Berita KESAN

  • Redaksi Kesan
  • Artikel
  • Rabu, 28 September 2022

Menangisi Kematian Wajar, Tapi Ingat Ini!

Kematian adalah satu hal yang pasti. Semua orang akan bertemu dengan kematian. Saat seorang wafat, wajar jika orang-orang yang memiliki hubungan darah, kekerabatan, atau sosial dan pemikiran dengan orang tersebut merasa sedih kemudian menangis. Bahkan Rasulullah pun pernah melakukan hal tersebut dalam hidupnya ketika kehilangan orang yang beliau cintai. 

Suatu kali Rasulullah bersama beberapa sahabatnya menjenguk anaknya, Ibrahim ra. yang tengah sakit di rumah salah satu sahabat. Kala itu Ibrahim sedang bersama ibu susuannya. Saat melihat putranya tersebut, Rasulullah memeluk dan menciumnya.

Tidak lama kemudian, beberapa sahabat masuk ke dalam rumah ibu susuannya tersebut dan menemukan Ibrahim sudah wafat seraya melihat Rasulullah berlinang air mata. 

Melihat Rasulullah menangis, sontak membuat Sahabat Abdurrahman bin ‘Auf ra. bereaksi, “Wahai Rasulullah, engkau menangis!” kata Abdurrahman bin ‘Auf.

Rasulullah menjawab perkataan Abdurrahman bin Auf dan bersabda:

يَا ابْنَ عَوْفٍ إِنَّهَا رَحْمَةٌ.‏ إِنَّ الْعَيْنَ تَدْمَعُ، وَالْقَلْبَ يَحْزَنُ، وَلاَ نَقُولُ إِلاَّ مَا يَرْضَى رَبُّنَا، وَإِنَّا بِفِرَاقِكَ يَا إِبْرَاهِيمُ لَمَحْزُونُونَ

Wahai Ibnu ‘Auf sesungguhnya tangisan adalah rahmat. Kedua mata ini menangis karena ketika hati berduka. Dan tidaklah kami mengatakan apapun kecuali apa-apa yang diridhai Tuhan kami. Wahai Ibrahim, kami sungguh berduka dengan kepergianmu. (HR. Bukhari no 1303).

Selain itu, Rasulullah juga dikisahkan pernah menangisi paman beliau yang syahid dalam perang Uhud, Sayyidina Hamzah ra. 

Ibnu Hisyam mengabadikannya dalam kitabnya Sirah Al-Halabiyah bahwa Sahabat Ibnu Mas’ud ra. mengatakan, “Kita tidak pernah melihat Rasulullah menangis sesendu ini kecuali saat beliau menangis untuk Hamzah. Beliau menghadapkan jenazahnya ke arah kiblat, berdiri di sebelah jenazahnya dan kemudian menangis terisak-isak.”

Meratapi Kematian 

Kendati demikian, meski menangisi kematian orang dibolehkan karena hal itu adalah wajar dan Rasulullah pun pernah melakukannya, bukan berarti meratapinya juga dibolehkan.

Dalam Islam, hukum meratap adalah haram. Bahkan Rasulullah menganggap ratapan sebagai kebiasaan jahiliah dan meminta agar umat segera berhenti melakukannya. Rasulullah bersabda:

النَّائِحَةُ إِذَا لَمْ تَتُبْ قَبْلَ مَوْتِهَا تُقَامُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَعَلَيْهَا سِرْبَالٌ مِنْ قَطِرَانٍ وَدِرْعٌ مِنْ جَرَب

Wanita yang meratap, jika dia belum bertaubat sebelum ajalnya tiba, maka pada hari kiamat dia akan dibangkitkan dengan memakai kain yang terbuat dari timah cair dan pakaian kudis” (HR. Muslim no. 934) 

Sahabat KESAN, kehilangan seorang yang kita cintai memang menyesakkan dada. Tapi satu hal yang perlu kita ingat, kematian adalah hak Allah, kita pun akan merasakan itu.

Sudah semestinya kita ridha akan ketetapan-Nya. Menahan sedih dan menahan tangis tentu lebih baik daripada melepaskannya dengan lepas. Meski hal tersebut tentu berat. Jika pun kita tidak bisa menahannya, menangislah secukupnya. 

Wallahu a’lam bi ash-shawab.

Copyright © KESAN

Penulis: Nizar Malisi

Editor: Rif’atul Mahmudah

###

*Suka dengan artikel ini? Ayo bagikan ke lebih banyak orang untuk menyebarkan manfaatnya. Semoga menjadi amal jariyah bagi kita semua.

**Jangan lupa download atau update aplikasi KESAN sekarang! Gratis, lengkap, dan bebas iklan.

***Jika punya tulisan menarik, silakan kirim tulisanmu ke [email protected] Akan kami kabari jika bagus untuk dimuat!




 

Bagikan artikel ini

Berita terkait