Berita KESAN

  • Redaksi Kesan
  • Artikel
  • Jumat, 26 November 2021

Kisah Nabi Idris: Nabi Penghuni Langit Keempat (I)

Sepeninggalan Nabi Adam as., putranya yang bernama Syits menggantikan peran ayahnya sebagai pemimpin umat manusia. Nabi Syits as. mendapat wasiat dari sang ayah untuk meneruskan dakwah agama Allah, dan beliau juga mendapatkan 50 shahifah (lembaran wahyu) dari Allah.

Nabi Syits menurut salah satu riwayat hidup selama 912 tahun. Imam Thabari dalam buku sejarahnya menyebutkan bahwa Syits memiliki putra bernama Anusy yang melanjutkan kepemimpinan beliau. 

Dari jalur Anusy inilah lahir seorang nabi yang kelak dikenal dalam Islam sebagai orang yang pertama kali menulis dengan pena, yaitu Akhnukh atau Nabi Idris as. yang bernasab lengkap Akhnukh bin Yarid bin Mahlail bin Qinan bin Anusy bin Syits bin Adam as.

Kesaksian tentang Nabi Idris dalam Al-Qur’an

Dalam Surat Maryam, Allah memberi kesaksian tentang kenabian Idris dengan firman-Nya:

وَاذْكُرْ فِى الْكِتٰبِ اِدْرِيْسَۖ اِنَّهٗ كَانَ صِدِّيْقًا نَّبِيًّا

Dan ceritakanlah (Muhammad) kisah Idris di dalam Kitab (Al-Qur'an). Sesungguhnya dia seorang yang sangat mencintai kebenaran dan seorang nabi (QS. Maryam [19]: 56).

Tafsir Al-Jalalain menjelaskan bahwa Nabi Idris adalah buyut Nabi Ibrahim as. dan kakek dari Nabi Nuh as. Nabi Idris juga disebutkan sebagai orang yang sabar. Allah berfirman:

وَاِسْمٰعِيْلَ وَاِدْرِيْسَ وَذَا الْكِفْلِۗ كُلٌّ مِّنَ الصّٰبِرِيْنَ

Dan (ingatlah kisah) Ismail, Idris dan Zulkifli. Mereka semua termasuk orang-orang yang sabar (QS. Al-Anbiya' [21]: 85).

Menurut Imam Qurthubi dalam tafsirnya, beliau disebut dengan Idris karena banyak mempelajari (darasa) kitab Allah. Nabi Idris sendiri mendapatkan 30 shahifah seperti yang diriwayatkan oleh Sahabat Abu Dzar Al-Ghifari ra. 

Dengan 30 shahifah yang diturunkan kepadanya, Nabi Idris mendakwahkan jalan yang lurus kepada keturunan Qabil yang tersesat. Beliau juga mulai menghadapi para penyembah berhala yang mulai muncul sejak zaman ayahnya, Yarid.

Selain itu, Nabi Idris juga diyakini sebagai orang yang pertama kali menulis dengan pena, beliau juga orang pertama yang menjahit dan memakai baju jahitan.

Nabi Idris diangkat ke langit keempat

Tidak banyak riwayat yang menceritakan tentang Nabi Idris baik dalam Al-Qur’an maupun hadis. Jika kita membaca-baca kitab tafsir, barulah kita akan menemukan cerita yang agak panjang tentang kehidupan Nabi Idris.

Meskipun begitu, banyak riwayat yang berbeda tentang kehidupan Nabi Idris. Sebagaimana para ulama berbeda pendapat apakah Nabi Idris sudah diwafatkan jasadnya atau masih hidup sampai sekarang.

Salah satu riwayat yang kuat tentang Nabi Idris diceritakan oleh Rasulullah ﷺ setelah peristiwa Isra Mi’raj beliau ﷺ. Rasulullah ﷺ menceritakan kepada para sahabat bahwa beliau di-mi’raj-kan sampai langit ketujuh sebelum mencapai Sidratul Muntaha.

Pada setiap langitnya, Rasulullah ﷺ bertemu dengan para Nabi dan Rasul yang menghuni masing-masing langit. Pada langit pertama, beliau bertemu dengan manusia pertama, Nabi Adam as. 

Pada langit kedua, beliau bertemu dengan Nabi Yahya as. dan Nabi Isa as. Pada langit ketiga, beliau bertemu dengan Nabi Yusuf as. Dan pada langit keempat, Jibril berkata kepada Rasulullah ﷺ, “Ini Idris, ucapkanlah salam kepadanya.” (HR. Bukhari no. 3887).

Nabi Idris dan misteri kematiannya

Pengangkatan Nabi Idris ke langit telah disebutkan dalam Al-Qur’an:

وَّرَفَعْنٰهُ مَكَانًا عَلِيًّا

Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi (QS. Maryam [19]: 57).

Ada beberapa riwayat tentang bagaimana Nabi Idris bisa diangkat ke langit keempat. Imam Qurthubi menuliskan berbagai pendapat ulama dalam tafsirnya, salah satunya datang dari Sahabat Ibnu Abbas ra.

Diceritakan bahwa suatu hari Nabi Idris bepergian karena ada keperluan. Hari sangat terik saat itu, dan di tengah jalan beliau merasakan sengatan matahari yang begitu panas. Beliau lalu membatin:,

“Ya Allah, aku berjalan sehari saja sudah merasa sepanas ini, bagaimana dengan dia yang menopangnya selama ratusan tahun?” setelah itu Nabi Idris berdoa, “Ya Allah, ringankanlah beban malaikat yang bertanggung jawab terhadap matahari, dan angkatlah panas darinya!”

Ketika beliau memanjatkan doa itu, malaikat yang didoakan Nabi Idris langsung merasakan keteduhan yang sebelumnya tak pernah ia alami. “Ya Allah, Engkau telah menugasiku untuk membawa matahari. Lantas apa yang terjadi?” tanya malaikat kepada Allah.

Allah menjawab, “Sesungguhnya hamba-Ku yang bernama Idris telah memintaku untuk meringankan bebanmu, maka aku mengabulkannya.” 

Mendengar jawaban itu, malaikat lalu memohon kepada Allah, “Ya Allah, tolong pertemukan aku dengannya, dan jadikan kami bersahabat.”

Maka Allah mengabulkan permintaan sang malaikat dan mempertemukannya dengan Nabi Idris.

“Aku mendengar bahwa engkau malaikat yang mulia dan paling dekat dengan malaikat maut?” tanya Nabi Idris saat bertemu dengan malaikat penjaga matahari. 

Setelah itu Nabi Idris memohon, “Tolong sampaikan kepada malaikat maut agar mengundurkan ajalku, sehingga aku bisa lebih banyak bersyukur dan beribadah kepada Allah.”

“Allah tidak mengakhirkan satu jiwa jika sudah sampai ajalnya,” jawab malaikat itu.

“Ya, aku sudah mengetahuinya,” kata Nabi Idris, “Namun, hidup lebih panjang akan lebih baik.”

Mendengar Nabi Idris yang ingin berumur panjang agar bisa beribadah lebih lama, malaikat penjaga matahari akhirnya mengusahakan permintaan beliau. Ia lalu naik ke langit untuk berbicara dengan malaikat maut sambil membawa Nabi Idris.

Setelah menurunkan Nabi Idris di tempat terbitnya matahari, ia lalu menemui malaikat maut. “Malaikat maut, aku punya seorang teman dari keturunan Adam yang meminta agar ajalnya diundur,” 

“Aku tidak punya kuasa untuk itu. Namun, kalau kamu mau, aku bisa memberitahu kapan ia akan mati,” jawab malaikat maut. Ia lalu melihat daftar nama-nama makhluk berikut ajalnya. 

Saat menemukan nama Idris, malaikat maut sendiri terheran-heran dan berkata kepada malaikat penjaga matahari, “Kamu bertanya tentang seseorang yang kupikir akan hidup selamanya.”

“Apa maksudmu?” tanya malaikat penjaga matahari.

“Aku tidak menemukan ia akan mati kecuali di tempat terbitnya matahari,” jawab malaikat maut.

Malaikat penjaga matahari kaget mendengar kabar itu. “Sungguh, sebelum aku menemuimu, aku meninggalkan temanku di sana.”

“Pergilah dan temui temanmu,” pungkas malaikat maut.

Malaikat penjaga matahari segera pergi menjemput Nabi Idris, tetapi sesampainya di sana, ia menemukan bahwa temannya itu sudah wafat seperti apa yang disampaikan malaikat maut.

Dalam suatu riwayat, umur Nabi Idris sampai ia diangkat ke langit adalah 365 tahun. Banyak riwayat lain tentang kematian Nabi Idris dengan redaksi yang berbeda, tetapi, Rasulullah ﷺ telah memastikan bahwa Nabi Idris memiliki kedudukan yang tinggi dan menghuni langit keempat.

Beberapa riwayat lain tentang pengangkatan Nabi Idris ke langit dan kematian beliau akan kami lanjutkan di artikel selanjutnya.

Wallahu A’lam bi Ash-Shawabi.

###

*Jika artikel di aplikasi KESAN dirasa bermanfaat, jangan lupa share ya. Semoga dapat menjadi amal jariyah bagi kita semua. Aamiin. Download atau update aplikasi KESAN di Android dan di iOS. Gratis, lengkap, dan bebas iklan.

**Ingin menulis untuk KESAN dan berbagi ilmu yang berguna? Tunggu apa lagi? Sebab berbagi ilmu itu bukan hanya indah, tetapi juga berpahala. Kirim artikelmu ke salam@kesan.id.

Bagikan artikel ini

Berita terkait