Senin, 07 Oktober 2019 - Redaksi Kesan | Artikel

Tanya Kiai: Mengganti Salat Orang yang Sudah Wafat?

Pertanyaan (dari Ahmad—bukan nama sebenarnya):

Di kampung saya sekarang marak orang mengqadha salatnya bahkan membayarkan fidyah salatnya orang yang sudah meninggal, dikarenakan orang yang meninggal tersebut selama hidupnya pernah meninggalkan salat.

Apakah hukumnya boleh atau memang wajib? Jika tidak dilakukan apakah boleh? Terima kasih.

Jawaban (Oleh Ustadz Zainol Huda): 

Terkait pertanyaan saudara tentang mengqadha salat orang yang telah wafat dan pernah meninggalkan salat semasa hidupnya, para ulama berbeda pendapat. 

Mayoritas ulama berpendapat bahwa tidak perlu bagi ahli waris atau wali orang yang sudah meninggal untuk mengqadha atau membayar fidyah untuk mendiang terkait salat yang pernah ditinggalkan semasa hidupnya.

Namun, riwayat Al-Ubbadi yang diceritakan dari Imam Syafii mengatakan bahwa boleh melakukan salat qadha terhadap mendiang, baik karena menerima wasiat maupun tidak. 

Hal ini juga pernah dilakukan oleh Imam As-Subki terhadap mendiang kerabatnya. Bahkan, pendapat yang dinukil Ibnu Burhan dari qaul qadim (pendapat lama) Imam Syafii mengatakan bahwa mengqadha salat mendiang itu hukumnya wajib bagi walinya jika meninggalkan harta warisan.

Muhib Al-Thabari berpendapat bahwa setiap ibadah wajib maupun sunnah yang dikerjakan atas nama mendiang pahalanya sampai kepada mendiang. 

Akan tetapi, menurut Imam Abu Hanifah saalat yang pernah ditinggalkan mendiang itu tidak perlu diqadha, tetapi cukup dengan membayar fidyah, itu pun jika mendiang berwasiat untuk dibayarkan fidyah.

Dalam hal salat yang menjadi tanggungan orang yang telah meninggal memang tidak ada bunyi hadis yang secara khusus menjelaskannya. Namun, ada hadis yang menjelaskan terkait hukum mengqadha puasa bagi wali dari mendiang: 

مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ

Siapa yang meninggal dan dia masih memiliki tanggungan puasa maka walinya wajib mempuasakannya (HR. Bukhari no. 1952).

Selanjutnya, ada seorang perempuan mendatangi Rasulullah ﷺ dan mengadu, “Sesungguhnya ibuku telah tiada, dan ia mempunyai tanggungan puasa.” Rasulullahﷺ balik bertanya, “Bagaimana menurutmu andaikata ibumu mempunyai hutang, apakah kamu akan membayar hutang ibumu tersebut?” 

Perempuan tadi menjawab, “Tentu saya akan membayar hutang itu.” Kemudian Rasulullah bersabda, “Jika demikian, tentu hutang kepada Allah lebih berhak untuk dibayar.” (Lihat: HR. Bukhari no. 1953 dan HR Muslim no. 1148). 

Berdasarkan hadis-hadis di atas dan analogi, ulama kemudian berpendapat bahwa salat yang tertinggal pada masa hidup mendiang itu boleh atau bahkan ada yang berpendapat wajib digantikan (diqadha) oleh ahli warisnya. Pasalnya, salat juga merupakan hutang kepada Allah sebagaiamana puasa fardhu. 

Wallahu a'lam bish-shawabi.

Referensi: Shahih Al-Bukhariy, tt. Muhammad Syatha Al-Dimyathi, Hasyiah I’anah Al-Thalibin, juz 1, (Dar Al-Kutub Al-Islamiy, tt). An-Nawawi, Syarh Al-Nawawi ‘Ala Muslim, tt.

 ###

*Jika konten atau artikel KESAN dirasa bermanfaat, jangan lupa share ya. Semoga dapat menjadi amal jariyah bagi kita semua. Aamiin. 

**Punya pertanyaan terkait Islam? Jangan ragu mengirimkannya kepada kami di salam@kesan.id. Insya Allah akan kami teruskan kepada para ustadz dan kiai untuk dicarikan jawabannya. Jawaban dari pertanyaan akan diterbitkan—pada umumnya—berdasarkan yang lebih dahulu masuk.