Berita KESAN

  • Redaksi Kesan
  • Artikel
  • Sabtu, 17 Agustus 2019

Hari Kemerdekaan Bid'ah atau Mubah?

Ada yang mengatakan merayakan hari raya kemerdekaan (atau perayaan selain Idul Fitri dan Idul Adha) adalah bid’ah. Ada pula yang membolehkannya. 

Artikel ini melanjutkan artikel sebelumnya yang berjudul “Tanya Kiai: Bid’ah-kah Memperingati HUT RI?”.

Di artikel ini, kami coba menampilkan pendapat (fatwa) ulama dan ahli fikih terkemuka Syekh Abdullah bin Bayyah terkait hal ini.

Berikut adalah pendapat beliau:

Hari libur yang memperingati kemerdekaan suatu negara bukanlah hari raya berbasis atau bernuansa agama. 

Hari libur yang dilarang bagi umat Islam untuk diperingati adalah hari libur bernuansa agama (misalnya Natal atau Paskah)—bukan perayaan meriah yang diperingati masyarakat karena acara-acara tertentu. 

Oleh karena itu, orang-orang dibolehkan untuk merayakan ulang tahun pernikahan, ulang tahun, atau acara apa pun asalkan perayaan tersebut tidak terkait dengan hari libur keagamaan. 

Sangat penting bagi kita semua untuk berupaya menghilangkan kebingungan seputar kesalahpahaman ini dan keraguan yang telah memengaruhi banyak orang. 

Kesalahpahaman ini sering membuat orang merasa sulit menjalankan agama mereka. Terutama ketika orang yang beragama menganggap perayaan non-agama sebagai dosa-dosa besar atau perbuatan yang tertolak (dalam hal agama), padahal sebenarnya tidak.

Perlu untuk kita pahami bersama kaidah hukum Islam yang berbunyi:

ﺍَﻷَﺻْﻞُ ﻓِﻰ ﺍْﻷَﺷْﻴَﺎﺀِ ﺍْﻹِ ﺑَﺎ ﺣَﺔ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﺪُ ﻝَّ ﺍْﻟﺪَّﻟِﻴْﻞُ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﺘَّﺤْﺮِﻳْﻢِ

Hukum asal dari sesuatu adalah mubah sampai ada dalil yang melarangnya (Imam As-Suyuthi, dalam Al- Asyba' wan Nadhoir: 43)

Karena hukum asal dari segala sesuatu adalah mubah, maka tidak mengapa bila seseorang menghadiri dan memperingati hari kemerdekaan suatu negara. 

Mahzab Hambali, misalnya, membolehkan untuk memperingati Al-’Atirah (atau Rajabbiyah), yaitu acara berkurban di bulan Rajab yang diperingati oleh orang-orang sejak sebelum kedatangan Rasulullah ﷺ. 

Mahzab Maliki, di sisi lain, memakruhkannya karena acara itu adalah tradisi dari zaman sebelum Rasulullah ﷺ.

Tidak adanya teks (baik dari Alquran, hadis, atau ijma para ulama) yang menyebutkan secara eksplisit haramnya Al-’Atira menjadi argumen dari para ulama Hambali untuk membolehkan orang-orang untuk memperingati Al-’Atirah. 

Jadi, bila orang-orang zaman sekarang berkumpul untuk merayakan kemerdekaan negaranya, maka itu tidak mengapa. 

Hadis Idul Fitri dan Idul Adha  

Lalu bagaimana dengan hadis Rasulullah ﷺ yang mengatakan bahwa “Allah telah mengganti kedua perayaan dengan yang lebih baik bagi kalian, yaitu hari raya Idul Fitri dan Idul Adha”? (HR. An-Nasa'i no. 1556).

Yang dimaksud “kedua perayaan” dalam hadis itu adalah perayaan bernuansa agama: satu perayaan Nasrani dan yang satu lagi perayaan pagan. 

Rasulullah ﷺ memang berkata bahwa hari raya Islam itu ada dua: Idul Fitri dan Idul Adha. Tetapi itu bukan berarti Rasulullah ﷺ melarang orang-orang berkumpul dan merayakan acara-acara non-agama. 

Sekalipun seseorang menganggap perayaan itu makruh (tidak disukai), janganlah ia menggangu orang lain dengan mempersulit hal-hal yang tidak dilarang oleh Alquran, hadis, atau ijma para ulama. 

Prinsip Agama Islam 

Kemudahan dan keringanan adalah bagian dari prinsip agama Islam sebagaimana firman-firman Allah: 

وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِى الدِّيْنِ مِنْ حَرَجٍۗ

Dia tidak menjadikan kesukaran untukmu dalam agama (QS. Al-Hajj: 78).  

يُرِيْدُ اللّٰهُ اَنْ يُّخَفِّفَ عَنْكُمْ

Allah hendak memberikan keringanan kepadamu (QS. An-Nisa’: 28) 

Rasulullah ﷺ bersabda:

يَسِّرُوا وَلاَ تُعَسِّرُوا، وَبَشِّرُوا وَلاَ تُنَفِّرُوا

Permudah (terkait masalah agama) jangan mempersulit, beri kabar gembira dan jangan buat mereka lari (dari Islam) (HR. Bukhari no. 69). 

Jadi, aturan dasar dalam agama ini adalah untuk mempermudah: mempermudah umat Islam dalam menjalankan agama Islam. 

Kesimpulannya, hari kemerdekaan suatu negara bukanlah hari Ied atau bernuansa agama (sehingga boleh untuk merayakannya). 

Referensi: beberapa artikel dan fatwa di binbayyah.net

###

*Punya pertanyaan terkait Islam? Jangan ragu mengirimkannya kepada kami di salam@kesan.id. InsyaAllah akan kami teruskan kepada para ustaz dan kiai untuk dicarikan jawabannya.

Bagikan artikel ini

Berita terkait