Berita KESAN

  • Redaksi Kesan
  • Artikel
  • Selasa, 02 Juni 2020

Feed: Imam Abu Hanifah (I)

Imam Abu Hanifah, dilahirkan di Kota Kufah pada tahun 80 Hijriah. Imam Abu Hanifah memiliki nama lengkap Nu’man bin Tsabit bin Marzuban. Beliau merupakan keturunan keluarga Persia yang berasal dari Kabul (sekarang ibu kota Afghanistan).

Kakeknya Marzuban masuk Islam ketika zaman Khalifah Umar. Imam Abu Hanifah lahir dari keluarga yang saleh dan kaya raya. Ayahnya, adalah seorang pebisnis pakaian dan kain sutera yang sukses di kota Kufah, Irak. 

Imam Abu Hanifah telah menghafal Al-Quran sedari kecil. Di masa remaja, Imam Abu Hanifah mulai menekuni belajar agama dari ulama-ulama terkemuka di kota Kufah. Beliau sempat berjumpa dengan sembilan atau sepuluh orang sahabat Nabi di antaranya Anas bin Malik (khadim Nabi ﷺ), Sahl bin Sa’d, dan Jabir bin Abdullah.

Imam Abu Hanifah memiliki perawakan yang menawan. Postur tubuhnya proporsional, dilengkapi dengan warna kulit yang coklat kemerahan. Selain beperawakan menawan, Imam Abu Hanifah juga sering mengenakan pakaian yang bagus dengan wewangian.

Tutur kata yang keluar dari mulut Imam Abu Hanifah selalu begitu logis dan runut sehingga orang yang mendengarnya terpukau dengan kecerdasan beliau. Imam Malik adalah salah satu ulama yang begitu terpukau dan mengakui kecerdasan dan kefasihan Imam Abu Hanifah. 

Berjumpa dengan Ilmu

Tinggal dan menetap di kota Kufah membuat Imam Abu Hanifah bisa memperoleh ilmu dengan mudah. Awalnya Imam Abu Hanifah hanya menghafal Quran dan menekuni sastra Arab. Namun, Abu Hanifah merasa dirinya yang selalu haus akan ilmu ingin lebih banyak menggunakan daya pikir serta analisanya untuk mempelajari suatu hal.

Awalnya, belajar agama bukanlah tujuan utama dari Imam Abu Hanifah. Dirinya lebih disibukkan dengan kegiatan berniaga ketimbang belajar ilmu agama. Keseriusannya mendalami ilmu agama mulai timbul ketika dia bertemu dengan Al-Sya’ab, seorang ulama besar pada saat itu. 

Ketika bertemu dengan Imam Abu Hanifah, Al- Sya’ab menasihati Imam Abu Hanifah agar mendalami ilmu agama, “Kamu wajib memperdalam ilmu dan mengikuti halaqah para ulama. Karena kamu cerdas dan memiliki potensi yang sangat tinggi,” tutur Al-Sya’ab.

Nasihat ini rupanya berhasil menggugah Abu Hanifah untuk memperdalam ilmu agama. Akhirnya beliau menunjuk orang untuk menjaga tokonya, sehingga sebagian besar hidup Imam Abu Hanifah didedikasikan untuk memperdalam ilmu agama. 

Saat berusia 16 tahun, Imam Abu Hanifah meninggalkan Kufah dan pergi menuju Mekah untuk menunaikan ibadah Haji dan berziarah ke makam Rasulullah ﷺ. Dalam perjalanan ini, beliau berguru dengan Atha bin Abi Rabah yang merupakan salah satu ulama Mekah terbaik pada saat itu. 

Selain itu Imam Abu Hanifah pernah bertemu (dan mengambil ilmu dari) 7 orang sahabat Rasulullah ﷺ yang masih hidup pada saat itu. Imam Abu Hanifah memiliki banyak guru, ada sekitar 200 orang ulama besar. 

Guru Imam Abu Hanifah kebanyakan berasal dari kalangan tabi’in, dan ada beberapa diantaranya dari kalangan tabi’ at-tabi’in. Jumlah guru yang demikian banyak tidaklah membuat kita heran karena beliau banyak menempuh perjalanan dan berkunjung ke berbagai kota demi memperoleh ilmu.

(Artikel ini bersambung)

###

*Jika konten atau artikel di aplikasi KESAN dirasa bermanfaat, jangan lupa share ya. Semoga dapat menjadi amal jariyah bagi kita semua. Aamiin. Download aplikasi KESAN di Android dan di iOS. Gratis, lengkap, dan bebas iklan. 

**Ingin menulis untuk Kesan dan berbagi ilmu yang berguna? Tunggu apa lagi? Sebab berbagi ilmu itu bukan hanya indah, tetapi juga berpahala. Kirim artikelmu ke salam@kesan.id 

Bagikan artikel ini

Berita terkait