Berita KESAN

  • Redaksi Kesan
  • Artikel
  • Jumat, 11 Juni 2021

Adab Rasulullah #17: Mengasihi Pendosa

Rasulullah ﷺ adalah sosok yang begitu mulia dan agung. Meskipun demikian, sisi kemanusiaan Rasulullah ﷺ tetap melekat. Beliau ﷺ tidur, makan, dan menikah seperti manusia kebanyakan. 

Allah berfirman:

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ

Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kalian, yang telah menerima wahyu, bahwa sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa.” (QS. Al-Kahfi [13]: 110).

Sebagai seorang manusia, Rasulullah ﷺ juga senang mendengar candaan yang jujur dan tidak menyakiti orang lain. Sahabat Nu’aiman bin Amr ra. adalah salah seorang sahabat yang kerap membuat Rasulullah ﷺ tertawa.

Misalnya suatu hari Nu’aiman datang ke Madinah membawa hadiah kepada Rasulullah ﷺ. 

“Ya Rasulullah, barang ini aku hadiahkan kepadamu,” kata Nu’aiman.

Rasulullah ﷺ pun menerima barang itu dengan senang hati. 

Tak lama kemudian, orang yang menjual barang tersebut justru mendatangi Rasulullah ﷺ.

“Ya Rasulullah, tolong engkau bayarkan barang ini kepada penjual itu,” ucap Nu’aiman kepada Rasulullah ﷺ.

Rasulullah ﷺ lantas bertanya kepada Nu’aiman, “Bukankah barang ini kamu hadiahkan kepadaku?”

“Betul, tapi aku tidak punya uang,” ujar Nu’aiman.

Mendengar jawaban itu, Rasulullah ﷺ tertawa dan membayar harga barang yang dihadiahkan Nu’aiman. 

Nu’aiman tidak hanya seorang sahabat yang suka bercanda, tapi juga diriwayatkan suka minum khamr. Bahkan Imam Ibnu Abdil Barr menyebutkan bahwa Nu’aiman dibawa ke Rasulullah ﷺ lebih dari 50 kali karena mabuk untuk dihukum.

Sayyidina Umar bin Khattab ra. pernah bercerita, ada seorang lelaki di zaman Rasulullah ﷺ yang dijuluki himar atau keledai. Ia sering bercanda dengan Rasulullah ﷺ, dan beliau ﷺ sering menghukum cambuk orang itu karena mabuk. Lelaki itu adalah Nu’aiman.

Hingga suatu hari, Nu’aiman dibawa lagi menghadap Rasulullah ﷺ untuk ke sekian kalinya karena mabuk. Rasulullah ﷺ memerintahkan para sahabat mencambuknya. Karena jengkel dengan kelakukan Nu’aiman, ada seseorang sahabat yang menyeletuk, “Ya Allah laknatlah dia, sudah berkali-kali dia begini.”

Mendengar ucapan itu, Rasulullah ﷺ menegur sahabat yang melaknat Nu’aiman. 

Rasulullah ﷺ bersabda:

لاَ تَلْعَنُوهُ، فَوَاللَّهِ مَا عَلِمْتُ أَنَّهُ يُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ

Jangan kalian melaknatnya. Demi Allah, aku tahu bahwa ia mencintai Allah dan rasul-Nya (HR. Bukhari no. 6780).

Bukti cintanya kepada Allah dan Rasulullah ﷺ bisa kita baca dalam sejarah. Nu’aiman bin Amr ra. termasuk sahabat Ansar yang pertama-tama menyatakan beriman kepada Allah dan rasul-Nya dalam Baiat Aqabah Kedua. 

Ketika umat Islam dalam kondisi genting, Nu’aiman selalu siap menolong dan membela. Nu’aiman, misalnya, turut berjuang di Perang Badar, Uhud, dan Khandaq.

Sungguh besar hati Rasulullah ﷺ menghadapi seorang sahabat yang “unik” seperti Nu’aiman. Andai saja hari ini kita mendapati pemabuk yang sama sepertinya, mungkin kita juga akan terdorong untuk mengutuk dan mencelanya, tanpa mencari tahu lebih lanjut bagaimana isi hati sang pendosa.

Apa yang dilakukan Rasulullah ﷺ adalah bukti kebenaran firman Allah dalam Al-Qur’an yang berbunyi:

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

Sungguh, telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman. (QS. At-Taubah [9]: 128).

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan bahwa inilah dalil larangan melaknat pendosa dan anjuran untuk mendoakannya. Selanjutnya, orang yang kerap kali terjerumus dalam lubang maksiat bukan berarti serta-merta hilang kecintaannya kepada Allah dan Rasulullah ﷺ.

Jadi siapapun yang masih tersisa kasih sayang di hatinya, apalagi untuk Allah dan Rasulullah ﷺ, maka ia berhak juga untuk menerima kasih sayang. Rasulullah ﷺ telah mencontohkan hal itu kepada Nu’aiman. 

Rasulullah ﷺ pernah diminta untuk melaknat orang musyrik, lalu beliau ﷺ dengan rendah hati menjawab:

إنِّي لَمْ أُبْعَثْ لَعَّانًا، وإنَّما بُعِثْتُ رَحْمَةً

Sesungguhnya aku tidak diutus sebagai pelaknat, tapi aku diutus sebagai kasih sayang (HR. Muslim no. 2599).

Referensi: Ibnu Hajar Al-Asqalani; Al-Ishabah fi Tamyiz Ash-Shahabah, Fath Al-Bari.

###

*Jika artikel di aplikasi KESAN dirasa bermanfaat, jangan lupa share ya. Semoga dapat menjadi amal jariyah bagi kita semua.Aamiin. Download atau update aplikasi KESAN di Android dan di iOS. Gratis, lengkap, dan bebas iklan.

**Punya pertanyaan terkait Islam? Silakan kirim pertanyaanmu ke salam@kesan.id

***Bantu kami lebih Ber-KESAN dengan mengisi survei di link ini. Ada hadiah menarik bagi Sahabat KESAN yang mengisi survei dengan lengkap dan kritik serta saran terbaik. Kami tunggu masukannya ya Sahabat.

Bagikan artikel ini

Berita terkait