Berita KESAN

  • Redaksi Kesan
  • Artikel
  • Jumat, 16 Agustus 2019

Tanya Kiai: Bid’ah-kah Memperingati HUT RI?

Oleh: Ustaz Abdul Walid, alumnus Ma’had Aly, PP Syalafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo

Pertanyaan:

Saya seorang santri dan mahasiswa. Banyak teman-teman di kampus saya mengatakan bahwa ikut kegiatan Hari Ulang Tahun (HUT) RI itu bid'ah. Saya tanya ke dosen hanya dijawab perspektif kenegaraan. Saya ingin tahu pandangan Islam soal HUT RI. Benarkah itu bid’ah?

Jawaban: 

Tidak ada satupun dalil yang qath’iy (jelas dan pasti) dalam ajaran Islam yang menyinggung tentang hukum memperingati HUT atau hari kemerdekaan suatu negara, baik dalil yang mengharamkan ataupun yang dalil yang menghalalkan. Akan tetapi, mengungkapkan rasa bahagia, saling memberi selamat atas nikmat yang diberikan Allah merupakan tradisi yang sudah mengakar kuat sejak era sahabat Rasulullah ﷺ. 

Dalam Al-Quran surah Yunus ayat 58 Allah berfirman:

قُلۡ بِفَضۡلِ ٱللَّهِ وَبِرَحۡمَتِهِۦ فَبِذَ ٰلِكَ فَلۡیَفۡرَحُوا۟ هُوَ خَیۡر مِّمَّا یَجۡمَعُونَ

Katakanlah! Muhammad! Dengan karunia Allah (Islam) dan Rahmat Allah (Al-Quran) hendaklah dengan itu semua mereka seharusnya bergembira, hal itu lebih baik dari pada apa yang mereka kumpulkan (berupa harta duniawi)

Mari kita renungkan sejenak tentang beragam hikmah dari merdekanya negeri ini. Bukankah kemerdekaan negeri ini dari penjajahan adalah bentuk rahmat dan nikmat dari Allah SWT yang layak kita syukuri? 

Dengan merdekanya Republik Indonesia, kita sebagai warga Indonesia, memiliki kebebasan untuk mengatur negerinya sendiri, termasuk kita umat Islam yang mayoritas. 

Kita juga tidak bisa memungkiri sejumlah perkembangan positif bagi umat Islam semenjak Republik Indonesia keluar dari belenggu penjajahan Belanda dan Jepang. Negeri ini menjadi relatif damai, umat Islam bisa menjalankan ibadahnya dengan aman dan damai, tanpa dihinggapi rasa takut maupun intimidasi. 

Di zaman penjajahan Belanda, misalnya, umat Islam di Indonesia dilarang menerjemahkan Al-Quran sehingga kebanyakan umat Islam kala itu hanya bisa menghafal bahasa Arab-nya saja tanpa mengerti kandungan nilai-nilai dalam Al-Quran.

Alhamdulillah dengan adanya kemerdekaan, sekarang ini kita bisa mencari terjemahan Al-Quran di toko buku terdekat, kemudian menggali Al-Quran serta mempelajari Islam secara bebas. Dan banyak nikmat lainnya yang bisa kita rasakan jika kita mau sedikit saja melakukan perenungan. 

Memang, lazimnya kita hidup di dunia, ketidaksempurnaan itu akan selalu ada. Kesulitan-kesulitan bisa hadir dalam hidup kita—termasuk dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Namun, apakah kesulitan-kesulitan itu sepadan dibanding nikmat kemerdekaan yang diberikan Allah kepada kita sehingga kita enggan mensyukurinya?

Sekali lagi, memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia adalah bagian ungkapan rasa syukur atas nikmat Allah SWT. Dan, sebagai umat Islam dan warga negara yang baik, sudah sepatutnya pula kita menjaga nikmat kedaulatan ini dengan harapan Allah menambahkan kenikmatan lainnya sebagai sebuah bangsa.

Memperhatikan nilai-nilai positif ini, juga mengingat tidak adanya hukum yang tegas mengenai halal-haram memperingati hari kemerdekaan, kita dapat menghukuminya mubah atau boleh.

Kita dapat menggunakan kaidah usul fikih maslahah mursalah (kemaslahatan yang tidak jelas dalil halal-haramnya), sebagai alat untuk mengambil pendapat hukum tentang nilai-nilai baik yang tidak terdapat keterangan yang pasti dan jelas dalam Al-Quran dan hadis Rasulullah ﷺ. 

Ketika nilai-nilai ini (memperingati HUT RI) tidak pernah disinggung halal-haramnya oleh dua sumber utama hukum Islam, maka merayakannya bisa dihukumi mubah.

Marilah sejenak kita merujuk kitab kuning warisan ulama salaf: 

تتمة قال القمولي لم أر لأحد من أصحابنا كلاما في التهنئة بالعيد والأعوام والأشهر كما يفعله الناس لكن نقل الحافظ المنذري عن الحافظ المقدسي أنه أجاب عن ذلك بأن الناس لم يزالوا مختلفين فيه والذي أراه أنه مباح لا سنة فيه ولا بدعة

وأجاب الشهاب ابن حجر بعد اطلاعه على ذلك بأنها مشروعة واحتج له بأن البيهقي عقد لذلك بابا فقال باب ما روي في قول الناس بعضهم لبعض في العيد تقبل الله منا ومنك

............وبما في الصحيحين عن كعب بن مالك في قصة توبته لما تخلف عن غزوة تبوك أنه لما بشر بقبول توبته ومضى إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقام إليه طلحة بن عبيد الله فهنأه

Tatimmah (keterangan pelengkap) Imam Al-Qamuliy berkata, "Saya tidak pernah mendengar satu pun pendapat/komentar dari ashhab syafii (para pengikut dan sekaligus santri Imam Syafii) tentang ucapan selamat ulang tahun atau selamat hari raya dan lain sebagainya, seperti yang sudah lumrah dilakukan masyarakat pada umumnya, tetapi Al-Hafidh Al-Mundziri mengutip Al-Hafidh Al-Muqaddasi bahwa beliau pernah memberikan tanggapan soal HUT. Bahwa ulama tidak sepakat soal hal itu, kata Al-hafidh Al-Muqaddasi. Menurut pendapatku mengadakan perayaan hari ulang tahun (HUT) hukumnya mubah (boleh, bukan sunnah, bukan pula bid’ah)."  

Syihab Ibnu Hajar setelah menelaah lebih lanjut dimensi sosial dan agama yang ada dalam HUT berpendapat bahwa perayaan HUT termasuk disyariatkan dalam Islam. Beliau berdalih atas apa yang dilakukan oleh Imam Baihaqi yang secara khusus menaruh bab khusus tentang ucapan selamat yang biasa diucapkan menjelang atau saat lebaran: taqabbalallahu minna wa minkum. 

Hal ini didukung oleh kisah pertobatan Ka’ab bin Malik saat ia mundur dari medan tempur perang Tabuk dan ia bergembira setelah mendengar pertobatannya diterima, bergegaslah ia pergi menemui Rasulullah ﷺ. Melihat Ka’ab, Thalhah bin Abdullah pun berdiri seraya memberi ucapan selamat kepada Ka’ab bin Malik.

Kesimpulannya, memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia, hukumnya boleh.

Wallahu a’lam bishshawab.

Referensi: Iqna fi halli Alfadz al-Taqrib I/279, Bujairimi ‘ala al-Khatib V/426.

###

*Punya pertanyaan terkait Islam? Jangan ragu mengirimkannya kepada kami di salam@kesan.id. InsyaAllah akan kami teruskan kepada para ustaz dan kiai untuk dicarikan jawabannya. 

Bagikan artikel ini

Berita terkait