Berita KESAN

  • Redaksi Kesan
  • Artikel
  • Minggu, 30 Mei 2021

Kisah Hikmah: Ketika Umar Berdebat dengan Kedua Anaknya

Bagi Sayyidina Umar bin Khattab ra., jabatan khalifah atau pemimpin bukan ajang aji mumpung. Beliau tidak menggunakan amanah yang diterima untuk kepentingan pribadi.

Kalau banyak pejabat zaman sekarang menggunakan posisinya untuk memperkaya diri dan keluarganya, Sayyidina Umar ra. paling pantang untuk itu. 

Suatu hari, kedua anak beliau, Abdullah ra. dan Ubaidullah bin Umar ra. berangkat bersama pasukan muslim ke Irak untuk sebuah misi. Saat melewati Bashrah, mereka berdua bertemu dengan wali kota Bashrah, Abu Musa Al-Asy’ari ra. Setelah itu, Abdullah ra. dan Ubaidullah ra. mendapat tugas dari sang wali kota.

“Ini ada harta Allah yang ingin saya kirim ke Amirul Mukminin. Saya ingin kalian berdua memutar harta ini dengan membeli barang di Irak, lalu menjualnya kembali di Madinah. Berikan modal awal yang kalian terima kepada Amirul Mukminin, sementara keuntungannya silakan ambil untuk kalian berdua,” kata Abu Musa ra. menjelaskan.

“Baik, akan kami lakukan,” jawab mereka.

Maka sesampainya di Irak, Abdullah ra. dan Ubaidullah ra. membeli barang-barang untuk dijual lagi saat pulang ke Madinah. Akhirnya modal awal mereka kembali karena dagangannya laris manis, bahkan mereka juga meraup keuntungan.

Setelah perjalanan dari Irak itu, mereka melapor kepada Sayyidina Umar ra. dan menyetorkan modal awal sesuai arahan dari wali kota Bashrah, Abu Musa ra. 

Mendengar penuturan kedua anaknya, Sayyidina Umar ra. bertanya, “Apakah semua pasukan dititipi harta sama seperti kalian?”

“Tidak, ya Amirul Mukminin," jawab mereka.

Sayyidina Umar ra. lantas berkata tegas, “Berikan harta yang dititipkan ke kalian itu beserta keuntungannya ke Baitul Mal.”

Abdullah ra. hanya terdiam, sementara Ubaidullah ra. memprotes kebijakan Sayyidina Umar ra. Ubaidullah ra. berkata, “Tidak bisa begitu Amirul Mukminin, karena andai saja harta yang kami niagakan ini rugi, maka kami pula yang harus mengganti kerugiannya.”

Ubaidullah ra. terus berargumen dengan ayahnya, sementara Abdullah ra. menyimak. Lalu ada seseorang yang duduk di sana menengahi, “Wahai Amirul Mukminin, bagaimana kalau engkau menganggapnya sebagai Qiradh?”

Qiradh adalah bentuk perdagangan dalam Islam, ketika seseorang menginvestasikan harta kepada orang lain sebagai modal usaha, lalu keuntungannya dibagi dua sesuai kesepakatan. 

Sayyidina Umar ra. terkenal sebagai orang yang adil dan logis, beliau selalu melandasi keputusannya berdasarkan argumen yang kuat. Oleh karena itu, Sayyidina Umar ra. bisa menerima saran dari penasehatnya tadi, lalu menganggap harta negara itu diinvestasikan kepada Abdullah ra. dan Ubaidullah ra. untuk bisnis yang menguntungkan kedua belah pihak.

Dan karenanya pula, Abdullah ra. dan Ubaidullah ra. tidak bisa mengambil seluruh hasil keuntungan berjualan mereka, tapi hanya setengahnya saja, sementara sisanya diserahkan untuk kas negara.

Sayyidina Umar ra. adalah wujud dari penegakan hukum yang konsisten dan tegas kepada siapa pun, tanpa pandang bulu. Beliau tidak membeda-bedakan entah itu kerabat atau orang asing. Di mata Sayyidina Umar ra. yang salah adalah salah, dan yang benar adalah benar, entah datang dari siapa pun itu. Tidak heran juga kalau Rasulullah ﷺ pernah bersabda tentangnya:

إِنَّ اللَّهَ وَضَعَ الْحَقَّ عَلَى لِسَانِ عُمَرَ يَقُولُ بِهِ

Sesungguhnya Allah meletakkan kebenaran pada lisan Umar dan ia mengucapkannya (HR. Abu Dawud no. 2962).

Referensi: Malik bin Anas; Al-Muwaththa’.

###

*Jika artikel di aplikasi KESAN dirasa bermanfaat, jangan lupa share ya. Semoga dapat menjadi amal jariyah bagi kita semua. Aamiin. Download atau update aplikasi KESAN di Android dan di iOS. Gratis, lengkap, dan bebas iklan.

**Ingin menulis untuk KESAN dan berbagi ilmu yang berguna? Tunggu apa lagi? Sebab berbagi ilmu itu bukan hanya indah, tetapi juga berpahala. Kirim artikelmu ke salam@kesan.id

Bagikan artikel ini

Berita terkait