Berita KESAN

  • Redaksi Kesan
  • Artikel
  • Jumat, 26 November 2021

Kisah Nabi Idris: Nabi Penghuni Langit Keempat (II)

Artikel ini adalah lanjutan dari artikel minggu lalu tentang Nabi Idris as. Pada tulisan kali ini, kita akan membahas beberapa riwayat lain dari para ahli tafsir tentang wafatnya Nabi Idris.

Hal ini berdasarkan firman Allah:

وَّرَفَعْنٰهُ مَكَانًا عَلِيًّا

Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi (QS. Maryam [19]: 57).

Ulama tafsir Imam As-Saddi menceritakan bahwa  suatu hari, Nabi Idris sedang tidur siang. Matahari begitu terik dan menyengat hingga membuat Nabi Idris terbangun dari tidurnya karena kepanasan.

Beliau lalu berdoa, “Ya Allah, perintahkanlah kepada malaikat matahari untuk meringankan panasnya, bantulah ia menanggung bebannya, karena sesungguhnya ia seperti sedang meniru panasnya Neraka Hamiyah (yang menyala-nyala).”

Malaikat matahari kemudian mendapati dirinya duduk di atas kursi yang terbuat dari cahaya. Di sebelah kanannya ada 70 malaikat, begitu pula di sebelah kirinya. Mereka semua disiapkan untuk membantu malaikat matahari.

Malaikat matahari kemudian bertanya kepada Allah, “Wahai Tuhanku, dari mana semua ini aku dapatkan?”

Allah menjawab, “Seorang anak Adam bernama Idris berdoa untukmu.”

Setelah itu, malaikat matahari mendatangi Nabi Idris dan berkata, “Apakah kamu menginginkan sesuatu?”

Nabi Idris menjawab, “Iya, aku ingin melihat surga.”

Malaikat kemudian menaikkan Nabi Idris ke atas sayapnya, lalu membawanya terbang. Saat sampai di langit keempat, Nabi Idris bertemu dengan malaikat maut yang sedang menengok ke kanan dan ke kiri.

Malaikat matahari memberi salam kepada malaikat maut, lalu berkata, “Wahai Idris, ini adalah malaikat maut.” Nabi Idris pun memberi salam kepadanya.

Melihat malaikat matahari membawa Nabi Idris bersamanya, malaikat maut lantas bertanya, “Mahasuci Allah, untuk apa kamu membawanya ke sini?”

Malaikat matahari menjawab, “Aku membawanya ke sini untuk memperlihatkan surga kepadanya.”

Malaikat maut berkata, "Sesungguhnya Allah memerintahkanku untuk mencabut ruh Idris di langit keempat. Lalu aku bertanya kepada Allah, ‘Di manakah Idris yang berada di langit keempat itu?' Saat aku turun, aku menemukannya bersamamu.”

Setelah itu, malaikat mencabut nyawa Nabi Idris, membawanya ke surga, dan menguburkan jasad beliau di langit keempat. 

Riwayat Imam Ibnu Munabbih

Ulama tafsir Imam Wahb bin Munabbih memiliki tafsiran lain. Berawal dari rasa kagum malaikat maut yang melihat amalan Nabi Idris di dunia, malaikat maut pun ingin bertemu dengan Nabi Idris.

Malaikat maut kemudian meminta izin kepada Allah untuk mengunjungi Nabi Idris. Setelah mendapat izin, ia menemui Nabi Idris dalam wujud manusia. Hari itu, Nabi Idris sedang berpuasa. Saat waktu berbuka datang, beliau mengajak tamunya itu untuk makan bersama, tetapi dia menolak.

Malaikat maut tinggal bersama Nabi Idris selama tiga hari. Setelah itu, Nabi Idris bermaksud untuk menyuruh tamu itu pergi dari rumah beliau. Nabi Idris berkata, “Siapakah kamu?”

Tamu itu menjawab, “Aku adalah malaikat maut. Aku meminta izin kepada Allah untuk menemanimu dan Allah mengizinkanku.”

Mengetahui bahwa tamunya itu adalah malaikat maut, Nabi Idris mengajukan permintaan. Beliau berkata, “Aku punya permintaan.”

“Apa itu?” tanya malaikat maut.

“Cabutlah ruhku,” kata Nabi Idris.

Allah kemudian menyuruh malaikat untuk mencabut nyawa Nabi Idris lalu mengembalikannya setelah satu jam.

Malaikat maut bertanya kepada Nabi Idris, "Apa manfaat mencabut ruh ini bagimu?”

Nabi Idris menjawab, “Agar aku dapat merasakan sulitnya kematian dan bisa menjadi orang yang paling bersiap-siap menghadapinya.”

Setelah itu, Nabi Idris mengajukan permintaan lain. “Aku punya permintaan lain,” kata beliau.

“Apa itu?” tanya malaikat.

“Bawalah aku ke langit agar aku dapat melihat surga dan neraka,” pinta Nabi Idris.

Allah mengizinkan Nabi Idris naik ke langit. Saat melihat neraka, Nabi Idris pingsan. Setelah sadar, Nabi Idris berkata, “Perlihatkanlah surga untukku.”

Nabi Idris kemudian dimasukkan ke surga. Setelah beberapa waktu, malaikat maut berkata, “Keluarlah dan kembali ke tampat asalmu.”

Mendengar itu, Nabi Idris memegang erat sebuah pohon di surga dan berkata, “Aku tidak akan keluar dari sini.”

Karena mereka berselisih, Allah mengirimkan seorang malaikat untuk menengahi mereka. Malaikat itu bertanya kepada Nabi Idris, “Apa yang membuatmu tidak harus keluar dari sini?”

Nabi Idris berkata, “Allah berfirman bahwa setiap jiwa akan merasakan mati, dan aku sudah merasakannya. Allah juga berfirman bahwa tidak ada seorang pun yang tidak melewati sirath di atas neraka, dan aku sudah melewatinya. Allah juga telah berfirman bahwa siapa pun yang masuk surga tidak akan dikeluarkan darinya, maka bagaimana mungkin aku keluar?”

Kemudian Allah berkata kepada malaikat maut, “Dia masuk ke surga dengan izin-Ku, maka ia juga harus keluar berdasarkan perintah-Ku.” Nabi Idris akhirnya hidup dan tinggal di surga.

Imam Ibnu Munabbih kemudian menambahkan, “Nabi Idris berada di surga dengan suka cita, dan kadang turun ke langit untuk beribadah bersama para malaikat.”

Sahabat KESAN, demikianlah beberapa variasi riwayat tentang wafatnya Nabi Idris as. Semoga kita dapat mengambil ibrah dari kisah ini.

Wallahu A’lam bi Ash-Shawabi.

###

*Jika artikel di aplikasi KESAN dirasa bermanfaat, jangan lupa share ya. Semoga dapat menjadi amal jariyah bagi kita semua. Aamiin. Download atau update aplikasi KESAN di Android dan di iOS. Gratis, lengkap, dan bebas iklan.

**Ingin menulis untuk KESAN dan berbagi ilmu yang berguna? Tunggu apa lagi? Sebab berbagi ilmu itu bukan hanya indah, tetapi juga berpahala. Kirim artikelmu ke salam@kesan.id.

 

Bagikan artikel ini

Berita terkait