Berita KESAN

  • Redaksi Kesan
  • Artikel
  • Rabu, 24 Juli 2019

Perjalanan Haji: Etimologi Haji

Oleh: Shamsi Ali, Imam Islamic Cultural Center (ICC) di New York

Kata haji itu sendiri sesungguhnya sangat unik. Arti lepasnya adalah “melakukan safar atau perjalanan ke tempat yang jauh.”

Namun jika kita lihat lebih dekat lagi, kata “hajj” akan kita dapati memiliki beberapa arti.

Kata haji itu sendiri berasal dari kata “hajja” yang bisa mengarah kepada minimal dua makna. Bisa membawa kepada “hajja-yahijju-hajjun wa hijjatun”.

Pertama, hajjun (fathah) adalah bentuk mashdar atau asal kata itu sendiri. Sementara hijjun (kasrah) itu adalah bentuk ism atau kata benda dari haji.

Kata “hajja” juga bisa menghasilkan: ”yahujju-hujjatun” (dengan dhommah).

Hujjatun dalam bahasa Arab kita kenal dengan makna dalil, alasan, atau argumen. Juga bisa berarti tanda bahkan bukti.

Jika bentuk pertama (hajjun dan hijjatun) lebih menggambarkan makna kasat dari haji, maka hujjatun lebih menggambarkan makna hakiki dari haji.

Secara kasat, yang dalam bahasa agama lebih dikenal dengan ”syariah” berarti melakukan perjalanan jauh (ke Tanah Suci) untuk melakukan ritual ibadah karena Allah SWT.

Penggambaran makna ini diekspresikan dalam bahasa Alquran dengan:

يَأْتُوكَ رِجَالا وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ 

Ya`tụka rijālaw wa 'alā kulli ḍāmiriy (QS. Al-Hajj: 27).

Bahwa orang-orang yang memenuhi panggilan haji itu “akan datang ke Tanah Suci dengan berjalan kaki atau dengan mengendarai unta-unta yang jinak. Mereka datang dari berbagai penjuru yang jauh.”

Semua hal yang relevansinya dengan ”hajjun wa hijjatun” ini berada pada ruang lingkup pembahasan fikih haji. Atau tata cara dan aturan melaksanakan haji, yang lebih dikenal dengan istilah “manasik haji”.

Sementara kata ”hajja-yahujju-hujjatun” lebih banyak berhubungan dengan makna-makna spiritual atau hakiki dari pelaksanaan ibadah haji. Sesuatu yang ketika kita berbicara tentang ritual dalam Islam banyak dilupakan (ignored).

Haji disebut hujjatun atau dalil, alasan, bukti karena haji memang adalah penutup dari rangkaian rukun Islam. Sebuah kewajiban sekali dalam hidup manusia. Maka melaksanakannya sekaligus sebuah komitmen pembuktian akan keislaman seseorang.

Tidak mengherankan kemudian jika haji ini pada lazimnya berkaitan dengan komitmen keislaman Nabi Ibrahim AS. Dengan kata lain, Ibrahim AS menjadi figur sentra dari praktek ritual ibadah haji.

Kenapa Ibrahim AS?

Karena Ibrahim AS dikenal sebagai “penghulu monoteisme”. Dalam bahasa agama beliau dikenal sebagai ”abul ambiya” yang berarti Bapak dari Para Nabi.

Juga karena Ibrahim AS merupakan sosok yang telah menjadi “uswah” (teladan) dalam perjalanan menuju kepada kesempurnaan Islam. Mulai dari proses mencari tuhan yang sebenarnya hingga pengorbanan tanpa pamrih dalam peribadatan kepada Tuhan Semesta Alam.

Maka sangat wajar jika kemudian dalam Islam Nabi Ibrahim AS dikenal sebagai orang pertama yang digelari sebagai “Muslim”.

Tentu penobatan gelar yang dimaksud bukan pada hakikatnya saja. Karena Islam meyakini semua manusia secara hakikat terlahir Muslim. Dan semua nabi dan rasul adalah pembawa risalah Islam.

Tapi bagi Ibrahim kata Muslim di sini menjadi sebuah panggilan resmi (official). Itulah yang diabadikan dalam Alquran:

هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِنْ قَبْلُ

Huwa sammākumul-muslimīna ming qablu (QS. Al-Hajj: 78).

Artinya bahwa sebelum Nabi Muhammad ﷺ atau sebelum turunnya Alquran, Allah SWT memberikan gelar “muslim” pertama itu kepada Ibrahim AS.

Bahkan dengan tegas Alquran dalam surat Ali 'Imran Ayat 67 menegaskan bahwa “Ibrahim bukan Yahudi, tidak juga Nasrani. Tapi seorang Muslim yang hanif.”

Semua realita itulah yang menjadikan ibadah haji berkaitan erat dengan Nabi Ibrahim AS. Sebab sekali lagi haji memang menjadi bukti kesempurnaan Islam seperti komitmen Ibrahim itu. Bukan pada syariatnya tapi pada hakikat dan komitmennya.

Dan yang lebih penting lagi, haji berarti hujjah atau bukti karena haji seorang Mukmin akan menjadi bukti keislaman sejati. Meninggal dengan haji mabrur adalah pembuktian bahwa seseorang itu meninggal dalam keadaan Muslim.

Alquran mengingatkan dalam surat Ali 'Imran Ayat 102:

وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Janganlah kalian meninggal kecuali dalam keadaan Muslim.

Maka haji yang mabrur menjadi jawaban dan pembuktian. Sehingga sangat wajar jika haji mabrur “balasannya tiada lain selain surga” (HR. Bukhari no. 1773).

(Bersambung…)

###

Ingin menulis untuk Kesan dan berbagi ilmu yang berguna? Tunggu apa lagi? Sebab berbagi ilmu itu bukan hanya indah, tetapi juga berpahala. Kirim artikelmu ke salam@kesan.id.

Bagikan artikel ini

Berita terkait