Berita KESAN

  • Redaksi Kesan
  • Artikel
  • Selasa, 28 Januari 2020

Feed: Mengenal Imam Syafii: Masa Kecil Sang Imam (1)

Di sebuah lembah luas nan tenang, terdengar suara anak kecil berusia dua tahun yang sedang menangis. Tampak ibunya sedang memeluk dan menempelkan si anak ke dadanya sembari menepuk-nepuk ringan pundak si anak dengan penuh kasih sayang.

Sang anak dengan cepat terlelap dalam tidurnya, sementara sang ibu menengok ke atas, memandangi cakrawala seraya bergumam pelan, “Semoga Allah mengampuni jiwa Ibnu Muhammad (suaminya), dia telah membawa kami dari Mekah ke Gaza untuk memberi makan kami serta memberi kehidupan yang lebih baik, hanya saja ia telah wafat dan dimakamkan di tempat ini. Saat ini aku sedang dalam perjalanan menuju Mekah untuk menyaksikan putramu tumbuh di antara suku dan klannya, Bani Al-Muthalib.”

Sang ibu menangis tersedu mengingat memori beberapa tahun silam saat ia menghabiskan waktu bersama suaminya di Palestina. Ibnu Muhammad adalah sosok suami, saudara, dan sahabat terbaik baginya. Namun apa daya, semuanya telah berlalu secepat awan atau seperti mimpi yang indah di siang bolong.

Di Mekah Al-Mukarromah, sang ibu tinggal bersama anaknya di bawah perlindungan keluarga suaminya. Ia membesarkan anaknya dengan memberikan pendidikan dan arahan yang baik. Diberikannya cinta serta kasih sayang yang sempurna, sehingga sang anaknya tumbuh dengan jiwa yang teguh, sifat yang teduh, dan akhlak yang mulia. 

Perempuan mulia itu mengajarkan anaknya Al-Qur’an—membaca dan menulis—yang menjadikan sang anak memiliki pengetahuan mendasar cabang agama Islam lainnya. Selain mengajarinya sendiri, sang ibu mengirim si anak ke sebuah sekolah dasar kecil meski dalam keadaan miskin dan tidak mampu membayar upah pengajar.

Anak itu bernama Muhammad. Saat pertama kali ia ke sekolah, sang guru yang melihat si anak yang tidak mampu berjalan dengan benar, berkata dengan nada meragukan (kemampuannya), “Duduklah di sini, dengarkanlah seniormu, barangkali dengan begitu kau akan terbiasa membaca dan menghafal.”

Namun, anak bernama Muhammad Ibnu Idris As-Syafii tersebut memiliki kecerdasan yang luar biasa. Ia dengan mudah dan cepat menangkap apa saja yang diajarkan serta didiktekan oleh gurunya. Setiap hari, di sekolah kecil tersebut, pengetahuannya selalu meningkat bersamaan dengan antusiasmenya untuk belajar lebih banyak hal lagi.

Hal itu telah membuat gurunya sangat mencintainya dan dengan penuh semangat selalu mendorong Syafii kecil untuk terus maju. Dari waktu ke waktu, anak kecil itu kemudian tumbuh menjadi seorang anak yang memiliki kemampuan lebih dan kedudukan yang terhormat. 

“Anakku, kau sangat cerdas dan pandai, sampai-sampai aku hampir tidak melakukan usaha apa pun untuk mencerdaskanmu. Aku ingin kau menggantikanku mengajar saat aku tidak hadir,” kata sang guru.

Betapa gembiranya Syafii kecil mendengar hal itu. Diberikannya kepercayaan oleh sang guru (untuk menggantikannya mengajar) itu berarti pertanda bahwa ia tidak perlu lagi untuk membayar upah sang guru. 

Segera, bergegaslah ia pergi ke rumah menemui sang ibu untuk mengabarkan berita gembira tersebut. Sesampai di rumah, Syafii kecil berkata, “Ibu, aku diberikan kepercayaan oleh guru untuk menggantikannya mengajar sewaktu-waktu ketika ia tidak hadir.”

Sang ibu yang mendengar kabar baik itu sangat bahagia dan tampak matanya berkaca-kaca terharu.

“Ini berarti, aku tidak perlu lagi membayar upah guruku, ibu. Beliau telah membebaskan biaya pendidikanku,” lanjut Syafii kecil menerangkan.

Ibunya yang memiliki sifat luhur itu sangat senang dengan keunggulan putranya. Ia semakin mendorong anaknya untuk terus belajar. Ini membuat Syafii kecil secara aktif giat mempelajari dan menyelesaikan hafalan Al-Qur’an. Dan tepat, di usianya yang ke tujuh, Syafii kecil berhasil menghafalkan seluruh Al-Qur’an. 

Dalam kebahagiaan yang luar biasa atas pencapaian anaknya tersebut, sang ibu kemudian mulai berpikir untuk menyekolahkan anaknya ke jenjang yang lebih baik. Lalu, dikirimlah Syafii kecil ke Mekah untuk mengikuti pendidikan yang ada di sekitar Masjidil Haram.

Ia kemudian mendengarkan setiap ulama yang mengajar dengan saksama. Sebagai anak dari keluarga yang tidak mampu, ia tidak mampu membeli buku, maka ia menulis menggunakan perkamen (alat tulis dari kulit binatang), daun palem, bahkan tulang pundak unta.

Selama periode awal pendidikannya, Syafii kecil menyadari bahwa mempelajari bahasa Arab klasik sangatlah penting untuk memahami sumber-sumber agama yang murni: Al-Qur’an, dan Sunnah dengan cara terbaik. 

Untuk mencapai hal tersebut, ia kemudian pergi ke suku Huthail, salah satu suku Arab yang bahasa Arabnya paling fasih, lalu ia tinggal bersama mereka selama bertahun-tahun untuk mempelajari bahasa mereka, menghafal puisi, serta biografi orang-orang Arab dari era pra Islam dan era Islam sendiri.

(Bersambung ke artikel selanjutnya)

###

*Jika konten atau artikel di aplikasi KESAN dirasa bermanfaat, jangan lupa share ya. Semoga dapat menjadi amal jariyah bagi kita semua. Aamiin. Download aplikasi KESAN di Android dan di iOS. Gratis, lengkap, dan bebas iklan. 

**Ingin menulis untuk Kesan dan berbagi ilmu yang berguna? Tunggu apa lagi? Sebab berbagi ilmu itu bukan hanya indah, tetapi juga berpahala. Kirim artikelmu ke salam@kesan.id 

Bagikan artikel ini

Berita terkait