Berita KESAN

  • Redaksi Kesan
  • Artikel
  • Sabtu, 26 Desember 2020

Kisah Hikmah: Lilin Umat dan Lilin Pribadi

Pada suatu malam, Khalifah Umar bin Abdul Aziz kedatangan salah satu gubernurnya yang hendak melapor. 

“Tolong sampaikan kepada Amirul Mukminin bahwa salah satu gubernurnya datang menghadap,” ucap ajudan sang gubernur. Tak lama kemudian, Khalifah Umar pun memerintahkan agar gubernurnya itu masuk. 

Saat sang gubernur masuk ke ruangannya, Khalifah Umar menyalakan lilin dengan sinar yang meliuk-liuk sebab tertiup angin. 

Lalu Khalifah Umar menanyakan kepada sang gubernur tentang keadaan wilayahnya. Di antaranya adalah perihal bagaimana keadaan umat di sana, harga-harga bahan pangan, kualitas pendidikan anak-anak di sana, keadaan kaum fakir-miskin, serta menanyakan apakah gubernur sudah menunaikan segala hal yang menjadi tanggung jawabnya. 

Sang gubernur menjawab semua yang ditanyakan oleh Khalifah Umar. Setelah dirinya yakin bahwa Amirul Mukminin sudah cukup puas dengan jawabannya, sang gubernur itu gantian menanyakan keadaan sang Khalifah. 

“Wahai Amirul Mukminin, bagaimana keadaanmu sendiri?” tanya sang gubernur. 

Bukannya menjawab, Khalifah Umar malah memanggil salah seorang pelayannya. 

“Tolong ambilkan lilinku di sana,” pinta Khalifah Umar. 

Tak lama pelayan itu pun datang dengan lilin yang redup nyaris tak bercahaya. Lalu Khalifah Umar mematikan lilin yang tadi digunakan sebagai sumber pencahayaan. Kini ruangan itu lebih redup dari sebelumnya.

“Nah sekarang, kamu boleh menanyakan apa pun yang kamu mau,” ucap Khalifah Umar.

Lalu sang gubernur pun menanyakan kabar sang Khalifah dan keluarganya. 

Setelah puas mendengar kabar dari Khalifah Umar, gubernur itu kembali bertanya. 

“Wahai Amirul Mukminin, mengapa tadi engkau meniup lilin pertama dan menggantinya dengan lilin yang lebih redup?” tanya gubernur itu penasaran. 

“Lilin yang aku matikan tadi adalah milik umat. Saat kita membahas urusan umat, maka lilin itu pun aku nyalakan,” jelas Khalifah Umar.

“Lantas mengapa engkau mematikannya ketika aku menanyakan kabarmu?” tanya sang gubernur lagi. 

“Saat kamu menanyakan keadaanku dan keluargaku, maka aku ganti lilin itu dengan lilin milikku sendiri. Sebab lilin umat tidaklah boleh digunakan untuk keperluan pribadi,” jelas Khalifah Umar. 

Sahabat KESAN yang budiman, definisi adil adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya. Saat membahas urusan umat, Khalifah Umar bin Abdul Aziz pun menempatkan lilin milik umat sebagai cahaya penerang. Namun, saat membahas urusan pribadi, beliau pun menempatkan lilin miliknya sendiri sebagai cahaya penerang. 

~Sesungguhnya manusia yang paling dicintai oleh Allah dan paling dekat tempat duduknya di hari kiamat adalah pemimpin yang adil (HR. Tirmidzi no. 1329; hadis hasan menurut Imam Suyuthi). 

###

*Jika artikel di aplikasi KESAN dirasa bermanfaat, jangan lupa share ya. Semoga dapat menjadi amal jariyah bagi kita semua. Aamiin. Download atau update aplikasi KESAN di Android dan di iOS. Gratis, lengkap, dan bebas iklan. 

**Ingin menulis untuk KESAN dan berbagi ilmu yang berguna? Tunggu apa lagi? Sebab berbagi ilmu itu bukan hanya indah, tetapi juga berpahala. Kirim artikelmu ke salam@kesan.id 

Bagikan artikel ini