Berita KESAN

  • Redaksi Kesan
  • Artikel
  • Jumat, 15 Januari 2021

Feed: Ketika Ulama Wafat

Dalam Islam, kematian ulama adalah sesuatu yang sangat menyedihkan, bahkan dianggap sebagai sebuah musibah besar. Hal ini tidak lepas dari pandangan bahwa ulama adalah pewaris para nabi.

Wafatnya ulama adalah musibah

Rasulullah bersabda:

إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak (HR. Abu Dawud no. 3641).

Kematian ulama dianggap sebagai musibah karena para ulama adalah orang-orang yang terdapat pada dirinya berbagai illmu pengetahuan, khususnya ilmu-ilmu keislaman. Ulama, sepertinya halnya nabi, bertindak layaknya guru yang mengajari umat tentang Islam dan kebaikan. Tak kalah penting, para ulama juga menjadi contoh dan teladan bagi umat. 

Tak heran, bila seorang ulama meninggal, maka secara otomatis hilang juga ilmu dari tengah-tengah umat. Inilah yang dimaksud bahwa ulama yang wafat pertanda Allah sedang mencabut ilmu pengetahuan dari hamba-hambanya.

Rasulullah bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا، يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا، اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا، فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ، فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya dari hamba-hamba. Akan tetapi Dia mencabutnya dengan diwafatkannya para ulama sehingga jika Allah tidak menyisakan seorang alim pun, maka orang-orang mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh. Kemudian mereka ditanya, mereka pun berfatwa tanpa dasar ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan (HR. Bukhari no. 100).

Terkait hal tersebut, ulama dari mazhab Syafii Imam Nawawi menjelaskan bahwa maksud dari diangkatnya ilmu bukanlah menghapuskannya dari dada para penghafalnya, tetapi wafatnya para pemilik ilmu tersebut. Ketika para ulama telah wafat, maka manusia akan menjadikan orang yang tidak kompeten untuk memutuskan suatu hukum dengan kebodohan mereka. Akhirnya mereka pun sesat dan menyesatkan orang lain.

Alkisah ketika Zaid bin Tsabit ra., salah seorang sahabat yang ahli Al-Qur’an, wafat, Ibnu Abbas ra. menangis dan berkata, “Wahai manusia! Jika kalian ingin tahu bagaimana ilmu itu diangkat, maka ketahuilah bahwasanya seperti inilah ilmu itu diangkat (dengan wafatnya ulama). Demi Allah, betapa banyaknya ilmu yang diangkat hari ini.”

Ulama adalah rahmat

Keberadaan ulama di tengah-tengah umat adalah rahmat dan berkah. Kehilangan mereka karena wafat adalah kerugian besar bagi umat. Bagaimanapun, ulama adalah orang-orang pilihan yang diberikan amanah besar dari Allah untuk membimbing umat. 

Al-Qur’an dan hadis Rasulullah adalah petunjuk bagi kita semua. Namun, kita tidak dapat memahami keduanya dengan baik tanpa para ulama. Beliau-beliaulah yang menjelaskan kepada kita makna dan hakikat Al-Qur’an dan hadis sehingga kita bisa memahaminya dengan baik. 

Allah berfirman: 

ثُمَّ اَوْرَثْنَا الْكِتٰبَ الَّذِيْنَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَاۚ

Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami (QS. Fathir [35]: 32).

Dalam menjelaskan ayat tersebut, ulama tafsir Ibnu Katsir mengatakan, “Kemudian Kami menjadikan orang-orang yang menegakkan (mengamalkan) Al-Kitab (Al-Qur’an) yang agung sebagai pembenar terhadap kitab-kitab yang terdahulu, yaitu orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, mereka adalah dari umat ini (ulama).”

Robeknya sesuatu yang tak bisa ditambal 

Para ulama terdahulu berpendapat bahwa wafatnya ulama itu bagaikan robeknya pakaian sehingga tampak kekurangannya. Sekalipun berusaha ditambal, tetapi tidak akan sebaik sebelumnya. Mengutip para ulama sebelum beliau, Imam Hasan Al-Bashri berkata, “Wafatnya seorang ulama itu laksana robeknya sesuatu yang tak bisa ditambal, selama masih ada siang dan malam.” 

Sahabat KESAN yang budiman, kita tidak tahu kapan Allah cabut ilmu dan keberkahan di tengah-tengah kita dengan mewafatkan para ulama. Bila masih ada ulama di tengah-tengah kita hari ini, maka hormatilah mereka dan mintalah keberkahan pada diri mereka dengan belajar kepadanya. Jangan sampai kita mendapatkan musibah besar ketika seorang ulama wafat, sementara kita mengabaikan mereka ketika masih hidup.

Ibnu Mas’ud ra. berkata:

Wajib atas kalian untuk menuntut ilmu, sebelum ilmu tersebut diangkat. Hilangnya ilmu adalah dengan wafatnya para periwayatnya (ulama). Demi Zat yang jiwaku ada di tangan-Nya, sungguh orang-orang yang terbunuh di jalan Allah sebagai syuhada, mereka sangat menginginkan agar Allah membangkitkan mereka dengan kedudukan seperti kedudukannya para ulama, karena mereka melihat begitu besarnya kemuliaan para ulama. Sungguh tidak ada seorang pun yang dilahirkan dalam keadaan sudah berilmu. Ilmu itu tidak lain didapat dengan cara belajar (kepada ulama). 

Terakhir, sebelum mengakhiri artikel ini, marilah kita bersama berdoa untuk Syekh Ali Jaber yang wafat kemarin. Semoga Allah menerima segala amal ibadah beliau, mengampuni segala khilaf, dan menganugerahkan beliau tempat terbaik di sisi-Nya.  Al-Fatihah.

 ###

*Jika artikel di aplikasi KESAN dirasa bermanfaat, jangan lupa share ya. Semoga dapat menjadi amal jariyah bagi kita semua.Aamiin. Download atau update aplikasi KESAN di Android dan di iOS. Gratis, lengkap, dan bebas iklan. 

**Ingin menulis untuk KESAN dan berbagi ilmu yang berguna? Tunggu apa lagi? Sebab berbagi ilmu itu bukan hanya indah, tetapi juga berpahala. Kirim artikelmu ke salam@kesan.id 

Bagikan artikel ini

Berita terkait