Berita KESAN

  • Redaksi Kesan
  • Artikel
  • Kamis, 11 Juli 2019

Orangnya Dunia atau Orangnya Allah?

Syahdan, Imam Ali pernah ditanya oleh seseorang bagaimana caranya mengetahui apakah seseorang itu termasuk golongan orang-orang (pecinta) dunia atau golongan orang-orang (pecinta) Allah atau akhirat.

Sang Imam menjawab, “Ada meteran dalam dirimu untuk mengetahui hal itu.”

Bingung, sang penanya kembali bertanya, “Bagaimana caranya?”

Imam Ali menjawab, “Jika ada seseorang datang ke rumahmu untuk memberimu hadiah, dan pada saat yang sama ada orang lain yang datang untuk mengambil sesuatu darimu. Jika kamu lebih senang dengan orang yang memberimu hadiah, maka kamu termasuk orang-orang (pecinta) dunia. Namun jika kamu lebih senang dengan orang yang mengambil sesuatu darimu, maka kamu termasuk  orang-orang (pecinta) Allah.”

Syekh Al-Sha'raawi menjelaskan bahwa mencintai orang yang memberi hadiah berarti mencintai orang yang memberikan kita lebih banyak bagian di dunia. Sedangkan mencintai orang yang mengambil sesuatu dari kita berarti mencintai orang yang telah membantu kita mendapat bagian lebih banyak dari Allah dan, yang terpenting, mendapat cinta-Nya.

~ Seorang hamba berkata, “Hartaku, hartaku.” Bukankah hartanya itu hanyalah tiga: yang ia makan dan akan sirna, yang ia kenakan dan akan usang, yang ia berikan sebagai sedekah--yang itulah sebenarnya harta yang ia kumpulkan (sebagai bekal untuk akhirat). Harta selain itu akan sirna dan diberi pada orang-orang yang ia tinggalkan” (HR. Muslim no. 2959). 

Bagikan artikel ini

Berita terkait