Berita KESAN

  • Redaksi Kesan
  • Artikel
  • Rabu, 03 Juni 2020

Feed: Imam Ahmad Bin Hanbal: Imam Mazhab Hanbali (I)

Imam Ahmad bin Hanbal atau Imam Hanbal dilahirkan di Baghdad pada tahun 164 H atau 780 M. Beliau adalah keturunan Arab asli dari suku Shayban. Ayahnya meninggal saat Imam Ahmad masih balita. 

Imam Ahmad adalah seorang imam dari mazhab fikih ke empat dalam Islam. Beliau dikenal sebagai pendiri mazhab fikih ke-empat dan juga mufti negara Irak.

Petualangan Mencari Ilmu

Imam Ahmad bin Hanbal adalah penghafal Al-Qur’an dan juga pembelajar bahasa. Ketika usianya masih 14 tahun, beliau telah menulis diwan (prosa). Beliau adalah seorang penuntut ilmu sejati, hidupnya diwakafkan untuk mencari dan mencintai ilmu. 

Beliau selalu bekerja keras untuk mencari ilmu pengetahuan. Tak jarang karena hal itu, sang ibu merasa terharu melihat perjuangan sang anak. Bahkan beliau memiliki kebiasaan untuk keluar rumah sebelum fajar terbit untuk menuntut ilmu. Dan sang ibu pernah memintanya agar menunggu sejenak sampai orang-orang terbangun dari tidurnya barulah pergi.

Pada awal mula pencariannya terhadap ilmu pengetahuan, Imam Ahmad bin Hanbal menyalin kitab-kitab yang bernuansa pemikiran. Setelah itu, beliau kemudian memfokuskan dirinya untuk mempelajari hadis.

Ketika usia Imam bin Hanbal menginjak usia 15 tahun, beliau mulai mempelajari hadis Nabi Muhammad ﷺ. Beliau melanglang buana untuk berguru pada ulama-ulama yang luar biasa pada saat itu.

Untuk mendapatkan guru-guru yang hebat, Imam Ahmad bin Hanbal melakukan perjalanan keliling dari satu negeri ke negeri yang lain. Beliau pernah berkunjung ke Kuffah (133 H) dan ke Basrah (186 H) di Irak; Mekah, Hijaz, dan Madinah di Arab; dan Yaman serta Suriah. 

Beliau setidaknya pernah lima kali melakukan ziarah (kunjungan) ke Mekah, tiga di antaranya dengan berjalan kaki. Kondisi ekonomi yang kurang beruntung tidak lantas menyurutkan semangat beliau untuk mengembara ke berbagai negara untuk mendapatkan ilmu pengetahuan.

Imam Ahmad bin Hanbal pernah berguru kepada Imam Syafii, Sufyan bin Uyainah, dan Yahya bin Saud Al-Qathan.

Pernah suatu ketika, Imam Ahmad muda mengunjungi majelis Imam Syafii setelah beliau menyalin banyak kitab sehingga ada bercak tinta hitam pada pakaian Imam Ahmad. Imam Syafii melihat Imam Ahmad muda duduk. Lalu Imam Syafii memperhatikan bahwa Imam Ahmad merasa malu karena ada bercak tinta yang menempel di pakaiannya dan mencoba menyembunyikannya. 

Melihat hal ini, Imam Syafii pun berkata, “Anak muda, mengapa kamu menyembunyikannya? Memiliki tinta pada pakaian seseorang adalah tanda pribadi yang luhur (sebagai pecinta ilmu): bagi orang biasa (tinta) itu hitam, tapi bagi orang yang berilmu itu putih (dengan cahaya pengetahuan).” 

Mendengar petuah ini, tekad Imam Ahmad pun semakin membara dalam mengumpulkan, menyalin, dan menghafalkan hadis. Beliau pun kemudian menjadi seorang imam yang mumpuni. 

Di kemudian hari, Imam Ahmad pernah melihat para santri dengan pot tinta dan bercak tinta hitam pada pakaian mereka bersemangat untuk duduk dan belajar dari sang imam. Imam Ahmad pun tersenyum sambil mengenang ucapan Imam Syafii dulu kepadanya, dan berkata, “Tinta-tinta itu adalah lentera Islam.” 

Memang, Imam Ahmad adalah pencinta hadis. Beliau memiliki cara-cara khusus untuk mengambil sebuah hadis yang sahih atau tidak. Baginya hadis adalah asas dan tiang, keutamaannya tidak akan tercapai dengan sempurna bila ia tidak dijaga, dipahami, dan diketahui seluk beluknya.

Imam Ahmad pernah berkata, “Siapa pun yang menghimpun hadis tidak dengan asbabul wurudnya (sebab turunnya hadis) dan juga perdebatan-perdebatannya, maka tidak wajib (pantas) baginya memberi hukum (komentar) terhadap hadis tersebut, tidak juga mengeluarkan fatwa darinya.”

Dari pernyataan tersebut, Imam Ahmad ingin mengatakan bahwa tidak setiap hadis yang didapatkan harus diterima begitu saja sebelum orang yang menerima hadis tersebut memahami hadisnya, sebab turunnya hadis tersebut, melihat pandangan ulama terhadap hadis tersebut, dan, lebih jauh lagi, membandingkan hadis tersebut dengan hadis-hadis yang lain, baik dengan hadis-hadis yang berkesesuaian maupun dengan hadis-hadis yang bertentangan dengan hadis tersebut.

Oleh karena itu, memberikan fatwa atau komentar keagamaan berdasarkan satu hadis tanpa melakukan pendalaman dan pengkajian seperti di atas, menurut pendapat Imam Ahmad, adalah tidak sah, bahkan mungkin cenderung menyesatkan. 

(Artikel ini bersambung)

###

*Jika konten atau artikel di aplikasi KESAN dirasa bermanfaat, jangan lupa share ya. Semoga dapat menjadi amal jariyah bagi kita semua. Aamiin. Download aplikasi KESAN di Android dan di iOS. Gratis, lengkap, dan bebas iklan. 

**Ingin menulis untuk Kesan dan berbagi ilmu yang berguna? Tunggu apa lagi? Sebab berbagi ilmu itu bukan hanya indah, tetapi juga berpahala. Kirim artikelmu ke salam@kesan.id 

Bagikan artikel ini

Berita terkait