Berita KESAN

  • Redaksi Kesan
  • Artikel
  • Rabu, 04 September 2019

Berpuasa di Bulan Allah

Berpuasa pada bulan Muharram adalah ibadah sunnah yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah Muhammad ﷺ. Ia merupakan ibadah yang memiliki keistimewaan dibanding ibadah puasa sunnah lainnya. 

Apa keistimewaannya? 

Rasulullah ﷺ pernah bersabda: 

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ

Puasa yang paling utama setelah Ramadan adalah puasa (yang dilakukan) di bulan Allah Muharram, dan salat yang paling utama setelah salat fardhu adalah shalat malam (HR. Muslim no. 1163). 

Imam Ibn Rajab Al-Hanbali menjelaskan bahwa hadis ini secara jelas menyampaikan bahwa berpuasa sunnah di bulan Muharram adalah yang terbaik setelah puasa wajib di bulan Ramadan. 

Namun demikian, beliau berpendapat puasa sunnah lainnya seperti Puasa Syawal, Puasa Arafat, dan Puasa 10 hari bulan Zulhijjah, tidak serta merta kalah penting dibanding hari-hari di bulan Muharram. 

Maksudnya: berpuasa di tanggal 17 Muharram, misalnya, bukan berarti lebih utama dari berpuasa Arafat. Secara bulan keseluruhan, memang, puasa di bulan Muharram diutamakan karena ia adalah bulannya Allah dan juga sesuai dalil di atas. 

Dalam riwayat lain, Rasulullah ﷺ juga menyinggung mengenai keutamaan puasa di bulan Allah ini:

 من صام يوما من المحرم فله بكل يوم ثلاثون حسنة رواه الطبراني

Barang siapa berpuasa satu hari saja di bulan Muharram, maka baginya berhak untuk mendapatkan ganjaran seperti melakukan tiga puluh kebaikan (Al-Mu’jam al-Kabir Li al-Thabrani No. 11082 11/72). 

Walaupun ada perbedaan pendapat terkait kesahihan hadis di atas, para ulama bersepakat bahwa berpuasa di bulan Allah memang sangat dianjurkan—terlepas berapa pahala yang dapat dikumpulkan. 

Sebab, seperti dalam sebuah hadis disebutkan, “Setiap amalan anak Adam adalah miliknya sendiri, kecuali puasa. Puasa adalah milik-Ku dan Aku-lah yang akan memberi pahala kepadanya atas puasa itu” (HR. Bukhari no. 5927). 

Selanjutnya, kedua hadis di atas (HR. Muslim dan Thabrani) bertipe kalam khabar dan insya’. Kalam khabar artinya memberikan informasi atau mengabarkan keutamaan puasa Muharram. Sedangkan kalam insya’ bermakna “terkandung perintah, walaupun tidak tegas tentang hukumnya—wajib atau sunnah.” 

Dengan kata lain,  Rasulullah ﷺ sangat menganjurkan umatnya untuk menjalankan ibadah tersebut—sekalipun sunnah—karena memiliki keutamaan yang sangat besar.

Lantas bagaimana kita menjalankan ibadah puasa Muharram?

Kalau kita memaknai secara tekstual, kedua hadis di atas tidak membatasi atau menentukan secara langsung hari dan tanggal pelaksanaannya. 

Dalam kajian ushul fiqh, kalimat yaum (hari) adalah kalimat ‘am (umum dan tidak terbatas). Dengan demikian, kita bisa menjalankan puasa kapan pun kita mau dan mendapatkan keutamaan dari ibadah tersebut, selama masih berada di bulan Muharram. 

Namun demikian, ada beberapa catatan. Pertama, sangat dianjurkan untuk berpuasa Asyura (tanggal 10 Muharram) dan mengiringi puasa tersebut dengan puasa sehari sebelumnya dan sehari sesudahnya. 

Jadi berpuasa tiga hari, yaitu tanggal 9, 10 dan 11 Muharram. InsyaAllah KESAN akan menulis tentang hal ini sebelum tanggal 9 Muharram. 

Kedua, Imam Ibn Rajab Al-Hanbali berpendapat bahwa “Hari-hari terbaik di bulan Muharram adalah 10 hari pertama.”

Beliau mendasari pendapatnya ini dengan mengutip pendapat ulama besar di kalangan tabi’in bernama Abu Utsman An-Nahdi yang mengatakan bahwa, “Para salaf mengagungkan tiga waktu dari 10 hari yang utama: 10 hari terakhir bulan Ramadan, 10 hari pertama bulan Zulhijjah, dan 10 hari pertama bulan Muharram.”

Jadi, boleh-boleh saja seseorang memperbanyak berpuasa di 10 hari pertama bulan Muharram. 

Nah, besok misalnya adalah hari Kamis, 5 Muharram. Bagi yang ingin berpuasa Kamis tentunya sangatlah baik, mumpung masih di bulannya Allah dan juga—menurut Iman Ibn Rajab— adalah termasuk hari-hari terbaik di bulan Muharram. 

Wallahu a'lam bish-shawabi.

Referensi: Faidh al-Qadir, karya al-Manawiy. 3/411

###

*Ingin menulis untuk Kesan dan berbagi ilmu yang berguna? Tunggu apa lagi? Sebab berbagi ilmu itu bukan hanya indah, tetapi juga berpahala. Kirim artikelmu ke salam@kesan.id

**Bagi yang belum sempat mengisi Survei Berhadiah: Bantu KESAN Lebih BerKESAN, mohon kesediannya mengisi surveinya ya di: https://www.surveymonkey.com/r/Kesan1 . Ada hadiahnya lho! Yuk bersama kita majukan aplikasi KESAN

***Jika konten atau artikel KESAN dirasa bermanfaat, jangan lupa share ya. Semoga dapat menjadi amal jariyah bagi kita semua. Aamiin.

Bagikan artikel ini

Berita terkait