Berita KESAN

  • Redaksi Kesan
  • Artikel
  • Rabu, 21 April 2021

Feed: Perempuan Pendiri Universitas Pertama di Dunia

Karen Armstrong, dalam bukunya Islam: A Short History, mendaulat Nabi Muhammad ﷺ sebagai pembaharu sosial (social reformer) yang berupaya mengangkat dan mengeluarkan kaum yang lemah, miskin, dan perempuan dari siklus penindasan ekonomi dan sosial.

“Emansipasi perempuan,” ujar Karen, “adalah suatu misi yang dekat di hati sang Nabi.” 

Mantan biarawati yang kemudian menjadi sejarawati itu menegaskan bagaimana “Al-Qur'an telah memberi perempuan hak waris dan hak cerai berabad-abad lebih dulu sebelum perempuan di Barat mendapat hak-hak tersebut.”

Selain dengan perintah agama, salah satu cara memutus rantai ketimpangan sosial dan ekonomi yang diadvokasikan oleh Nabi Muhammad ﷺ adalah lewat jalur pendidikan dan pentingnya mencari ilmu bagi siapa pun.

“Bacalah” adalah kata sekaligus perintah pertama dalam Al-Qur’an. Selain itu, Nabi Muhammad ﷺ  menegaskan bahwa  “mencari ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim” (HR. Ibnu Majah no. 224).

Fatimah Al-Fihri: Perempuan Pejuang Pendidikan

Salah satu contoh panutan dari emansipasi perempuan dan pentingnya ilmu ada pada perjuangan Fatimah Al-Fihri dalam membangun universitas pertama di dunia.

Terlahir di keluarga berada dan berpendidikan, Fatimah tidak hanya mewarisi harta ayahnya yang begitu banyak, tetapi juga semangat untuk mencari dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan.

Sebab bisa saja perempuan lain yang berada dalam posisinya, di mana ia mewarisi begitu banyak harta akan terlena dan hanya fokus pada dirinya sendiri. Namun, tidak bagi Fatimah Al-Fihri.

Jika adiknya, Mariam, membangun Masjid Al-Andalus, Fatimah tidak mau kalah dalam melaksanakan kebaikan. Bahkan, ia mempunyai cita-cita yang lebih tinggi lagi.

Pertama, dia menginisiasi dan memimpin sendiri proyek pembangunan masjid terbesar di Afrika Utara yang diberi nama Masjid Al-Qarawiyyin di kota Fez, Maroko.

Dari mulai pencarian lokasi, penggalian sumur, pemilihan material, rancangan arsitektur, hingga pengerjaanya, Fatimah memimpin langsung pembangunan masjid yang memakan waktu hingga tiga tahun. Konon selama memimpin pembangunan masjid, Fatimah senantiasa berpuasa.

Setelah selesai dengan pembangunan masjid terbesar di Afrika Utara pada tahun 859, Fatimah tidak lantas berpuas diri. Memanfaatkan lingkungan masjid yang luas, ia lalu mendirikan madrasah yang kemudian berkembang menjadi universitas.

Berdasarkan UNESCO dan Guinness World Records, Universitas Al-Qarawiyyin adalah universitas pertama dan juga tertua di dunia yang memberikan gelar bagi para lulusannya.

Di kala (sebagian besar) perempuan di Eropa belum boleh membaca, perempuan Islam bernama Fatimah Al-Fihri sudah berhasil mendirikan sentra agama dan pendidikan.

Universitas pertama di Eropa pun baru muncul kira-kira dua abad setelah pendirian Universitas Al-Qarawiyyin, yaitu Universitas Bologna di Italia pada 1088 dan Universitas Oxford di Inggris pada 1096.

Fatimah sebagai pendiri dari Universitas Al-Qarawiyyin juga terdaftar sebagai salah satu murid pertama dari universitas tersebut. Ijazah Fatimah, yang terukir indah di papan kayu, masih dipajang di perpustakaan Universitas Al-Qarawiyyin hingga saat ini.

Sebagai pencinta ilmu, Fatimah pun sering menghadiri kuliah-kuliah umum hingga akhir hayatnya sekitar tahun 880.

Universitas Al-Qarawiyyin: Inkubator Ilmuan Hebat

Lambat laun, kehadiran Universitas Al-Qarawiyyin menjadi magnet tersendiri bagi para pencari dan pencinta ilmu lainnya—baik yang muslim maupun non-muslim, baik yang berasal dari benua Asia, Afrika, bahkan hingga Eropa.

Sosiolog pertama dan salah satu pelopor ilmu Ekonomi di dunia, Ibnu Khaldun, pernah mengenyam pendidikan di sana.

Jika saja Bapak Ekonomi Dunia, Adam Smith, sempat mampir ke perpusatakaan Universitas Al-Qarawiyyin, niscaya ia akan mendapati ide-ide dalam bukunya Moral Sentiments (1759) sudah lebih dulu diuraikan oleh Ibnu Khaldun 400 tahun sebelumnya.

Filsuf tersohor dari Andalusia, Ibnu Rushd, yang memegang peranan kunci dalam penyebaran filsafat Aristotelian ke Eropa, juga tercatat sebagai lulusan Universitas Al-Qarawiyyin. Begitu pula kontemporarinya yang bernama Maimonides, seorang filsuf dan pemikir Yahudi yang mumpuni hingga ia disebut “Musa Kedua”.

Seorang ilmuwan asal Prancis bernama Gerbert d'Aurillac pernah juga belajar di Universitas Al-Qarawiyyin. Di kemudian hari, ia dikenal sebagai Paus Sylvester II yang mengenalkan sistem desimal dan angka Arab ke Eropa dan mengganti sistem angka Romawi kuno yang telah dipakai lebih dari 1.000 tahun. Sistem desimal dan angka Arab inilah yang digunakan di (hampir) seluruh dunia hingga saat ini.

Dari Nabi Muhammad ﷺ ke Fatimah Al-Fihri

Reformasi, emansipasi, dan pesan Nabi Muhammad ﷺ menemukan implementasinya pada diri Fatimah Al-Fihri. Dengan iman, ilmu, dan amalnya, ia berhasil mendirikan sentra agama dan pendidikan terbaik di zamannya.

Dan hingga kini, 1160 tahun lebih, sejak Masjid dan Universitas al-Qarawiyyin pertama kali berdiri, syiar Islam dan praktik pendidikan tak pernah berhenti. Tak terbayang betapa banyak kebaikan dan kemajuan umat dan manusia secara umum berkat kegigihan seorang perempuan bernama Fatimah Al-Fahri dalam meletakkan fondasi pendidikan mengikuti jejak reformasi sang Nabi.

Referensi: Armstrong, Karen. Islam: A Short History. Phoenix Press, 2009; “Turning Points in Middle Eastern History.” Performance by Eamonn Gearon Gearon, The Great Courses, 2016.

###

*Jika artikel di aplikasi KESAN dirasa bermanfaat, jangan lupa share ya. Semoga dapat menjadi amal jariyah bagi kita semua.Aamiin. Download atau update aplikasi KESAN di Android dan di iOS. Gratis, lengkap, dan bebas iklan. 

**Ingin menulis untuk KESAN dan berbagi ilmu yang berguna? Tunggu apa lagi? Sebab berbagi ilmu itu bukan hanya indah, tetapi juga berpahala. Kirim artikelmu ke salam@kesan.id

Bagikan artikel ini

Berita terkait