Selasa, 08 Oktober 2019 - Redaksi Kesan | Artikel

Yahudi Terbaik

Di dalam Alquran ada ayat-ayat yang berbicara tentang sikap orang-orang Yahudi yang menolak kebenaran Islam. Padahal sebagian rabi (pendeta) dan pemimpin mereka paham tentang kebenaran agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ.

Dalam Alquran disebutkan:

قُلْ اَرَءَيْتُمْ اِنْ كَانَ مِنْ عِنْدِ اللّٰهِ وَكَفَرْتُمْ بِهٖ وَشَهِدَ شَاهِدٌ مِّنْۢ بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ عَلٰى مِثْلِهٖ فَاٰمَنَ وَاسْتَكْبَرْتُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَ

Katakanlah, Terangkanlah kepadaku, bagaimana pendapatmu jika sebenarnya (Al-Qur'an) ini datang dari Allah, dan kamu mengingkarinya, padahal ada seorang saksi dari Bani Israil yang mengakui (kebenaran) yang serupa dengan (yang disebut dalam) Al-Qur'an lalu dia beriman, kamu menyombongkan diri. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim (QS. Al-Ahqaf: 10).

Walaupun sebagian besar orang Yahudi di Madinah tidak mau mengakui Nabi Muhammad ﷺ, ada beberapa pimpinan mereka yang mengakui Nabi Muhammad ﷺ  dan masuk Islam seperti Abdullah Ibn Sallam. 

Selain itu, ada pula rabi Mukhairiq yang menurut beberapa sumber konon masuk Islam atau dipercaya meyakini Muhammad ﷺ  sebagai Nabi Allah. Begitu setianya Mukhairiq hingga ia disebut “Yahudi terbaik” oleh Rasulullah ﷺ.

Bagaimana kisahnya? Simak selengkapnya. 

Disebutkan bahwa Mukhairiq adalah seorang anggota suku Yahudi Tha'labah yang setuju dengan Piagam Madinah yang dibuat oleh Rasulullah ﷺ bersama seluruh komunitas di Madinah. Piagam Madinah adalah kontrak sosial yang ditawarkan oleh Nabi ﷺ agar setiap orang dapat dan berkomitmen untuk hidup damai di Madinah. 

Isi Piagam Madinah tersebut di antaranya membicarakan mengenai komitmen politik dan sosial setiap orang apa pun latar belakang mereka. Sebagai satu kesatuan politik, mereka berkewajiban untuk mempertahankan Madinah dari serangan musuh.

Ketika peristiwa perang Uhud terjadi, Mukhairiq mengajak sukunya untuk terlibat dalam pertempuran tersebut. Namun, mereka menolak karena menganggap tidak boleh berperang di hari Sabbath. Mukhairiq bukannya tidak paham akan hal itu, tetapi menurutnya menepati janji adalah sesuatu yang  lebih utama.

Keengganan mereka (Yahudi) mengakui Nabi Muhammad ﷺ dan menolak untuk terlibat dalam komitmen mempertahankan Madinah dari serangan musuh dikarenakan hawa nafsu dan ego mereka yang menolak nabi yang tidak berasal dari kelompok mereka sendiri. 

Namun, Mukhairiq berbeda dengan kebanyakan umat Yahudi di sana. Pertama, ia mengingatkan segenap umat Yahudi akan komitmen mereka dengan Nabi Muhammad ﷺ. Apa daya sebagian besar dari mereka, menolak ikut serta dalam perang yang mereka anggap adalah urusannya kaum Muslim. 

Mukhairiq pun akhirnya memutuskan untuk terlibat dalam peristiwa perang Uhud sendirian tanpa sukunya. Meski pasukan Islam dipukul mundur, tak sedikit pun membuatnya gentar dan lari dari pertempuran. Bahkan, ia terus maju ke medan pertempuran hingga terbunuh. 

Sebelum ikut berjuang bersama umat Islam, ia telah berwasiat kepada orang-orang bahwa jika ia mati, hendaknya seluruh hartanya diberikan kepada Rasulullah ﷺ. Sang Rasul kemudian mewakafkan harta Mukhairiq berupa tujuh kebun buah-buahan dan harta lainnya. Muhairiq pun menjadi pemberi wakaf pertama dalam sejarah Islam. 

Demikianlah kisah hidup seorang Yahudi Terbaik yang ‘mewakafkan’ hidup dan hartanya untuk sebuah komitmen setia kepada Nabi Muhammad ﷺ.

Referensi: Referensi, Ali Sami An-Nasyar, Kisah Para Syuhada di Zaman Nabi Saw, Jakarta: Penerbit Lentera, 2003

Sumber foto: https://nypl.getarchive.net; Siyar-i Nabî (Life of the Prophet)

###

*Jika konten atau artikel KESAN dirasa bermanfaat, jangan lupa share ya. Semoga dapat menjadi amal jariyah bagi kita semua. Aamiin. 

**Ingin menulis untuk Kesan dan berbagi ilmu yang berguna? Tunggu apa lagi? Sebab berbagi ilmu itu bukan hanya indah, tetapi juga berpahala. Kirim artikelmu ke salam@kesan.id