Rabu, 09 Oktober 2019 - Redaksi Kesan | Artikel

Dulu Lidah Sekarang Medsos

Tak dapat dimungkiri perkembangan teknologi informasi telah membawa perubahan besar bagi peradaban manusia hari ini. Beragam kemudahan ditawarkan—dan sudah kita nikmati—seperti kemudahan dalam mengakses informasi maupun pengetahuan.

Hari ini, seseroang hanya perlu memencet tombol smartphone untuk bisa mendapatkan segala macam informasi dengan mudah dan murah. Hal yang tidak pernah terjadi dan dibayangkan oleh orang-orang zaman dulu. 

Dengan smartphone dan aplikasinya seperti WhatsApp, Facebook, Instagram, Twitter, dsb. kita bisa berbagi dan menerima informasi, pengetahuan, dan hal-hal positif lainnya. Bahkan, bisa membangun komunikasi dengan komunitas global.

Namun, manfaat positif itu bisa berubah menjadi negatif manakala media tersebut digunakan secara tidak bijak. Hari ini dapat kita saksikan, betapa berita hoaks, caci  maki, fitnah dan sebagainya berseliweran di lini masa media sosial kita. Seolah lidah telah digantikan oleh jari jemari. 

Manusia modern hari ini telah bergeser: dari dulu menggunakan lidah sekarang memanfaatkan media sosial untuk berkomentar.

Jika Imam Gazali hidup pada era kita saat ini, mungkin beliau akan menulis kitab atau bab khusus tentang berbahayanya media sosial, sebuah kemungkinan yang boleh dianggap kelakar oleh sebagian dari kita. 

Kita dapat menganalogikan atau meng-qiyas-kan “lidah” dengan “media sosial”, karena kini melalui aplikasi media sosial manusia modern dapat menyampaikan perkataan dan pesan-pesan dengannya. 

Dalam Ihya Ulummuddin, Imam Al-Gazali menjelaskan pertama-tama bahwa salah satu kenikmatan besar yang diberikan Allah kepada manusia adalah lidah. 

Lidah boleh saja menjadi organ manusia yang bentuknya kecil, kata Imam Al-Gazali, tetapi orang bisa saja berbuat dosa besar atau pahala besar dengannya. Orang bisa saja mengumpat dan memfitnah dengan lidah, atau ia juga berzikir kepada Allah dan bersyahadat dengannya. 

Oleh karenanya, lidah dapat membawa pada keselamatan juga dapat membawa pada kahancuran. Tak mudah mengendalikan lidah. 

Bahkan sahabat Nabi Muhammad bernama Abdulah Ibnu Masud pernah mewanti-wanti bahwa yang perlu “dipenjara” selain nafsu kita adalah lidah kita—saking khawatirnya sahabat Rasulullah ﷺ  tersebut dengan lidah.

Pernah pula Umar bin Khattab mampir ke rumah Abu Bakar dan melihat Abu Bakar sedang “menghukum” lidahnya dengan cara menarik-narik lidahnya sendiri. 

Umar pun panik dan berseru, “Berhentilah dan semoga Allah memaafkanmu.” Abu Bakar akhirnya menjelaskan kepada Umar perihal tindakannya itu. Rupanya Abu Bakar merasa lidahnya “telah membawa [beliau] ke tempat-tempat yang berbahaya (dosa).”

Tak heran bila Imam Al-Gazali pun menyebut lidah sebagai anggota tubuh manusia yang paling durhaka.

Sang Imam menyebutkan potensi kedurhakaan tersebut sebagai berikut: 1) Berkata hal yang tidak penting, 2) berbicara berlebihan, 3) bercakap panjang lebar tentang sesuatu yang batal, 4) berbantah-bantahan dan berdebat, 5) pertengkaran, 6) menfasih-fasihkan ucapan secara berlebihan, 7) berkata keji, memaki dan lidah yang kotor, 8) mengutuk/melaknat, 9) menyanyi atau membaca syair berlebihan, 10) bergurau, 11) mengejek dan menertawakan, 12) menyebarkan rahasia, 13) berjanji dusta, 14) berdusta dalam perkataan dan sumpah palsu, 15) mengumpat, 16) mengadu-domba, 17) berkata tanpa pendirian (plin plan), 18) memuji, 19) berkata tidak lengkap dalam hal agama, 20) pembicaraan atau pertanyaan orang awam tentang ilmu agama yang sulit.

Dari sekian perbuatan berbahaya lidah di atas terdapat sejumlah pengecualian dan pembahasan yang lebih rinci, semisal tentang pujian yang dalam kondisi tertentu diperbolehkan bahkan dianjurkan selama pujian tersebut tidak berlebihan. 

Namun, secara garis besar, Imam Al-Gazali memperingatkan kita untuk selalu waspada terhadap bahaya lidah—dan di zaman now ini termasuk dengan akun media sosial kita.

Walhasil, sahabat KESAN yang budiman, mari kita semua bijak bermedia sosial. Upayakan agar kita tidak menyebar berita yang bermuatan caci maki, sumpah serapah, hoaks dan sebagainya. 

Sebarkanlah informasi yang baik agar semua mendapatkan manfaatnya. Bukankah Rasulullah telah berpesan kepada kita semua, “Berkatalah yang baik atau diam.”

Dan jangan lupa—meminjam istilah Prof. Nadirsyah Hosen dalam bukunya—saring sebelum sharing.

Referensi: Ihya Ulummuddin Jilid 3, Muwatta Imam Malik no. 1825, HR. Bukhari no. 6136

###

*Jika konten atau artikel KESAN dirasa bermanfaat, jangan lupa share ya. Semoga dapat menjadi amal jariyah bagi kita semua. Aamiin. 

**Ingin menulis untuk Kesan dan berbagi ilmu yang berguna? Tunggu apa lagi? Sebab berbagi ilmu itu bukan hanya indah, tetapi juga berpahala. Kirim artikelmu ke salam@kesan.id