Berita KESAN

  • Redaksi Kesan
  • Artikel
  • Selasa, 09 Juli 2019

Dua Serigala

Ada sebuah cerita penuh hikmah yang bersumber dari legenda suku Indian tentang pentingnya menjaga hati. 

Alkisah, kepala suku Indian Cherokee yang bijak sedang duduk dikelilingi para cucunya. Ia bercerita bahwa ada dua serigala yang hidup dalam sanubari manusia.

Serigala pertama mengajak manusia pada kebaikan: kesopanan, kedermawanan, kedamaian, kebajikan.

Sedangkan serigala kedua mendorong manusia pada keburukan: kesombongan, keserakahan, kemarahan, kejahatan.

Sang kepala suku menjelaskan bahwa kedua serigala itu selalu berkelahi—di setiap detik dan di setiap saat—karena masing-masing ingin mendominasi yang lain.

Para cucu yang terpaku mendengar cerita sang kakek pun bertanya.

“Lalu serigala mana yang akan menang, Kek?” tanya para cucu penasaran.

“Serigala yang kamu pelihara,” jawab sang Kakek sambil tersenyum.

Cerita singkat ini pada intinya menjelaskan bahwa ketika kita membiasakan diri berbuat baik, kita memberi “makan” (jalan) untuk “serigala baik” (tabiat baik) untuk mendominasi tindak-tanduk kita. Namun, kalau “serigala buruk” (nafsu) yang kita beri “makan” (jalan), maka tindak-tanduk kita pun akan menjadi beringas dan keji.

Aristoteles pernah berkata, ”Kita adalah apa yang kita lakukan berulang kali. Maka dari itu, keluhuran bukanlah suatu tindakan, melainkan kebiasaan.”

Menariknya, Imam Al-Ghazali tidak hanya mempunyai analogi yang cukup mirip dengan legenda Indian tersebut, tetapi juga menjelaskan proses bagaimana kebiasaan baik atau buruk terbentuk: dari hati. Ia pernah berkata:

“Dan hati juga adalah rumah. Ia adalah rumah para Malaikat, tempat mereka turun, tempat mereka bersemayam. Karakteristik tercela, seperti amarah, nafsu, merendahkan orang lain, iri hati, arogansi, merasa diri paling luar biasa, adalah anjing yang menggonggong. Jadi, bagaimana Malaikat bisa masuk ke tempat yang demikian?”

###

* Ingin menulis untuk Kesan dan berbagi ilmu yang berguna? Tunggu apa lagi? Sebab berbagi ilmu itu bukan hanya indah, tetapi juga berpahala. Kirim artikelmu ke salam@kesan.id.

** Rasulullah bersabda, "Hikmah itu adalah barang yang hilang milik orang yang beriman. Di mana saja ia menemukannya, maka ambillah” (HR. Tirmidzi no. 2687; hadis hasan menurut Imam Suyuti). 

Bagikan artikel ini

Berita terkait