Berita KESAN

  • Redaksi Kesan
  • Artikel
  • Jumat, 02 April 2021

Feed: Jihad bukan untuk Memuaskan Nafsu

Suatu ketika dalam perang Khandaq, Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra. sedang berduel dengan seorang petarung dari pihak musuh. 

Pertarungan berlangsung cukup sengit, tetapi kemenangan masih berpihak pada Ali ra. Beliau akhirnya berhasil membuat musuhnya tersungkur tak berdaya. Ketika hendak dipenggal, musuhnya tiba-tiba meludahi wajah Ali ra.

Sayyidina Ali ra. tersentak, dan beliau terdiam sejenak menenangkan hatinya yang marah. Perlahan beliau mulai menyarungkan pedangnya dan mengurungkan niat untuk mengalahkan musuhnya. Tak tampak kemarahan sebagaimana yang harusnya terjadi, beliau justru menurunkan tensi agresivitas pertarungannya.

“Wahai Ali, kenapa engkau tak jadi memenggal leherku?” tanya si musuh terheran-heran.

“Saat aku berhasil merobohkanmu, aku berniat mengalahkanmu untuk membela agama Allah. Namun, saat kau meludahiku, jiwaku telah dipenuhi amarah, niatku berubah menjadi menuruti emosi dan nafsu. Dan aku tak mau menuruti hawa nafsuku, apalagi membunuh karena nafsu,” jawab Ali ra. tenang.

Tak mampu berkata apa-apa, si musuh hanya bisa terdiam melihat kebijaksanaan dan keluhuran akhlak sahabat Nabi Muhammad ﷺ tersebut.

Jihad melawan nafsu amarah 

Siapakah di antara kita yang bisa bersabar di kala menang saat musuh kita bersikap kurang ajar? 

Tidak semua orang bisa tentunya. Dan umumnya seseorang akan semakin agresif, marah, dan bernafsu untuk menghabisi musuhnya, terlebih ketika musuh yang sombong itu kini tak berdaya. 

Namun, tidak bagi Sayyidina Ali ra. Bisa saja beliau dengan nafsunya menghabisi musuhnya yang sudah tak berdaya. Namun, beliau adalah orang yang dapat membedakan mana perbuatan yang dilakukan ikhlas karena Allah dan mana perbuatan yang dilakukan atas nama nafsu atau amarah. 

Dan perang terhadap hawa nafsu itu adalah salah satu dimensi jihad yang begitu berat. Nabi Muhammad ﷺ pernah bersabda: 

أَفْضَلُ الْجِهَادِ أَنْ يُجَاهَدَ الرَّجُلُ نَفْسَهَ وَ هَوَاهُ

Jihad yang paling utama adalah seseorang berjihad (berjuang) melawan dirinya dan hawa nafsunya (Hadis sahih diriwayatkan oleh Ibnu Najjar dari Abu Dzarr).

Perang pun ada etikanya

Dalam perang sekalipun Islam memiliki etika dan batas-batas: tidak merusak tumbuhan, binatang, anak kecil, perempuan, orang sepuh, dan musuh yang telah menyerah dan tidak berdaya.

Allah berfirman:

وَقَاتِلُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ الَّذِيْنَ يُقَاتِلُوْنَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوْا ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِيْنَ - ١٩٠

Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tetapi jangan melampaui batas. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas (QS. Al-Baqarah [2]: 190).

Kita juga dilarang merusak rumah ibadah orang lain atau membahayakan orang yang di dalamnya. 

وَلَا تَقْتُلُوا الْوِلْدَانَ وَلَا أَصْحَابَ الصَّوَامِعِ

Janganlah kalian membunuh anak-anak dan orang-orang yang mendiami tempat-tempat ibadah (HR. Ahmad no. 2592). 

Melampaui batas

Belum hilang ingatan kita dengan peristiwa bom di Gereja Katedral Makassar hari Minggu lalu, kini kita disuguhi dengan penembakan di Markas Besar Polri Rabu sore, dua hari lalu. 

Tampaknya, belakangan ini, banyak orang telah melupakan intisari ajaran Islam yang sesungguhnya, yakni perdamaian. Ada orang yang baru merasa telah berjuang di jalan Allah kalau siap mencederai atau membunuh secara membabi-buta orang yang dianggapnya lawan -- terlepas seiman maupun tidak seiman. 

Ini bukanlah Islam. Ini adalah penyelewengan terhadap Islam. Rasulullah ﷺ sudah memperingatkan kita akan hal ini. 

وَمَنْ خَرَجَ عَلَى أُمَّتِي يَضْرِبُ بَرَّهَا وَفَاجِرَهَا وَلاَ يَتَحَاشَ مِنْ مُؤْمِنِهَا وَلاَ يَفِي لِذِي عَهْدٍ عَهْدَهُ فَلَيْسَ مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُ

Barang siapa keluar (berontak) dari umatku, lalu membunuh (dengan membabi buta) baik orang-orang baik maupun orang-orang jahat  tanpa mempedulikan (keselamatan) mukmin, tidak menjaga janji keamanan, maka dia bukan golonganku dan aku bukan golongan mereka (HR. Muslim no. 1848). 

Selanjutnya, Islam menyebut membunuh satu orang manusia tanpa sebab sama dengan membunuh seluruh manusia. 

Allah berfirman:

مَنْ قَتَلَ نَفْسًاۢ بِغَيْرِ نَفْسٍ اَوْ فَسَادٍ فِى الْاَرْضِ فَكَاَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيْعًاۗ

Barang siapa membunuh seseorang, bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia (QS. Al-Ma’idah [5]: 32).

Dengan kata lain, membunuh satu nyawa tanpa alasan yang benar itu sama saja melakukan genosida (pembantaian massal) terhadap seluruh manusia.  

Syeikh Muhammad Matwali Sya'rawi pernah berbincang dengan seorang teroris dan bertanya, “Kemanakah (perginya) orang yang kau bunuh (dengan bom) itu setelah kematiannya?’

“Mereka tentu masuk neraka!” jawab teroris itu bangga.

Syeikh Sya'rawi kemudian berkata, “Lho aneh sekali! Masa kerjaanmu sama seperti setan, yaitu suka memasukkan orang ke dalam neraka.”

###

*Jika konten atau artikel KESAN dirasa bermanfaat, jangan lupa share ya. Semoga dapat menjadi amal jariyah bagi kita semua. Aamiin. 

**Ingin menulis untuk Kesan dan berbagi ilmu yang berguna? Tunggu apa lagi? Sebab berbagi ilmu itu bukan hanya indah, tetapi juga berpahala. Kirim artikelmu ke salam@kesan.id   

Bagikan artikel ini

Berita terkait