Berita KESAN

  • Redaksi Kesan
  • Artikel
  • Kamis, 14 Januari 2021

Tanya Kiai: Berdoa Setelah Shalat?

Pertanyaan (Teguh, bukan nama sebenarnya):

Saya pernah membaca artikel Islami yang mengatakan bahwa berdoa setelah shalat tidak disyaratkan oleh agama, yang disyariatkan itu zikir. Justru berdoa itu harusnya di dalam shalat (sebelum salam). Apa betul demikian? 

Jawaban (Kiai Muhammad Hamdi):

Rasulullah ﷺ pernah ditanya terkait waktu mustajab berdoa. Beliau ﷺ menjawab: 

جَوْفُ اللَّيْلِ الآخِرُ وَدُبُرَ الصَّلَوَاتِ الْمَكْتُوبَاتِ

Doa di tengah malam terakhir dan akhir shalat wajib (HR. Tirmidzi No. 3499; hadis hasan menurut Imam Tirmidzi dan Imam Ibnu Hajar Al-’Asqalani). 

Para ulama berbeda pendapat apakah yang dimaksud di akhir shalat wajib itu di ujung shalat (sebelum salam) atau setelah shalat. 

Ulama yang berpendapat disyariatkan doa di ujung shalat (sebelum salam) 

Seorang ulama mazhab Hanbali, Syeikh Ibnu Qayyim Al-Jauziyah (w. 1350 M) di dalam kitabnya Zad Al-Ma’ad menuliskan bahwa yang di maksud dengan kata “akhir shalat wajib” dalam hadis tadi adalah sebelum salam. 

Syeikh Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, sebagaimana pendapat gurunya Ibnu Taimiyah, menjelaskan bahwa diksi “وَدُبُرَ الصَّلَوَاتِ” mengandung arti “di akhir shalat”.

Beliau beranggapan bahwa kata “دُبُر” menunjukkan bahwa ia merupakan bagian di dalam sesuatu, bukan di luar sesuatu. 

وَأَوْصَى مُعَاذًا أَنْ يَقُولَ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ «اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ». وَدُبُرُ الصَّلَاةِ يَحْتَمِلُ قَبْلَ السَّلَامِ وَبَعْدَهُ، وَكَانَ شَيْخُنَا يُرَجِّحُ أَنْ يَكُونَ قَبْلَ السَّلَامِ، فَرَاجَعْتُهُ فِيهِ، فَقَالَ: دُبُرُ كُلِّ شَيْءٍ مِنْهُ، كَدُبُرِ الْحَيَوَانِ

Beliau ﷺ berpesan kepada Mu’adz untuk mengucapkan di dalam “dubur” setiap shalat, ‘Ya Allah, tolonglah aku atas menyebut-Mu, menyukuri-Mu, dan beribadah yang baik kepada-Mu.’ “Dubur” shalat mungkin bermakna sebelum salam atau setelahnya. Guru kami menilai kuat bahwa “dubur shalat” adalah sebelum salam, maka aku mengonfirmasikannya kepada beliau lalu beliau berkata, ‘Dubur segala sesuatu adalah bagian darinya seperti halnya dubur hewan (adalah bagian dari hewan)’.

Pendapat serupa juga disampaikan oleh ulama kontemporer Arab Saudi Ibnu Al-Utsaimin. Di dalam kitabnya Syarh Riyadh Ash-Shalihin beliau menyatakan:

وَلَيْسَ الْمُرَادُ بِأَدْبِارِ الصَّلَوَاتِ هِيَ مَا بَعْدَ السَّلَامِ لِأَنَّ مَا بَعْدَ السَّلَامِ فِي الصَّلَوَاتِ هُوَ لَيْسَ مَحَلَّ دُعَاءٍ إِنَّمَا هُوَ مَحَلُّ ذِكْرٍ لِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلَاةَ فَاذْكُرُوْا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُوْدًا وَعَلَى جُنُوْبِكُمْ. وَلَكِنَّ الْمُرَادَ بِأَدْبَارِ الصَّلَوَاتِ الْمَكْتُوْبَةِ أَوَاخِرُهَا

Yang dikehendaki dengan “dubur shalat” bukanlah setelah salam, karena setelah salam shalat bukan tempat berdoa, melainkan tempatnya zikir karena firman Allah (yang artinya): ‘Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat (mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring’ (QS. An-Nisa [4]: 103). Namun, yang dimaksud “dubur shalat wajib” adalah akhir shalat.

Adapun terkait firman Allah QS. An-Nisa [4]: 103. Dalam ilmu Ushul Fikih pendapat Ibnu Al-Utsaimin dinamakan mafhum mukhalafah, yaitu pemahaman yang diperoleh dari makna nash (dalil Al-Qur’an) yang sebaliknya. Di ayat tersebut, Allah memerintahkan agar berzikir apabila selesai shalat, sehingga mafhum mukhalafah dari ayat itu adalah “apabila selesai shalat jangan berdoa” atau “selain setelah shalat janganlah berzikir”.

Bahkan Ibnu Al-Utsaimin menambahkan apabila yang menyertainya adalah doa, maka itu dilakukan sebelum salam sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ. 

Rasulullah ﷺ bersabda:

ثُمَّ يَتَخَيَّرُ مِنَ الدُّعَاءِ أَعْجَبَهُ إِلَيْهِ فَيَدْعُو

Kemudian ia (orang yang shalat) bisa memilih dari doa yang paling ia senangi, lalu berdoa (HR. Bukhari no. 835).

Ulama yang berpendapat disyariatkan doa setelah shalat 

Salah satu dalil kuat disyariatkannya doa setelah shalat ada di Sahih Bukhari. Imam Bukhari secara jelas menulis bab khusus berjudul:

باب الدُّعَاءِ بَعْدَ الصَّلاَةِ

Bab doa setelah shalat. 

Di sana beliau juga meriwayatkan dua doa yang dibaca setelah shalat. 

تُسَبِّحُونَ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ عَشْرًا، وَتَحْمَدُونَ عَشْرًا، وَتُكَبِّرُونَ عَشْرًا

Yaitu kalian bertasbih seusai shalat sebanyak sepuluh kali, bertahmid sebanyak sepuluh kali, dan  bertakbir sebanyak sepuluh kali (HR. Bukhari no. 6329). 

Di sini Imam Bukhari mengartikan kata ‘dubur’ sebagai setelah shalat. 

Selanjutnya dalam riwayat lainnya: 

انَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا قَضَى الصَّلاَةَ قَالَ ‏ ‏ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ اللَّهُـمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ وَلاَ يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ 

Ketika Rasulullah ﷺ selesai shalat, beliau ﷺ berdoa, “'Tiada Zat yang berhak disembah selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya. Dia yang mempunyai kekuasaan dan segala pujian. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, tiada yang bisa menghalangi apa yang Engkau berikan dan tiada yang bisa memberi apa yang Engkau halangi. Tidaklah bermanfaat kekayaan dan harta benda dari-Mu bagi pemiliknya” (HR. Nasa’i no. 1341, Muslim no. 593, Bukhari no.  6330).

Menyikapi pernyataan tentang tidak adanya syariat berdoa setelah shalat, ulama ahli hadis bermazhab Syafii Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqalani meluruskan beberapa pengikut mazhab Hanbali yang kurang tepat memahami maksud dari Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Beliau menyatakan:

وَفَهِمَ كَثِيرٌ مِمَّنْ لَقِينَاهُ مِنَ الْحَنَابِلَة أَنَّ مُرَادَ بْنِ الْقَيِّمِ نَفْيُ الدُّعَاءِ بَعْدَ الصَّلَاةِ مُطْلَقًا وَلَيْسَ كَذَلِكَ فَإِنَّ حَاصِلَ كَلَامِهِ أَنَّهُ نَفَاهُ بِقَيْدِ اسْتِمْرَارِ اسْتِقْبَالِ الْمُصَلِّي الْقِبْلَةَ وَإِيرَادِهِ بَعْدَ السَّلَامِ وَأَمَّا إِذَا انْتَقَلَ بِوَجْهِهِ أَوْ قَدَّمَ الْأَذْكَارَ الْمَشْرُوعَةَ فَلَا يَمْتَنِعُ عِنْدَهُ الْإِتْيَانُ بِالدُّعَاءِ حِينَئِذٍ

Banyak orang yang kami temui dari mazhab Hanbali memahami bahwa yang dikehendaki oleh Ibnu Al-Qayyim adalah meniadakan doa setelah shalat secara mutlak, padahal tidak demikian. Sesungguhnya kesimpulan ucapannya bahwa ia meniadakan doa dengan catatan orang yang shalat masih menghadap kiblat dan membacanya setelah salam. Adapun jika orang yang shalat telah berpindah (menghadap) dengan wajahnya atau ia mendahulukan zikir-zikir yang disyari’atkan, maka tidak terlarang menurutnya (Ibnu Al-Qayyim) melakukan doa ketika itu.

Ulama India Syeikh Abdurrahman Al-Mubarakfuri (w. 1934 M) di dalam Tuhfah Al-Ahwadzi juga menanggapi hal tersebut dengan mengatakan:

قُلْتُ لَا رَيْبَ فِي ثُبُوتِ الدُّعَاءِ بَعْدَ الِانْصِرَافِ مِنَ الصَّلَاةِ الْمَكْتُوبَةِ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَوْلًا وَفِعْلًا وَقَدْ ذَكَرَهُ الحافظ بن الْقَيِّمِ أَيْضًا فِي زَادِ الْمَعَادِ حَيْثُ قَالَ فِي فَصْلِ مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ بَعْدَ انْصِرَافِهِ مِنَ الصَّلَاةِ

Aku berkata, ‘Tidak ada keraguan dalam validnya berdoa setelah selesai shalat wajib dari Rasulullah ﷺ, baik secara ucapan maupun perbuatan’. Al-Hafizh Ibnu Al-Qayyim sendiri juga menyebutkannya di dalam Zad al-Ma’ad tatkala ia berkata dalam sub bab “Sesuatu yang diucapkan Rasulullah ﷺ setelah selesai shalat”.

Bahkan para ulama mazhab Hanbali, selain Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dan Ibnu Al-Utsaimin, menghukumi berdoa setelah shalat adalah perkara sunnah. Sebagaimana yang diungkapkan oleh ulama ahli hadis dan fikih Syeikh Ibnu Rajab Al-Hanbali (w. 1393 M) di dalam karyanya Fath Al-Bari :

وَاسْتَحَبَّ أَيْضاً أَصْحَابُنَا وَأَصْحَابُ الشَّافِعِيِّ الدُّعَاءَ عَقِبَ الصَّلَوَاتِ

Ashhab (ulama-ulama) kami dan ulama-ulama Mazhab Syafii juga menyunnahkan berdoa setelah shalat.

Sejatinya, banyak sekali hadis yang menggunakan diksi “دُبُر” dan kata tersebut memiliki makna setelah selesai shalat. Di antaranya adalah salah satu hadis yang diriwayatkan oleh Ka'b bin 'Ujra

Rasulullah ﷺ bersabda:

مُعَقِّبَاتٌ لَا يَخِيبُ قَائِلُهُنَّ أَوْ فَاعِلُهُنَّ دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ مَكْتُوبَةٍ، ثَلَاثٌ وَثَلَاثُونَ تَسْبِيحَةً، وَثَلَاثٌ وَثَلَاثُونَ تَحْمِيدَةً، وَأَرْبَعٌ وَثَلَاثُونَ تَكْبِيرَةً

Bacaan-bacaan penyerta (segala sesuatu) yang tidak merugikan orang yang melakukannya atau orang yang mengucapkannya setelah setiap shalat wajib adalah 33 kali tasbih, 33 kali tahmid, dan 34 kali takbir (HR. Muslim no. 596).

Ulama dan ahli sejarah Syeikh Ibnu Atsir (w. 1233 M) menafsirkan bahwa maksud dari hadis di atas adalah bacaan-bacaan yang dibaca setelah selesai shalat, bukan di dalam shalat. Demikian pula ulama bermazhab Syafii Imam Jalaluddin As-Suyuthi (w. 1505 M), beliau berkata:

سُمِّيَتْ مُعَقِّبَاتٍ لِأَنَّهَا تُعَادُ مَرَّةً بَعْدَ مَرَّةٍ أَوْ لِأَنَّهَا تُقَالُ عَقِبَ الصَّلَاةِ وَالْعَقِبُ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ مَا جَاءَ عَقِبَ مَا قَبْلَهُ

(Bacaan-bacaan ini) dinamakan “mu’aqqibat” karena ia diulang berkali-kali atau karena ia diucapkan setelah shalat. Al-‘Aqib dari segala sesuatu adalah satu hal yang datang setelah satu hal sebelumnya.

Tidak ada ulama yang mengatakan bahwa bacaan 33 kali tasbih, 33 kali tahmid, dan 34 kali takbir ini dibaca sebelum salam. 

Imam Syafii berkata dalam kitabnya Al-Umm:

وَأَسْتَحِبُّ لِلْمُصَلَّى مُنْفَرِدًا وَلِلْمَأْمُومِ أَنْ يُطِيلَ الذِّكْرَ بَعْدَ الصَّلَاةِ وَيُكْثِرَ الدُّعَاءَ رَجَاءَ الْإِجَابَةِ بَعْدَ الْمَكْتُوبَةِ

Disunnahkan bagi orang yang shalat sendirian dan makmum untuk memanjangkan zikir setelah shalat dan memperbanyak doa karena mengharapkan terkabul setelah shalat wajib.

Kesimpulan

Sahabat KESAN yang budiman, sejatinya berdoa adalah salah satu cara seorang hamba berkomunikasi dengan Tuhannya. Berdoa sebelum salam ada dalilnya, begitu pula berdoa setelah shalat. 

Sehingga, apabila sahabat ingin berdoa ketika setelah shalat maka itu bagus. Dan bila sahabat ingin berdoa sebelum salam ketika shalat pun tidak masalah.

Spesial untuk Sahabat KESAN yang baik, insyaAllah minggu depan Tim KESAN akan menerbitkan Booklet zikir dan doa setelah shalat. Jadi pastikan Sahabat KESAN sudah Log in ke Aplikasi KESAN untuk mendapatkan booklet secara gratis. Selamat mengamalkan, semoga bermanfaat. 

Wallahu a’lam bi ash-shawabi.

Referensi: Zad All-Ma’ad; Ibnu Qayyim Al-Jauziyah; Fath Al-Bari; Ibnu Hajar Al-Asqalani; Fath Al-Bari; Ibnu Rajab Al-Hanbali; Tuhfah Al-Ahwadzi; Abdurrahman Al-Mubarakfuri; Hasyiah As-Suyuthi ‘ala Sunan an-Nasa’i; Jalaluddin As-Suyuthi; Subul As-Salam; Ash-Shan’ani; Al-Majmu’; An-Nawawi; Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an; Al-Qurthubi.

###

*Jika artikel di aplikasi KESAN dirasa bermanfaat, jangan lupa share ya. Semoga dapat menjadi amal jariyah bagi kita semua. Aamiin. Download atau update aplikasi KESAN di Android dan di iOS. Gratis, lengkap, dan bebas iklan. 

**Punya pertanyaan terkait Islam? Silakan kirim pertanyaanmu ke salam@kesan.id 

Bagikan artikel ini

Berita terkait