Berita KESAN

  • Redaksi Kesan
  • Artikel
  • Sabtu, 22 Juni 2019

Kisah Nabi Idris: Penulis, Penjahit, Panglima, dan Peneliti Alam Pertama (Bagian 2)

Artikel ini adalah bagian kedua dari Kisah Nabi Idris. Jika belum membaca bagian pertama, silakan membacanya terlebih dahulu. 

Pertama Meneliti Alam Semesta?

Imam Al-Qurthubi bukan hanya berpendapat bahwa Nabi Idris adalah orang yang pertama menulis dengan pena dan menjahit pakaiannya, tetapi juga yang pertama mempelajari bintang-bintang dan pergerakannnya (baca: Astronomi).

Orang-orang terdahulu, bahkan hingga sekarang pun, berkebutuhan untuk mempelajari pergerakan bulan dan bintang guna mengetahui kapan waktu menanam dan kapan waktu memanen, kapan waktu membawa hewan ternak ke suatu lembah, kapan waktu untuk berpindah. Pengetahuan ini vital bagi keberlangsungan suatu kaum maupun peradaban. Imam Al-Qurthubi berpendapat bahwa Nabi Idris pandai dalam kalkulasi astronomi ini.

Ide bahwa Nabi Idris seorang pembelajar dan gemar menuntut ilmu juga didukung oleh Imam As-Suyuti. Ia mengutip sebuah pendapat bahwa nama Idris berasal dari kata “darasa” yang berarti belajar.  

Bagaimana Nabi Idris Wafat?

Kuat pendapat yang mengatakan bahwa Nabi Idris tidak meninggal di bumi, tetapi diangkat ke Surga dan diwafatkan di sana. Menurut Ibnu Katsir hal ini sejalan dengan Firman Allah,

وَاذْكُرْ فِى الْكِتٰبِ اِدْرِيْسَۖ اِنَّهٗ كَانَ صِدِّيْقًا نَّبِيًّا وَّرَفَعْنٰهُ مَكَانًا عَلِيًّا ۙ

Dan ceritakanlah (Muhammad) kisah Idris di dalam Kitab (Alquran). Sesungguhnya dia seorang yang sangat mencintai kebenaran dan seorang nabi dan Kami telah mengangkatnya ke tempat yang tinggi (Q.S. Maryam: 56-57).

Ilustrasi yang menggambarkan kunjungan Nabi Idris ke Surga dan Neraka

“Mengangkatnya ke tempat yang tinggi” dalam ayat di atas, menurut Ibnu Katsir, bermakna literal di mana Nabi Idris betul-betul diangkat ke Surga—bukan hanya sekadar memiliki kedudukan yang tinggi.

Dikisahkan bahwa ketika Nabi Idris sedang mengunjungi Surga bersama malaikat yang membawanya dari bumi, mereka bertemu dengan Malaikat Maut. Mereka pun bertanya kepada Malaikat Maut apa yang sedang ia lakukan di Surga. Sang Malaikat Maut menjawab, “Aku diperintahkan oleh Allah untuk mengambil nyawamu di Surga dan aku pun bingung sebab aku pikir engkau tinggal di Bumi. Namun rupanya engkau di sini, maka jelaslah mengapa Allah memerintahkan aku ke sini.” Nabi Idris pun diwafatkan di Surga.

Rasulullah ﷺ sendiri pernah bertemu dengan Nabi Idris di Surga ketika peristiwa Mi’raj.

 لَمَّا عُرِجَ بِي رَأَيْتُ إِدْرِيسَ فِي السَّمَاءِ الرَّابِعَةِ

Ketika aku diangkat, aku melihat Idris di Surga Keempat (HR. Tirmidzi no. 3157; sahih)

Ucapan-ucapan Bijak Nabi Idris

Ibnu Katsir meriwayatkan beberapa kalimat yang konon bersumber dari Nabi Idris:

  1. "Bahagia adalah dia yang melihat perbuatannya sendiri dan menjadikannya sebagai penolong dirinya kala bertemu Tuhannya."
  2. "Tidak ada yang bisa menunjukkan rasa syukur yang lebih baik kecuali ia yang berbagi nikmat Allah kepadanya dengan orang lain."
  3. "Jangan iri pada kepunyaan orang lain sebab mereka hanya akan menikmatinya sementara saja."
  4. "Barang siapa yang suka berlebihan tidak akan mendapat manfaat dari perbuatannya."
  5. "Kegembiraan hidup yang sebenarnya adalah ketika kita memiliki kebijaksanaan."

Demikianlah kisah Nabi Idris. Semoga dapat menjadi pembelajaran dan penyemangat bagi kita semua untuk menjadi Hamba Allah yang bukan hanya beriman, tetapi juga—seperti Nabi Idris—tekun untuk menjadi ahli dan pionir di berbagai bidang.

Referensi: The History of Al-Tabari, Stories of the Prophets by Ibn Katsir, Tafsir Al-Qurṭubi 19:56

Sumber Foto: Wikimedia Commons

###

Ingin menulis untuk Kesan dan berbagi ilmu yang berguna? Tunggu apa lagi? Sebab berbagi ilmu itu bukan hanya indah, tetapi juga berpahala. Kirim artikelmu ke salam@kesan.id.

Bagikan artikel ini

Berita terkait