Berita KESAN

  • Redaksi Kesan
  • Artikel
  • Rabu, 28 Oktober 2020

Feed: Tips Menjadi Pemuda-Pemudi Islam

Masa muda adalah fase hidup yang amat penting. Karena di masa ini, seorang manusia (pada umumnya) mulai memutuskan jalan hidupnya sendiri. Terkadang di fase usia ini pula para pemuda-pemudi mulai menghadapi banyak godaan dan ujian dunia, baik itu eksposur terhadap minuman keras, obat-obatan terlarang, dunia malam, perjudian, hingga seks bebas. Sehingga jika masa ini tidak dikelola dengan baik, maka mereka dapat terjebak pada hal-hal negatif yang berdampak buruk bagi hidupnya.

Berikut adalah tiga tips umum yang bisa diamalkan untuk pemuda-pemudi muslim agar tetap istikamah dalam kehidupannya.

1. Patuhi dan hormatilah (nasihat) orang tua

Terkadang sebagian pemuda-pemudi berpikir bahwa mereka mengetahui segalanya dibanding yang lain. Bahkan tak jarang mereka berpikir bahwa mereka jauh lebih tahu dan paham dari orang tuanya sendiri. Akhirnya, nasihat tulus dari orang tua mereka tak diindahkan. 

Bisa saja seorang pemuda-pemudi lebih tahu dari orang tuanya sendiri tentang sesuatu, tapi dalam soal pengalaman, orang tua bisa jadi lebih paham dan ahli.

Allah berfirman: 

وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًاۗ

Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak (QS. Al-Isra [17]: 23).

Rasulullah ﷺ bersabda:

 ‏ رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِ

Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua dan murka Allah tergantung pada murka orang tua (HR. Tirmidzi no. 1899). 

Tentu yang dimaksud dalam hadis ini adalah ridha dalam sesuatu yang benar dan tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam.

Mengikuti nasihat baik dari orang tua akan membuat mereka (orang tua) senang dan ridha kepada kita. Ini artinya jika mereka (orang tua) ridha kepada kita, maka Allah pun ridha kepada kita. Jika Allah sudah ridha, maka insyaAllah kita akan selamat dunia akhirat.

Terlebih lagi jika orang tua sudah berusia lanjut, maka sangatlah penting bagi pemuda-pemudi untuk menjaga serta melayani orang tuanya dengan baik. Orang tua yang telah membesarkan kita dengan baik adalah orang yang paling pantas menerima kebaikan dan perhatian dari kita saat mereka sudah berusia lanjut dan betul-betul memerlukan bantuan dari kita. 

Dalam sebuah hadis disebutkan: 

أَنَّ النَّبِيَّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - سُئِلَ: أَيُّ النَّاسِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: مُؤْمِنٌ بَيْنَ كَرِيمَيْنِ

Nabi ﷺ pernah ditanya tentang siapa manusia yang terbaik. Beliau ﷺ menjawab, “Seorang mukmin yang melayani kedua orang tuanya yang mulia” (Mujam Thabarani Kabir no. 165).

2. Memanfaatkan waktu seefektif mungkin 

Imam Al-Ghazali berkata, “Waktumu adalah kehidupanmu, dan layaknya es, ia akan terus mencair. Maka janganlah kamu biarkan waktumu terbuang percuma. Ketahuilah perlu ada struktur dalam setiap waktumu. Oleh karena itu, kamulah yang harus mengatur bagaimana kamu menghabiskan waktu siang dan malammu, mengatur rutinitas ibadahmu, dan menetapkan aktivitas (ibadah) untuk setiap periode waktu.”

Pada umumnya usia manusia itu sangatlah singkat. 

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَعْمَارُ أُمَّتِي مَا بَيْنَ سِتِّينَ إِلَى سَبْعِينَ وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ

Usia umatku (umumnya berkisar) antara 60 sampai 70 tahun. Jarang sekali di antara mereka melewati (angka) itu (HR. Tirmidzi no. 3550).

Oleh karenanya, gunakanlah waktu muda seefektif dan sebermanfaat mungkin. Misalnya, belajar ilmu agama di pesantren, menuntut ilmu di sekolah atau perguruan tinggi, membaca buku, mengikuti kegiatan yang menumbuhkan minat dan bakat positif. Jangan hanya waktu yang begitu berharga terbuang begitu saja di media sosial atau di depan layar televisi. 

Bagaimanapun, usia adalah sesuatu yang tidak bisa dibeli dan terulang kembali. Jika kita telah memilih, maka pilihan itu tidak bisa diulangi kembali. Jika pilihan itu adalah pilihan salah dan membuat kita rugi, maka yang ada hanyalah penyesalan.

Waktu itu sangatlah penting hingga Allah, Pencipta Seluruh Makhluk dan Alam,  bersumpah atasnya: 

وَالْعَصْرِۙ, اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ ࣖ

Demi masa (waktu), sungguh, manusia berada dalam kerugian.Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.  (QS. Al- ‘Asr [103]: 1-3).

Rasulullah ﷺ bersabda:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang (HR. Bukhari no. 6412).

Adapun Imam Ali bin Abi Thalib ra. berkata, “Ada dua hal di mana manusia tidak menyadari keagungannya sampai mereka kehilangannya: usia muda dan kesehatan yang baik.”

3. Jauhi aktivitas (melihat, mendengarkan, dan mempraktikan) yang dilarang Islam

Poin ini sangat penting bagi pemuda agar terhindar dari aktivitas negatif dan membuatnya salah langkah. Hendaklah mereka memperhatikan apa yang mereka akan dan telah lakukan, dengan siapa mereka bergaul, dan dengan siapa mereka belajar.

Pemuda-pemudi yang istikamah dalam kebenaran dan menjauhi perbuatan haram adalah pemuda-pemudi yang dibanggakan Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda: 

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَعْجَبُ مِنْ الشَّابِّ لَيْسَتْ لَهُ صَبْوَةٌ

Sungguh Allah kagum dengan pemuda (pemudi) yang tidak memilki shabwah (kecondongan untuk menyimpang dari kebenaran dan mengikuti hawa nafsunya) (HR. Ahmad no. 16731). 

Sementara terkait dengan teman bergaul, Rasulullah ﷺ bersabda:

‏ مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً

Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap (HR. Bukhari no. 5534 & Muslim no. 2628).

Adapun terkait dengan siapa kita belajar, dalam tradisi keilmuan Islam Ahlussunnah wal Jamaah, hendaklah belajar agama kepada guru yang sanadnya (keilmuan dan jalur keilmuannya) jelas.

Imam Syafii berkata, “Tiada ilmu tanpa sanad.”

Pada intinya, seorang guru haruslah orang yang mampu membawa muridnya kepada Allah dan mengingatkan kita kepada-Nya.

Para ulama terdahulu berkata, “Siapakah guru yang paling baik? Ialah orang yang bila kamu lihat, akan mengingatkanmu kepada-Nya; bila kamu dengar ucapannya, akan menambah ilmumu; bila kamu perhatikan amalannya, akan mengingatkanmu pada akhirat.” 

Demikianlah tips menjadi pemuda-pemudi Islam. Semoga kita umat Islam dan pemuda-pemudi Islam khususnya, dapat memberikan yang terbaik kepada Islam dan menjaga diri kita dari ketergelinciran yang membawa kita jauh dari prinsip-prisip ajaran Islam. Aamiin.

###

*Bagi Sahabat KESAN yang ingin membantu pesantren terbebas dari virus Covid-19, Sahabat bisa ikut berinfak melalui KESAN dengan klik link ini. Infak yang terkumpul akan digunakan untuk membeli alat rapid test dan disalurkan kepada pesantren-pesantren yang membutuhkan. Tidak ada infak yang terlalu kecil, berapa pun insyaAllah bermanfaat. 

**Jika artikel di aplikasi KESAN dirasa bermanfaat, jangan lupa share ya. Semoga dapat menjadi amal jariyah bagi kita semua. Aamiin. Download atau update aplikasi KESAN di Android dan di iOS. Gratis, lengkap, dan bebas iklan.

Bagikan artikel ini

Berita terkait