Berita KESAN

  • Redaksi Kesan
  • Artikel
  • Rabu, 26 Juni 2019

Kemukjizatan Al-Qur’an dari Segi Angka-Angka

Oleh Muhammad Hamdi, M.Ag, Pembina Pesantren Al Firdaus Buntet Pesantren Cirebon

Kedudukan Al-Qur'an sebagai mukjizat terbesar Rasulullah menjadikan kajian tentangnya tidak akan pernah habis meskipun telah banyak penelitian dilakukan. 

Salah satu dari sekian banyak kajiannya adalah mengenai diksi dan redaksi kalimat. Penemuan-penemuan yang dihasilkan oleh sejumlah pakar semakin menambah ketakjuban dan keyakinan bahwa Al-Qur'an bukan buatan atau rekayasa makhluk, melainkan kalam Ilahi.

Al-Qur'an menggunakan diksi-diksi dengan tujuan-tujuan tertentu. Seperti kata "angin" yang di satu sisi menjadi kebaikan dan rahmat, namun di sisi lain menjadi bencana dan siksa. 

Untuk menunjukkan makna kebaikan dan rahmat, Al-Qur'an menggunakan kata "الرِّيَاح", dalam bentuk plural (jamak). Sebagaimana Firman Allah:

وَهُوَ ٱلَّذِي يُرسِلُ ٱلرِّيَٰحَ بُشْرَا بَينَ يَدَيْ رَحمَتِهِۦۖ (الأعراف: ٥٧)

“Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa kabar gembira, mendahului kedatangan rahmat-Nya (hujan)." (QS. Al-A’raaf: 57)

Lihatlah juga Surah Al-Furqan ayat 48, Ar-Rum ayat 46, dan An-Naml ayat 63.

Sedangkan angin yang menjadi bencana digunakan kata "الرِّيح", dalam bentuk singular (mufrad). Sebagaimana dalam Firman Allah:

مَثَلُ مَا يُنفِقُونَ فِي هَٰذِهِ ٱلحَيَوٰةِ ٱلدُّنيَا كَمَثَلِ رِيحٍ فِيهَا صِرٌّ أَصَابَتْ حَرْثَ قَومٍ ظَلَمُواْ أَنفُسَهُمْ فَأَهْلَكَتْهُ (آل عمران: ١١٧)

"Perumpamaan harta yang mereka infakkan di dalam kehidupan dunia ini, ibarat angin yang mengandung hawa sangat dingin, yang menimpa tanaman (milik) suatu kaum yang menzhalimi diri sendiri, lalu angin itu merusaknya." (QS. Ali Imran: 117).

Allah juga berfirman:

وَفِي عَادٍ إِذ أَرسَلنَا عَلَيهِمُ ٱلرِّيْحَ ٱلعَقِيمَ (الذاريات: ٤١)

"Dan (juga) pada (kisah kaum) ‘Ad, ketika Kami kirimkan kepada mereka angin yang membinasakan." (QS. Adz-Dzariyat: 41)

Hanya ada satu ayat yang bermakna angin yang baik, namun itupun disertai dengan penyebutan angin yang buruk, yakni firman Allah dalam Surah Yunus ayat 22:

حَتَّىٰ إِذَا كُنتُم فِي ٱلفُلكِ وَجَرَيْنَ بِهِم بِرِيحٍ طَيِّبَةٍ وَفَرِحُواْ بِهَا جَاءَتهَا رِيحٌ عَاصِفٌ وَجَاءَهُمُ ٱلـمَوجُ مِن كُلِّ مَكَانٍ وَظَنُّواْ أَنَّهُم أُحِيطَ بِهِمْ دَعَوُاْ ٱللَّهَ مُخلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ.

“Sehingga ketika kamu berada di dalam kapal, dan meluncurlah (kapal) itu membawa mereka (orang-orang yang ada di dalamnya) dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya; tiba-tiba datanglah badai dan gelombang menimpanya dari segenap penjuru, dan mereka mengira telah terkepung (bahaya), maka mereka berdoa dengan tulus ikhlas kepada Allah semata." (QS. Yunus: 22).

Pemilihan kata yang digunakan di dalam Al-Qur'an tidak terjadi karena kebetulan. Hal ini terbukti dengan adanya keseimbangan jumlah kata yang membuktikan kemukjizatannya. Kemukjizatan inilah yang disebut dengan "i'jaz 'adadi" atau kemukjizatan yang bersifat bilangan atau angka. Berikut ini beberapa di antaranya:

  1. Kata "ad-dunya " terulang sebanyak 115 kali, sama dengan lawan katanya, "al-akhirah". 
  2. Kata "al-mala’ikah" terulang sebanyak 88 kali, sama dengan kata "asy-syayathin".
  3. Kata "al-hayat" (hidup) terulang sebanyak 145 kali, sama dengan kata "al-maut" (kematian).
  4. Kata "al-iman" terulang 18 kali, sama dengan kata "al-kufr".
  5. Kata "qalu" (mereka berkata) yang merupakan ucapan makhluk, terulang sebanyak kata "qul" (katakanlah!) yang merupakan perintah Allah kepada makhluk-nya.
  6. Kata "al-harr", panas, terulang 4 kali, sama dengan kata "al-bard", dingin. 
  7. Kata "iblis" disebut sebanyak 11 kali, sama dengan kalimat isti'adzah (memohon perlindungan kepada Allah) di dalam Al-Qur'an.
  8. Kata "as-sayyi'at" yang menjadi kebalikan "ash-shalihat" masing-masing disebut sebanyak 180 kali. 
  9. Kata "asy-syahr" yang berarti "bulan", disebut sebanyak 12 kali, sesuai jumlah bulan dalam satu tahun. 
  10. Kata "al-yaum" yang berarti “hari”, dalam bentuk mufrad, disebut sebanyak 365 kali, sesuai dengan jumlah hari dalam satu tahun Syamsiyah. 
  11. Kata "al-ayyam", dalam bentuk jamak, disebutkan sebanyak 30 kali, sesuai jumlah hari dalam satu bulan.
  12. Kata "sa'ah (ساعة)" yang didahului oleh harf (bukan ism atau fi'l) disebutkan sebanyak 24 kali, sama dengan jumlah jam dalam satu hari. 
  13. Kata "sab' (سبع)" yang artinya “tujuh” yang dikaitkan dengan "samawat” (langit), disebutkan sebanyak 7 kali. 
  14. Kata sujud dan derivasinya yang dilakukan oleh mereka yang berakal, disebutkan sebanyak 34 kali, sama dengan jumlah sujud dalam shalat fardhu sebanyak 17 raka'at.
  15. Kata "shalawat" disebutkan sebanyak 5 kali, sama dengan shalat fardhu sehari-semalam.
  16. Kata "aqim (أقم)" atau "aqimu (أقيموا)" yang diikuti kata "shalat" disebutkan sebanyak 17 kali, sama dengan jumlah raka'at fardhu.
  17. Kata "qashr" berikut turunan katanya disebut sebanyak 11 kali. Bilangan ini sama dengan jumlah raka'at shalat harian jika diringkas (qashr). 
  18. Jumlah Surah Al-Qur'an yang diawali dengan huruf-huruf muqaththa'ah, seperti Alif Lam Mim, Ya Sin, dan lain-lain, adalah 29 Surah, sama dengan jumlah huruf Hijaiyah dengan memasukkan Hamzah. Ada 14 huruf yang dijadikan awal Surat, yaitu ا, ح, ر, س, ص, ط, ع, ك, ق, ل, م, ن, ھ, ي. Jumlah tersebut (14) adalah setengah dari jumlah huruf Hijaiyah tanpa menghitung Hamzah.

Poin-poin di atas hanyalah sebagian dari i'jaz 'adadi Al-Qur'an. Artikel ini tidak cukup untuk menulis semua yang berhasil ditemukan oleh para peneliti mengenai i'jaz 'adadi. Bahkan mereka meyakini masih banyak keajaiban lainnya yang belum ditemukan.

Referensi:

  1. At-Ta’bir al-Qur’ani, Dr. Fadhil Shalih As-Samirra’i, Amman: Dar ‘Ammar, cet. ke-4, 2006.
  2. Al-Qur’an dan Rahasia Angka-Angka, Agus Effendi, Bandung: Pustaka Hidayah, cet. ke-1, 2006. Diterjemahkan dari buku Min al-I’jaz al-Balaghi wa al-‘Adadi li al-Qur’an al-Karim, Dr. Abu Zahra’ An-Najdi, terbitan Al-Wakalah al-‘Alamiyyah, 1990.
  3. Mukjizat Al-Qur’an, M. Quraish Shihab, Bandung: Mizan Pustaka, cet. ke-2, 2007.

###

* Ingin menulis untuk Kesan dan berbagi ilmu yang berguna? Tunggu apa lagi? Sebab berbagi ilmu itu bukan hanya indah, tetapi juga berpahala. Kirim artikelmu ke salam@kesan.id.

Bagikan artikel ini

Berita terkait