Berita KESAN

  • Redaksi Kesan
  • Artikel
  • Selasa, 28 April 2020

Feed: Imam Malik: Mengenal Imam Kota Madinah (1)

Imam Malik bin Anas, lahir di kota Madinah pada tahun 93 Hijriah. Nama lengkap beliau adalah Malik bin Anas bin Malik bin Amr, Al-Imam, Abu Abd Allah Al-Humyari Al-Asbahi Al-Madani. Ayahnya bernama Anas ibn Malik (bukan Anas bin Malik sahabat Rasulullah ﷺ) dan ibunya bernama Aaliyah binti Shurayk Al-Azdiyya

Imam Malik merupakan keturunan Yaman asli dari salah satu suku bernama Al-Ashabi. Hanya saja, kakek Imam Malik, Abu Amir, hijrah ke kota Madinah dan masuk Islam pada tahun ke-2 Hijriah lalu menetap di sana, menurut suatu riwayat. 

Imam Malik adalah seorang dengan postur tubuh yang tinggi dan memiliki perawakan yang menawan. Beliau juga memiliki rambut yang sangat indah. Selain itu beliau juga memiliki janggut besar dan mata biru besar.

Madinah dan Perjumpaan terhadap Ilmu

Lahir dari keluarga berada membuat hidup Imam Malik relatif mudah. Beliau tidak perlu harus menghabiskan waktunya untuk bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kondisi yang terbilang beruntung itu, membuat beliau lebih leluasa dan mudah dalam belajar dan mengakses pendidikan.

Imam Malik memulai pendidikannya pada usia 10 tahun. Beliau adalah sosok yang sangat tertarik dengan kajian-kajian keislaman. Bahkan beliau menghabiskan seluruh masa hidupnya untuk menekuni kajian Hadis dan Fikih.

Tekadnya dalam mempelajari sesuatu sangat kuat. Bahkan tak jarang beliau harus menunggu di luar rumah sang guru, di bawah terik matahari yang menyengat, untuk bertanya pada gurunya tentang apa yang telah ia pelajari bersamanya selama di kelas. Ini semua karena kegigihan Imam Malik dalam belajar serta adab baik yang dimilikinya.

Jika gurunya sedang sibuk, maka Imam Malik akan tetap menunggu di luar rumahnya hingga gurunya memanggilnya masuk. Pernah suatu ketika salah satu guru Imam Malik bernama Ibnu Hurmuz bertanya kepada pembantunya, “Siapa itu di luar?”

Pembantunya menjawab, “Itu si putih kemerah-merahan (Imam Malik).”

Ibnu Hurmuz pun berkata, “Biarkan dia, dia akan menjadi ahli ilmu umat ini.” 

Semua ini karena sejak awal Imam Malik sudah dididik oleh ibunya untuk mempelajari adab para ulama sebelum mempelajari ilmu dari mereka.

“Ibuku akan membantuku bersiap-siap pergi belajar dan berpesan, ‘pergilah engkau ke Syeikh Rabi’ah dan pelajarilah adabnya sebelum ilmunya,’” kata Imam Malik mengingat akan peran penting ibunya.

Pernah suatu ketika saudari perempuannya melihat Imam Malik berdiam di bawah pohon berjam-jam, lalu ia berkata pada ayahnya, “Saudaraku Malik tidak pergi ke mana-mana atau mengunjungi orang lain.” Kemudian ayahnya berkata, "Biarkan Malik, karena dia sedang menghafal hadis-hadis Nabi Muhammad ﷺ." 

Tekad Imam Malik dalam menghafal hadis memang luar biasa. Pernah juga gurunya bernama Ibnu Shihab Al-Zuhri menarasikan 40 hadis kepada Imam Malik. Keesokan harinya Imam Malik mampu meriwayatkan semua hadis yang dipelajarinya kemarin sampai-sampai Al-Zuhri berkata, “Aku tidak berpikir ada orang selain aku yang mampu menghafal begitu cepatnya.” 

Imam Malik juga  pernah berguru pada ulama-ulama terkenal lainnya seperti Hisham bin Urwah, Imam Abu Hanifa, dan Imam Ja’far Al-Shadiq (salah satu keturunan Rasulullah ﷺ).

Selain itu, tinggal di Madinah memberikannya banyak akses ke beberapa cendekiawan Islam paling terpelajar di awal-awal Islam. Terkait Madinah sendiri, Imam Malik memiliki kesannya tersendiri, beliau amat mencintai kota ini. Beliau juga sangat mencintai Rasulullah ﷺ. 

Meskipun tidak pernah bertemu langsung, namun adab Imam Malik kepada beliau ﷺ sangat tinggi dan mulia. Misalnya, beliau menolak menunggangi unta di kota Madinah dikarenakan ia merasa sangat tidak sopan meninggikan badannya di atas tanah Madinah yang mana jasad Rasullullah ﷺ terbaring di bawahnya. 

(Artikel ini bersambung)

###

*Jika konten atau artikel di aplikasi KESAN dirasa bermanfaat, jangan lupa share ya. Semoga dapat menjadi amal jariyah bagi kita semua. Aamiin. Download aplikasi KESAN di Android dan di iOS. Gratis, lengkap, dan bebas iklan. 

**Ingin menulis untuk Kesan dan berbagi ilmu yang berguna? Tunggu apa lagi? Sebab berbagi ilmu itu bukan hanya indah, tetapi juga berpahala. Kirim artikelmu ke salam@kesan.id 

Bagikan artikel ini

Berita terkait