Berita KESAN

  • Redaksi Kesan
  • Artikel
  • Rabu, 14 Agustus 2019

Kayu Kecil dan Kayu Besar

Alkisah, di suatu sore yang cukup lengang, seorang lelaki tua berjalan di tepian sungai. Menikmati suasana alam, gemericik air yang dirasakannya seolah seperti simfoni musik. Jiwanya menemukan kedamaian di tengah alam terbuka. Rasa penat setelah seharian bekerja pun memudar. 

Namun, kedamaian itu terusik ketika ia dikagetkan oleh suara isak tangis seseorang. Suaranya lamat-lamat terdengar. Penasaran, ia mencari sumber tangisan itu: seorang bocah kecil, tertunduk, menangis sesenggukan. Badannya bergoyang ritmik karena tangis itu. 

Ada apa gerangan? Kenapa bocah itu menangis? Bukankah hidup seorang bocah penuh dengan permainan dan tawa ceria? Apakah ia kehilangan permainannya? Atau disakiti oleh kawan sepermainan? Sang lelaki tua itu bergumam pada dirinya. 

Penasaran dengan tangisan bocah tersebut, lelaki tua itu bertanya, “Nak, kenapa engkau menangis?” sambil dielusnya kepala si bocah. 

Si bocah menjawab lirih, “Aku membaca Alquran hingga ayat yang berbunyi: 

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ

Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu (QS. At-Tahrim: 6). 

Dan aku takut Allah menjebloskanku ke dalam Neraka.” 

Jawaban itu, mengagetkan lelaki tua itu. Sebuah jawaban tak terduga dari bocah yang belum akil balig. 

Dengan niat untuk menenangkan bocah kecil itu, sang lelaki tua berkata, “Wahai anak kecil, janganlah kau bersedih. Kau masih kecil dan tergolong orang yang dijaga. Engkau tak layak masuk neraka.” 

Bocah itu terdiam sejenak, kemudian menjawab, “Bapak, pernahkan engkau berpikir, manusia bila menyalakan api dalam sebuah tungku, maka yang dimasukkan pertama kali adalah kayu-kayu kecil, baru kemudian kayu-kayu besar?”

Jawaban sang bocah mengagetkan lelaki tua itu. Sebagai orang yang sudah makan asam garam kehidupan dan menemukan banyak hikmah sepanjang hidupnya, ia merasa tersindir. 

Ia pun menangis tersedu dan mengadu pada Tuhannya. 

“Ya Allah, bocah ini ternyata lebih takut neraka dibanding aku yang sudah tua ini,” serunya. 

Sejak pertemuan tersebut, lelaki tua itu semakin rajin beribadah. Sisa hidupnya ia habiskan untuk menemukan jalan mendekatkan diri kepada Allah. 

Begitulah hikmah. Ia bisa datang dari mana saja. Dari ucapan ulama yang alim hingga tangis bocah biasa. 

Pertanyaannya adalah: ketika ia datang dari tempat yang tak disangka-sangka, cukup tawadhu’ kah kita menangkapnya? 

~ Hikmah itu adalah barang yang hilang milik orang yang beriman. Di mana saja ia menemukannya, maka ambillah (HR. Tirmidzi no. 2687; hasan menurut Imam As-Suyuti) 

Referensi: Utsman ibn Hasan Ibn Ahmad Syakir al-Khubawi, Dzurrah al-Nashihin, hal 250

###

*Tahu kisah-kisah singkat tapi sarat makna dan inspiratif? Jangan ragu untuk mengirim kisah-kisah tersebut ke redaksi Kesan. Tunggu apa lagi? Sebab berbagi ilmu itu bukan hanya indah, tetapi juga berpahala. Kirim artikelmu ke salam@kesan.id.

Bagikan artikel ini

Berita terkait