbaik.

Kami juga tidak naif dan menyadari betul bahwa menghindari syubhat di zaman now semakin sulit. Kami pun betul-betul mengapreasiasi pertanyaan saudara, dan kami yakin ini menunjukkan keseriusan saudara dalam mengamalkan ajaran Islam sebaik-baiknya. Semoga Allah merahmati saudara dan semoga Allah menunjukkan kepada kita semua jalan terbaik. 

Wallahu a'lam bish-shawabi. 

Referensi: Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhariy, tt., Al-Zamakhsyari, Tafsir Al-Kassyaf, tt., Ibrahim Muhammad Mahmud al-Hariri, Al-Madkhal ila Al-Qawaid Al-Fiqhiyyah, (Dar ‘Imar, 1998), Kitab Al-Hazr wa Al-Ibahat , Fasl Al-Baiy’ , 6/392-391.

###

*Punya pertanyaan terkait Islam? Jangan ragu mengirimkannya kepada kami di salam@kesan.id.  Insya Allah akan kami teruskan kepada para ustaz dan kiai untuk dicarikan jawabannya. Jawaban dari pertanyaan akan diterbitkan—pada umumnya—berdasarkan yang lebih dahulu masuk. 

**Jika konten atau artikel KESAN dirasa bermanfaat, jangan lupa share ya. Semoga dapat menjadi amal jariyah bagi kita semua. Aamiin.