Berita KESAN

  • Redaksi Kesan
  • Artikel
  • Selasa, 23 Juni 2020

Feed: Imam Bukhari: Sang Imam Hadis (I)

Nama lengkapnya Muhammad Ibnu Ismail Ibnu Ibrahim Ibnu Al-Mughirah Ibnu Bardizbah Al-Bukhari. Beliau lahir di hari Jumat tanggal 13 Syawal 194 H. Beliau dikenal sebagai Amir Al-Mukminin (Pemimpinnya Para Mukmin) dalam bidang hadis. 

Beliau dilahirkan di Bukhara, sebuah kota yang awalnya relatif belum dikenal sebelum masa Imam Bukhari. Baru setelah kelahiran Imam Bukhari kota itu dikenal banyak orang. Kota tersebut kini terletak di negara Uzbekistan

Ayah Imam Bukhari adalah seorang ulama hadis bernama Ismail Ibnu Ibrahim. Dari ayah beliau lah, sang Imam pertama kali mendengar hadis. Imam Bukhari juga pernah berguru kepada Hammad Ibnu Zaid di Basrah dan Imam Malik di Madinah. 

Tidak hanya itu, Imam Bukhari juga seorang petualang dan pernah berkelana bersama ulama hebat bernama Abdullah Ibnu Mubarak. Ketiga ulama besar tersebut juga merupakan kolega sang ayah pada masanya.

Peran Ibu dalam Keilmuan Sang Imam

Setelah kematian ayahnya, Imam Bukhari diasuh oleh ibunya sendiri. Sejak kecil Imam Bukhari divonis tidak bisa melihat bahkan dianggap buta permanen. Iba melihat kondisi sang anak, sang ibu terus mengupayakan kesembuhannya. Selain itu, hampir setiap hari dalam hidupnya, sang ibu senantiasa berdoa kepada Allah untuk kesembuhan anaknya. 

Doa itu ia latunkan dengan penuh harap, khusyuk, dan konsisten. “Ya Allah berikanlah kami kebahagiaan. Jadikanlah mata anakku bisa melihat kembali,” ucap getir wanita salehah tersebut.

Hingga suatu hari sebuah anugerah dari Allah datang. Nabi Ibrahim hadir dalam mimpi sang ibu dan mengabarkan sebuah berita bahagia, “Duhai wanita salehah, sesungguhnya Allah telah mengabulkan doamu dan menyembuhkan penglihatan anakmu,” kata Nabi Ibrahim.

Dalam pengasuhan sang ibulah Imam Bukhari menerima pendidikan pertamanya. Ibunyalah yang pertama kali memperkenalkan dan mengajarkan Al-Qur’an padanya, hingga beliau mampu menghafalnya. Setelah hafal Al-Qur’an di usia enam tahun, Imam Bukhari, atas dorongan ibunya, mengikuti pelajaran hadis. 

Dorongan sang ibu tidak lepas dari wasiat sang ayah yang dulunya merupakan seorang muhaddis (ahli hadis) yang juga menginginkan anaknya memiliki kemampuan yang mendalam soal keislamaan, khususnya ilmu hadis. 

Dalam suasana yang demikianlah Imam Bukhari tumbuh dan mencintai ilmu pengetahuan. Kesarjanaannya yang dikenal luas dunia Islam sampai hari ini, tidak bisa dilepaskan dari peran sang ibu yang tekun dan giat mendidik anaknya.

Kehadiran Imam Bukhari di tengah Ketidakpastian Umat

Hadirnya Imam Bukhari sebagai sarjana Islam kala itu disebut sebagai benteng Islam dalam menghadapi ketidakpastian. Kekacauan atau ketidakpastian tersebut dipicu oleh segelintir oknum umat Islam yang sengaja mengubah atau bahkan mengarang hadis untuk kepentingan pribadi, ekonomi, dan politik. 

Terkadang hadis yang dikarang tidak terlalu berdampak secara akidah, tapi lebih bersifat untuk menguntungkan diri sendiri atau keuntungan bisnis. Salah satu hadis palsu misalnya, “Dalam terong terdapat kesembuhan dari segala penyakit.” Hadis palsu ini pun populer di kalangan penjual sayur di zaman dulu. 

Namun, bila hadis yang dikarang menyangkut keutamaan individu atau sahabat Rasulullah yang satu dibandingkan sahabat yang lain, hal ini seringkali menyebabkan percikan emosi dan keberpihakan politik, bahkan perang. 

Terlebih lagi, bila hadis yang dikarang menyangkut sifat-sifat Allah, hal ini dapat menjadi fatal bagi akidah seseorang. Oleh karena pemalsuan hadis telah berlangsung cukup lama (ada yang mengatakan bahkan sejak akhir pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan), akibatnya dampak negatif yang terjadi terhadap agama dan pendidikan Islam pun signifikan. 

Dalam situasi buruk itu, Imam Bukhari hadir sebagai seorang ulama dan cendekiawan hadis yang mumpuni. Beliau mengajar dan menerbitkan berbagai kitab hadis yang dapat dijadikan rujukan umat, terutama kitabnya yang berjudul Al-Jami Al-Musnad As-Sahih, atau yang dikenal sebagai Sahih Al-Bukhari. 

Sahih Al-Bukhari hingga saat ini dikenal sebagai kitab paling otentik setelah Al-Qur’an. 

Bagaimana Imam Bukhari belajar dan mengumpulkan hadis? InsyaAllah kita akan bahas besok. 

(Artikel ini bersambung)

###

*Jika konten atau artikel di aplikasi KESAN dirasa bermanfaat, jangan lupa share ya. Semoga dapat menjadi amal jariyah bagi kita semua. Aamiin. Download aplikasi KESAN di Android dan di iOS. Gratis, lengkap, dan bebas iklan. 

**Ingin menulis untuk Kesan dan berbagi ilmu yang berguna? Tunggu apa lagi? Sebab berbagi ilmu itu bukan hanya indah, tetapi juga berpahala. Kirim artikelmu ke salam@kesan.id 

Bagikan artikel ini

Berita terkait