Berita KESAN

  • Redaksi Kesan
  • Artikel
  • Kamis, 25 Juli 2019

Perjalanan Haji: 3 Persiapan

Oleh: Shamsi Ali, Imam Islamic Cultural Center (ICC) di New York

Sesungguhnya perjalanan haji itu merupakan miniatur kecil dari perjalanan hidup manusia. Seluruh elemen perjalanan hidup tergambarkan dalam proses perjalanan haji itu.

Persiapan haji itu mencakup seluruh bekal hidup manusia. Jika hidup manusia mencakup tiga dasar (fisik, akal, dan ruh), maka persiapan haji juga mutlak memerlukan tiga bentuk persiapan itu.

Dengan kata lain, perjalanan haji adalah simbolisasi perjalanan hidup manusia, maka persiapannya juga mencakup seluruh elemen dasar kehidupan manusia.

Sedemikian pentingnya persiapan perjalanan haji itu maka Allah secara khusus memerintahkan:

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ

Dan persiapkanlah persediaan (tazawwaduu) karena sebaik-baik persediaan adalah ketakwaan (QS. Al-Baqarah: 197).

Kata takwa adalah kata jaami’ (umum) yang mencakup ketiga persiapan esensial perjalanan haji.

Ketiga hal itu adalah 1. Persiapan fisik/materi; 2. Persiapan akal/ilmu; 3. Persiapan hati/ruhani.

Persiapan Fisik

Persiapan fisik/materi menjadi sangat penting dalam perjalanan haji. Selain karena memang perjalanan yang jauh (dari negara-negara lain) yang membutuhkan biaya yang cukup besar, dan juga karena perjalanan ini membutuhkan tenaga besar.

Kalau saja saat ini, tahun 2019, kita memakai ukuran Amerika Serikat maka biaya naik haji atau ONH sekarang ini paling murah sekitar $8,500. Balum lagi biaya-biaya lainnya seperti hajj fee atau ongkos haji yang mulai diterapkan oleh pemerintah Saudi Arabia. Juga harga pembelian kambing atau domba bagi mereka yang berhaji tamattu’ atau qiraan.

Persiapan fisik juga tidak boleh dipandang sebelah mata. Karena dari tahun ke tahun, walau fasilitas semakin membaik, jumlah jamaah juga semakin bertambah. Hal ini menjadikan pelaksanaan ibadah haji juga semakin hari semakin berdesakan. Baik di Mina, di Muzdalifah, bahkan ketika Tawaf dan Sa’i.

Maka baik persiapan finansial maupun fisik menjadi sebuah tuntutan mendesak untuk melaksanakan ibadah haji.

Persiapan Akal

Persiapan akal atau keilmuan juga menjadi sebuah keharusan. Semua ibadah dalam Islam disyaratkan untuk dilaksanakan atas dasar ilmu. Maka haji sebagai salah satu ibadah pokok dalam Islam harus dilaksanakan juga dengan keilmuan.

Oleh karenanya, ilmu-ilmu dasar tentang pelaksanaan haji menjadi keharusan. Apa saja yang menjadi fardu, wajib, dan sunnah-sunnah haji. Atau sebaliknya apa yang menjadi larangan, dan jika terjadi pelanggaran apa jalan keluarnya.

Tata cara melaksanakan ibadah haji atau lebih dikenal dengan Manasik Haji penting untuk dipahami sebagai bagian dari persiapan haji itu. Rasulullah ﷺ menegaskan:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ خُذُوا مَنَاسِكَكُمْ

Wahai manusia, ambil dariku cara kamu melakukan ibadah haji (HR. Nasa'i no. 3062).

Oleh karenanya, mempelajari tata cara melaksanakan ibadah haji menjadi keharusan bagi calon jamaah. Kalaupun karena satu dan lain hal, ada jamaah yang sangat terbatas dalam memahami tata caranya, maka pembimbing hajilah yang kemudian mengambil alih tanggung jawab itu.

Pembimbing haji haruslah yang memang paham betul tata cara dan semua hal yang terkait dengan ibadah haji.

Persiapan Hati

Sementara persiapan hati atau spiritual adalah persiapan yang menentukan. Berapa banyak yang berangkat haji hanya karena punya duit atau punya kesempatan untuk melakukannya. Tapi sesungguhnya hatinya tidak sepenuhnya siap untuk melakukannya.

Jamaah yang seperti inilah yang seringkali ketika berada di Tanah Suci, matanya dan pikirannya justru semakin mendunia. Di hari pertama pun pikirannya adalah belanja. Bahkan orang-orang seperti inilah yang paling sering mengeluh tentang fasilitas yang dianggap tidak memadai.

Atau orang-orang seperti inilah yang paling rentan untuk marah-marah, mengutuk bahkan ketika sedang berapa di Masjidil Haram. Perhatikan mereka yang saling sikut dan menyakiti ketika Tawaf atau ketika ingin mencium Hajar Aswad. Ibadahnya menjadi sebuah wahana memenuhi hawa nafsu.

Karenanya persiapan yang paling mendasar dalam perjalanan ini adalah persiapan batin atau hati. Hal itu karena memang perjalanan ini adalah “safar ibadah” (perjalanan ibadah). Sejak memulai niat hingga Tawaf wada’-- semua adalah ibadah yang dasarnya ada di hati.

Tentu yang terpenting dari semua itu adalah karena ibadah dalam Islam mutlak dibangun di atas fondasi niat yang benar. Rasulullah ﷺ bersabda, “Semua amalan itu didasarkan kepada niatnya” (HR. Muslim no. 1907).

Karena niat tempatnya di hati, maka secara logis pula hati harus benar-benar dipersiapkan agar tertatanya niat yang benar itu. Jika hati kurang siap, rentan labil dan goyah, maka niat yang ada di hati juga menjadi labil dan mudah goyah.

Kesimpulannya adalah bahwa perjalanan ibadah haji itu merupakan miniatur kehidupan nyata manusia. Dari persiapan hingga Akhir perjalanan menggambarkan kehidupan nyata. Maka jika kehidupan nyata memerlukan tiga elemen dasar persiapan (fisik,akal, dan hati), haji pun demikian.

Semoga jamaah haji semuanya dikaruniai haji mabrur oleh Allah SWT. Aamiin!

(Bersambung…)

###

Ingin menulis untuk Kesan dan berbagi ilmu yang berguna? Tunggu apa lagi? Sebab berbagi ilmu itu bukan hanya indah, tetapi juga berpahala. Kirim artikelmu ke salam@kesan.id.

Bagikan artikel ini

Berita terkait