Berita KESAN

  • Redaksi Kesan
  • Artikel
  • Senin, 08 Juli 2019

Ketika Ustaz (Kita) Dikritik

Sebagian besar dari kita, atau mungkin kita semua, memiliki panutan yang kita kagumi. Entah itu guru kita, ustaz, kiai, atau mentor kita. Mereka kita hormati oleh sebab keilmuan, keluhuran, atau kebaikannya.

Jika ada yang menghina atau mengkritik (tanpa ilmu) mereka, kita pun bisa saja geram atau tersulut emosi. Apalagi di zaman now dan di era media sosial (medsos), di mana orang yang tidak kompeten sekalipun bisa mendapat panggung dan mengkritik—bahkan membully—orang lain seenak hatinya.

Tak aneh bila “perang” di medsos cukup sering terjadi antar pengikut seorang ustaz dengan pengikut ustaz yang lain.

Di sini, mungkin kita bisa belajar dari salah satu murid Imam Malik saat mendengar gurunya dikritik habis-habisan tanpa ilmu.

Alkisah, sang murid sedang berada di sebuah masjid di Mesir. Penceramah di sana mengatakan bahwa Imam Malik keliru sekali. Ia berucap:

“Malik berkata ini dan itu, dan dia keliru. Yang benar adalah ini…”  

Beberapa detik kemudian, lagi-lagi ia mengatakan yang sama:

“Malik berkata ini dan itu, dan dia ngaco. Yang benar adalah ini…”  

Kurang lebih isi ceramahnya adalah: “Malik banyak ngawur dan tidak sepandai yang kau kira, maka ikuti saya kalau mau selamat.”

Uniknya, murid Imam Malik yang mendengar ceramah itu tidak terlihat sedikitpun terusik oleh kritik dan hinaan terhadap gurunya itu. Padahal gurunya itu dikenal luas sebagai ulama yang paling berilmu di zamannya. Murid Imam Malik itu pun beranjak meninggalkan masjid dengan santai.

Kawan seperjalanannya pun dibuat penasaran. Sang kawan akhirnya bertanya kepadanya, "Gurumu dikritik habis-habisan—bahkan dihina—tapi engkau diam saja, mengapa?”

“Penceramah yang tadi itu bagaikan seseorang yang berada di tepi samudra yang luas kemudian ia kencing sehingga muncul genangan kecil kemudian ia berteriak, ‘Lihatlah samudra baru yang kuciptakan,’” jawab sang murid.

“Apa maksudmu?” tanya kawan perjalanannya yang bingung.

“Samudra yang luas itu adalah ilmunya Imam Malik, sedangkan genangan kecil itu adalah ilmu si penceramah tadi. Oleh karena itu, untuk apa aku menimpalinya?” jawab sang murid.  

Dengan kata lain, gak level. Dan sang murid tak mau merendahkan yang tinggi, dan meninggikan yang rendah.

Menariknya, sejarah mencatat kisah ini dengan baik, tetapi nama pengkritik itu tak pernah disebut. Ia tidak penting. Dan ia pun hilang ditelan zaman seperti halnya pengkritik-pengkritik minim ilmu—tapi besar cakap—lainnya.

Imam Malik dan mahzabnya, di sisi lain, masih dipelajari dan dikaji hingga hari ini.

Dalam menghadapi pengkritik-pengkritik minim ilmu, murid Imam Malik yang paling terkemuka, yaitu Imam Syafie, pernah menganjurkan agar kita jangan ikut terpancing mendebat mereka. Bahkan, sering kali mendebati mereka—menurut sang imam—bukanlah solusi, tetapi justru dapat membuat pusing atau repot diri sendiri.

Imam Syafie pernah juga berkata, “Aku tak pernah berdebat dengan orang yang berilmu, melainkan aku menang. Dan aku tak pernah berdebat dengan orang bodoh, melainkan aku kalah.”

###

*Jika konten atau artikel di aplikasi KESAN dirasa bermanfaat, jangan lupa share ya. Semoga dapat menjadi amal jariyah bagi kita semua. Aamiin. Download aplikasi KESAN di Android  dan di iOS. Gratis, lengkap, dan bebas iklan. 

**Ingin menulis untuk Kesan dan berbagi ilmu yang berguna? Tunggu apa lagi? Sebab berbagi ilmu itu bukan hanya indah, tetapi juga berpahala. Kirim artikelmu ke salam@kesan.id 

Bagikan artikel ini

Berita terkait