Jumat, 04 Oktober 2019 - Redaksi Kesan | Artikel

Kala Salahuddin Membebaskan Yerusalem

Hari Jumat di awal bulan Oktober 830 tahun yang lalu adalah hari yang bersejarah bagi umat Islam. Di hari itu, Yusuf bin Najmuddin Al-Ayyubi atau yang lebih dikenal dengan nama Salahuddin Al-Ayyubi berhasil membebaskan kota Yerusalem dari kekuasaan Tentara Salib.

88 tahun lamanya kota Yerusalem berada dalam kekuasaan Tentara Salib. Ketika Tentara Salib pertama kali masuk ke Yerusalem, mereka membantai setidaknya 10.000 penduduk yang berbeda keyakinan dengan mereka. Pedang mereka pun basah dengan darah penduduk Muslim, Yahudi, dan sekte Nasrani yang berbeda keyakinan dengan mereka.

Sebuah buku berjudul Gesta Francorum mendokumentasikan betapa dahsyatnya pembantaian yang terjadi saat penaklukan Yerusalem oleh Tentara Salib. Buku tersebut mengilustrasikan begitu banyak orang yang dibantai hingga “darah menggenang sampai ke mata kaki para Tentara Salib.”

Ketika Salahuddin berhasil mengalahkan Pasukan Salib di Yerusalem, ia memiliki dua opsi; ia dapat masuk sebagai penakluk atau pembebas. Salahuddin—mengikuti langkah Umar bin Khattab dan Nabi Muhammad ﷺ sebelumnya—memilih opsi kedua. 

Tepatnya, Salahuddin memberi umat Nasrani batas waktu 40 hari untuk meninggalkan kota dengan selamat. Mereka pun diperbolehkan membawa harta benda mereka. Salahuddin hanya meminta mereka membayar uang tebusan yang begitu rendah: 10 dinar untuk laki-laki, 5 dinar untuk perempuan, dan 1 dinar untuk anak-anak. 

Bagi yang tidak mampu, sudah tua, atau terlampau muda, Salahuddin membiarkan mereka bebas begitu saja. Para janda Tentara Salib bersama anak-anak mereka pun dibebaskan oleh Salahuddin. Bahkan Salahuddin memberi mereka uang saku sebelum mereka pergi. 

Tak kurang ribuan orang dibebaskan oleh Salahuddin dari penebusan dan hal ini  membuat penasihat Salahuddin begitu geram dan marah atas kedermawanan sang majikan.

Ketika ada seorang pembesar yang ingin mengeksploitasi kedermawanan Salahuddin, sang penasihat pun segera melapor setengah protes. 

Sang penasihat berkata, “Ada seorang pembesar Nasrani membawa kekayaan senilai setidaknya 200 ribu dinar. Kita membolehkan mereka membawa harta pribadi mereka, tetapi bukan harta gereja dan biara. Anda tidak boleh membiarkan mereka melakukannya!”  

Salahuddin menjawab, “Kita harus konsisten melaksanakan perjanjian yang telah kita sepakati, sehingga tidak ada yang dapat menuduh umat Islam telah melanggar perjanjian mereka. Sebaliknya, kaum Nasrani di mana pun akan mengingat kebaikan umat Islam kepada mereka.” 

Membebaskan bukan menghancurkan

Salahuddin memilih membebaskan daripada menjajah, mengeksploitasi, atau bahkan membantai, sekalipun itu dapat saja ia lakukan. Terlebih lagi, itulah yang dilakukan oleh Tentara Salib ketika menaklukan Yerusalem—membantai, memperbudak, dan menguras seluruh harta umat Islam dan umat lain. Tetapi, Salahuddin bukan mereka. Salahuddin adalah pembebas.

Ketika sebagian dari pasukannya menuntut agar Gereja Makam Kudus dihancurkan—sebagai balasan atas tindakan berlebihan yang dilakukan oleh Tentara Salib sebelumnya—Salahuddin pun menolak. Ia justru memperkuat penjagaan di tempat-tempat ibadah Nasrani dan mengumumkan bahwa orang Nasrani diperbolehkan untuk beziarah kapan saja mereka mau. 

Salahuddin menunjukkan pada dunia tentang Islam yang sejati—Islam yang menjadi rahmat bagi semesta alam. Dan ia pun adalah seorang muslim yang taat lagi murah hati. Sebagai pemimpin Islam, Salahuddin percaya bahwa ia ditugaskan untuk membebaskan kota Yerusalem sebaik-baiknya, menghindari pertumpahan darah sebisa mungkin. 

Semoga umat Islam mendapat kesempatan untuk memiliki Salahuddin-Salahuddin baru. 

Referensi: The Crusades Through Arab Eyes, The Crusades: The Authoritative History of the War for the Holy Land, Gesta Francorum

Sumber foto: https://www.aljazeera.com 

###

*Jika konten atau artikel KESAN dirasa bermanfaat, jangan lupa share ya. Semoga dapat menjadi amal jariyah bagi kita semua. Aamiin. 

**Ingin menulis untuk Kesan dan berbagi ilmu yang berguna? Tunggu apa lagi? Sebab berbagi ilmu itu bukan hanya indah, tetapi juga berpahala. Kirim artikelmu ke salam@kesan.id